Wisata Anyer

Badan Geologi Pastikan Video Erupsi Anak Krakatau yang Beredar di Medsos adalah Hoaks

PLN Banten HUT Bhayangkara

CILEGON – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan video yang beredar di media sosial dan diklaim memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal merupakan informasi tidak benar atau hoaks.

Informasi tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan resmi Badan Geologi Nomor 1159.Lap/GL.03/BGL/2026 tertanggal 4 Juli 2026.

“Setelah dilakukan verifikasi, video tersebut bukan merupakan rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini, sehingga informasi tersebut merupakan hoaks (tidak benar),” dikutip dalam keterangan resminya.

Berdasarkan hasil pemantauan Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami dua kali erupsi, yakni pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB dan 3 Juli 2026 pukul 11.50 WIB.

Badan Geologi mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan video atau informasi yang belum terverifikasi.

Informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta MAGMA Indonesia.

Selain itu, Badan Geologi juga meluruskan informasi yang beredar mengenai rekomendasi jarak aman Gunung Anak Krakatau.

Informasi yang menyebut radius bahaya mencapai 5 kilometer dipastikan tidak benar.

Saat ini, rekomendasi resmi yang masih berlaku adalah masyarakat, wisatawan, dan nelayan dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Masyarakat diharapkan selalu mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi/PVMBG dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak memiliki sumber yang jelas,” dalam keteranganya.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Pengamatan aktivitas gunung dilakukan melalui dua Pos Pengamatan Gunung Api, yakni di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Badan Geologi mengingatkan bahwa kawasan Selat Sunda memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang signifikan.

Erupsi besar Gunung Krakatau pada 1883 memicu tsunami dahsyat.

Sementara pada 22 Desember 2018, aktivitas vulkanik yang dipicu gempa menyebabkan longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau sehingga memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Sejak peristiwa tersebut, Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi berskala rendah sebagai fase pertumbuhan kembali hingga 16 Desember 2023.

Meski saat ini berada dalam fase jeda erupsi, aktivitas magmatik berenergi rendah masih terus terpantau.

Badan Geologi menegaskan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Oleh karena itu, masyarakat di sekitar gunung, wisatawan, maupun pendaki dilarang memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung serta diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.

Masyarakat yang berada di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang serta tidak mempercayai isu yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami.

Warga diimbau tetap beraktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Untuk memperoleh informasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat dapat mengakses kanal resmi PVMBG, MAGMA Indonesia, maupun media sosial dan situs resmi Badan Geologi.***

PT PCM HUT Bhayangkara
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien