SERANG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menggelar Karya Kreatif Banten (KKB) x Banten Investment Forum (BIF) 2026 pada 9–11 Oktober 2026 di Ballroom DoubleTree by Hilton Jakarta Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.
Kegiatan ini menjadi upaya memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus mendorong realisasi investasi berkualitas di Provinsi Banten.
Mengusung tema “Mengoptimalkan Potensi Penyangga Megapolitan melalui Investasi Berkualitas dan Penguatan Ekosistem UMKM untuk Mendorong Daya Saing Banten”, kegiatan tersebut diarahkan untuk memperluas akses pasar UMKM, memperkuat kemitraan usaha, serta menghubungkan potensi ekonomi daerah dengan kebutuhan investor.
Penyelenggaraan KKB x BIF 2026 dilatarbelakangi pentingnya penguatan ekonomi daerah di tengah dinamika perekonomian dan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif serta berkelanjutan.
Secara nasional, UMKM berjumlah lebih dari 64 juta unit usaha atau sekitar 99 persen dari total unit usaha. Sektor ini berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Meski demikian, peningkatan produktivitas, inovasi, digitalisasi, akses pembiayaan, dan perluasan pasar masih menjadi tantangan dalam meningkatkan daya saing UMKM.
Di Provinsi Banten, pengembangan UMKM dan investasi ditopang oleh posisi strategis sebagai wilayah penyangga megapolitan Jakarta, keberadaan kawasan industri di wilayah utara, serta potensi alam dan budaya di wilayah selatan.
Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui kolaborasi lintas sektor, terutama untuk menghubungkan UMKM dengan kebutuhan pasar dan rantai pasok industri.
Dengan begitu, investasi yang masuk diharapkan mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dari sisi investasi, Banten mencatat realisasi sebesar Rp130,2 triliun sepanjang 2025 atau mencapai 108,95 persen dari target, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 214.216 orang.
Sementara itu, pada semester I 2026, realisasi investasi Banten mencapai Rp66,3 triliun atau 46,63 persen dari target tahunan sebesar Rp142,19 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi investasi di Banten. Namun, upaya mendorong investasi tidak cukup hanya dengan membuka peluang dan membangun komitmen.
Kesiapan ekosistem usaha serta penyelesaian berbagai hambatan investasi juga diperlukan agar komitmen tersebut dapat berlanjut hingga tahap realisasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Sofwan Kurnia, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan investor untuk memperkuat daya saing UMKM sekaligus mendorong investasi berkualitas di Banten.
“Penguatan UMKM dan peningkatan investasi perlu berjalan beriringan. UMKM tidak hanya harus mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produknya, tetapi juga perlu memiliki akses pasar yang lebih luas serta kesempatan untuk terhubung dengan rantai pasok industri,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan UMKM perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas produk dan kapasitas usaha hingga digitalisasi, perluasan akses pembiayaan, serta pengembangan pasar.
“Melalui KKB x BIF 2026, kami berharap potensi UMKM dan investasi di Banten dapat dioptimalkan sehingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem UMKM yang terintegrasi dari hulu hingga hilir serta menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Pengembangan UMKM perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas usaha, kualitas dan daya saing produk, digitalisasi, perluasan akses pembiayaan dan pasar, serta penguatan kemitraan. Dengan demikian, UMKM Banten diharapkan dapat naik kelas dan terhubung dengan rantai pasok yang lebih luas.
Investasi berkualitas juga diharapkan tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi turut membuka lapangan kerja, melibatkan pelaku usaha lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Upaya tersebut sejalan dengan kinerja perekonomian Banten yang tumbuh 5,49 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Selain itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi sebesar 30,97 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Banten pada 2025.
Melalui KKB x BIF 2026, penguatan UMKM dipadukan dengan upaya meningkatkan kesiapan ekosistem investasi dan mempercepat realisasi penanaman modal.
Forum ini tidak hanya mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dan investor, tetapi juga memperkuat daftar proyek investasi potensial (investment pipeline) serta mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor yang sesuai.
Selain itu, forum tersebut menjadi wadah untuk mengidentifikasi dan mendorong penyelesaian hambatan investasi, termasuk persoalan lahan dan tata ruang. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara potensi daerah, kebutuhan investor, dan kapasitas UMKM lokal.
Rangkaian kegiatan KKB x BIF 2026 meliputi pameran produk UMKM (showcase), penjajakan kerja sama bisnis (business matching) dengan pembeli domestik dan internasional, The Brewtiful Banten Experience, serta Banten Creative Runway.
Kegiatan juga dilengkapi dengan talk show, edukasi, dan berbagai kompetisi kreatif untuk meningkatkan eksposur produk sekaligus mendorong pengembangan kapasitas pelaku UMKM.
Melalui rangkaian tersebut, pelaku usaha diharapkan dapat memperluas jejaring, meningkatkan kualitas produk, dan menjajaki kemitraan yang berkelanjutan.
Dalam rangkaian pembukaan, sejumlah perusahaan turut menandatangani Investment Letter of Intent atau surat pernyataan minat investasi. Perusahaan tersebut meliputi Raybo Co. Limited, PT Winda Industrial Indonesia, PT Tukaka Craftwork Indonesia, PT Mingcheng Knitting Indonesia, PT Dragon Soar Industrial, dan PT Yuchuang Biotechnology Indonesia.
Penandatanganan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat penjajakan investasi di Provinsi Banten. Namun, tindak lanjut atas komitmen tersebut tetap menjadi faktor penting untuk memastikan peluang investasi dapat berlanjut hingga tahap realisasi.
Agenda lainnya mencakup penandatanganan nota kesepahaman antara Modern Cikande dan Yayasan APINDO untuk APINDO Daya dalam penguatan sumber daya manusia vokasi. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan komitmen bersama untuk mempercepat penyelesaian hambatan investasi yang melibatkan Bank Indonesia Provinsi Banten, Kementerian ATR/BPN, BPN Provinsi Banten, DPMPTSP Provinsi Banten, dan Gubernur Banten.
Melalui penyelenggaraan KKB x BIF 2026, Bank Indonesia dan Pemprov Banten berupaya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, investor, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya dalam membangun ekosistem ekonomi yang produktif, inklusif, dan berdaya saing.
Keberhasilan upaya tersebut akan ditentukan oleh tindak lanjut yang konsisten, kesiapan ekosistem pendukung, serta kemampuan menghubungkan investasi dengan potensi ekonomi lokal.
Dengan demikian, penguatan UMKM dan investasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan promosi dan penandatanganan komitmen, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi yang dirasakan secara luas oleh masyarakat Banten.***