LEBAK – Di balik hiruk-pikuk aktivitas masyarakat di Kabupaten Lebak, terdapat kisah perjuangan sebuah keluarga kecil yang hidup dalam keterbatasan.
Ridwan (41), warga Kampung Sindangsono, Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, bersama istri dan dua anaknya yang masih balita, harus menjalani kehidupan di sebuah bangunan bekas budidaya jamur yang kini dijadikan tempat tinggal.
Bangunan sederhana yang dahulu digunakan untuk usaha jamur tiram itu telah menjadi rumah bagi keluarga Ridwan selama kurang lebih tiga tahun terakhir.
Dengan kondisi yang jauh dari kata layak, tempat tersebut menjadi saksi perjuangan mereka menghadapi kerasnya kehidupan sehari-hari.
Ridwan diketahui bekerja serabutan. Namun pekerjaan yang dijalaninya tidak menentu karena bergantung pada ada atau tidaknya orang yang menawarkan pekerjaan.
Ketika ada panggilan kerja, ia berangkat untuk mencari nafkah. Namun saat pekerjaan sepi, ia hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya datang.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, sang istri juga turut berjuang mencari penghasilan tambahan.
Setiap hari, ia mengumpulkan barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual untuk dijual kembali sebagai rongsokan.
Menurut informasi yang dihimpun, aktivitas tersebut kerap dilakukan sambil membawa anaknya yang masih kecil.
Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini harus berjuang dengan segala cara yang mereka mampu demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ketua PC IMM Lebak, Madsari, mengaku prihatin setelah mengetahui kondisi keluarga tersebut.
Menurutnya, apa yang dialami Ridwan merupakan potret nyata bahwa masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan perhatian bersama.
“Pak Ridwan bekerja serabutan. Kalau ada yang mengajak bekerja, beliau berangkat. Kalau tidak ada pekerjaan, ya menunggu. Sementara istrinya membantu ekonomi keluarga dengan mengumpulkan barang-barang bekas yang bisa dijual kembali,” ujar Madsari.
Ia menjelaskan, sang istri bahkan kerap terlihat mencari barang bekas di sejumlah titik sambil membawa anaknya.
Pemandangan tersebut, menurutnya, menjadi gambaran beratnya perjuangan keluarga tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidup.
“Kadang istrinya mencari barang bekas sambil membawa anak. Ini tentu menjadi pemandangan yang mengundang keprihatinan. Mereka berjuang semampunya untuk bertahan hidup,” katanya.
Kondisi keluarga Ridwan semakin menjadi perhatian setelah muncul pengakuan bahwa mereka belum pernah menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Namun demikian, informasi tersebut masih perlu diverifikasi dan ditelusuri lebih lanjut oleh instansi terkait sesuai mekanisme yang berlaku.
Bagi Madsari, persoalan yang dialami Ridwan tidak hanya berbicara tentang kondisi rumah yang tidak layak huni, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih dalam aspek kesejahteraan sosial.
“Kisah keluarga ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Yang paling penting adalah memastikan warga yang membutuhkan mendapatkan akses terhadap program-program bantuan yang memang disediakan pemerintah,” ujarnya.
Di tengah segala keterbatasan, Ridwan dan istrinya tetap berusaha menjalani kehidupan dengan penuh ketabahan.
Mereka tidak memilih menyerah, meski harus tinggal di bangunan bekas kandang jamur dan mengandalkan penghasilan yang tidak menentu dari pekerjaan serabutan serta hasil penjualan barang rongsokan.
Bagi keluarga kecil ini, setiap hari adalah perjuangan. Setiap rupiah yang diperoleh dari kerja serabutan maupun barang bekas menjadi harapan untuk memenuhi kebutuhan dua anak mereka yang masih membutuhkan perhatian dan masa depan yang lebih baik.
Kisah Ridwan menjadi potret bahwa di balik berbagai perkembangan pembangunan, masih terdapat warga yang berjuang keras untuk mempertahankan hidup.
Harapan akan kehidupan yang lebih layak kini menjadi impian sederhana yang terus mereka perjuangkan dari hari ke hari.
Sekedar informasi, hasil dari pejuang Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) rumah pasangan tersebut sudah dibangun.
Namun, belum sepenuhnya rampung, sehingga Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) sedang memperjuangkan agar rumah tersebut bisa segera rampung dan pasangan tersebut bisa mendapatkan bantuan sosial. (*/Sahrul).