Antisipasi Maraknya Kejahatan Siber, GOW Cilegon Dorong Literasi Digital Perempuan
CILEGON – Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Cilegon, Nur Kusuma Ngarasati, mendorong organisasi perempuan untuk lebih masif mengedukasi anggotanya terkait literasi digital.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan pemberdayaan perempuan yang digelar pada Selasa (21/4/2026), sebagai respons atas meningkatnya risiko kejahatan digital yang menyasar kelompok perempuan.
Dalam kegiatan itu, Raras menekankan pentingnya pemahaman praktis bagi ibu-ibu dalam menghadapi aktivitas digital sehari-hari.
Ia menilai, meskipun sebagian sudah memiliki kesadaran untuk berhati-hati, namun belum memahami langkah pencegahan secara konkret.
“Kadang ibu-ibu ini tahu harus berhati-hati, tapi belum tahu langkah pencegahannya seperti apa,” ujar istri Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, tersebut.
Ia menjelaskan, salah satu persoalan yang kerap terjadi adalah ketidaktahuan dalam menentukan data pribadi apa saja yang aman dibagikan saat mengakses layanan digital.
“Ketika mendaftarkan sesuatu, apakah harus memberikan email atau nomor telepon, atau sebaiknya bagaimana. Di keseharian, ibu-ibu sering tidak tahu. Tadi sudah dijelaskan, misalnya lebih baik membuat email khusus untuk pendaftaran tertentu,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti maraknya modus penipuan melalui tautan digital, termasuk undangan acara yang disebarkan melalui pesan singkat atau aplikasi perpesanan.
“Undangan pernikahan sekarang banyak dikirim lewat link. Ternyata itu bukan dari pihak yang mengadakan acara. Sudah banyak kasus seperti itu yang mengakibatkan pencurian data, bahkan pembobolan rekening,” katanya.
Menurutnya, edukasi mengenai langkah awal saat terlanjur mengakses tautan mencurigakan juga menjadi bagian penting dalam literasi digital yang perlu dipahami masyarakat.
“Tadi juga ditekankan, kalau sudah terlanjur masuk ke link tersebut, apa yang harus dilakukan pertama kali. Misalnya segera mengaktifkan mode pesawat (airplane mode), lalu langkah pencegahan berikutnya,” ujarnya.
Raras turut mengingatkan bahwa perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) membawa tantangan baru, terutama dalam membedakan konten asli dan manipulasi digital.
“Sekarang banyak yang belum tahu cara membedakan mana yang real dan mana yang hasil AI. Padahal AI bisa disalahgunakan sampai sejauh itu,” tuturnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang diskusi antaranggota untuk berbagi pengalaman terkait penggunaan teknologi digital.
“Di sini kami ingin membangun awareness, sekaligus berbagi pengalaman bagaimana membedakan informasi digital dan hoaks,” tambahnya.
Raras berharap, melalui edukasi yang berkelanjutan, perempuan di Kota Cilegon semakin cerdas dalam menyaring informasi serta terhindar dari berbagai bentuk kejahatan digital.
“Harapannya, ibu-ibu di organisasi wanita Kota Cilegon lebih pintar memfilter mana link yang aman dan mana yang penipuan,” pungkasnya. (*/ARAS)


