DPRD Cilegon Panggil Vendor Pertamina Depot Gerem, Diduga Ada Pelanggaran Ketenagakerjaan

Pju

CILEGON – Komisi II DPRD Kota Cilegon memanggil vendor Pertamina Depot Gerem yakni, PT Garda Utama Nasional (GUN) yang diduga melanggar aturan ketenagakerjaan lantaran tidak memenuhi hak buruh. Buruh yang merupakan awal mobil tangki (AMT) Pertamina Gerem menuntut hak kompensasi sistem shift kepada perusahaan.

Ketua Komisi II Faturohmi mengatakan kawan-kawan buruh meminta untuk difasilitasi tuntutan mereka, ke lembaga DPRD Kota Cilegon. Karena, sudah empat kali melakukan pertemuan di Disnaker namun buntu.

“Mereka kan driver nuntut extra fooding, masalah kompensasi shift mereka perusahaan minta waktu, kalo yang di-PHK tadi belum dibahas. Kita saat ini masih upayakan agar bisa dipekerjakan kembali,” jelasnya kepada wartawan.

Human Resources Development (HRD) PT GUN Hernofian mengatakan bahwa tuntutan para buruh telah dipenuhi sesuai anjuran dari Disnaker Kota Cilegon. Kata dia, saat ini di PT GUN tidak ada serikatnya, pihaknya juga ingin menyelesaikan masalah dengan para pekerja bukan dengan serikat.

“Sudah dilakukan secara bipartid. Apa anjuran Disnaker, sudah kita laksanakan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Hernofian mengaku, terkait pemberian ekstra fooding telah diberikan. Pihaknya juga telah bekerjasama dengan Pertamina ketika ada pengiriman bahan bakar minyak (BBM) yang berlebih.

Sementara itu, Ketua Serikat Buruh Migas Cilegon Adi Ardian menerangkan bahwa awak mobil tangki yang berstatus perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) di PT GUN tidak pernah menerima salinan kesepakatan kerja dengan PT GUN.

“Kawan-kawan yang kerja 12 jam sehari, kompensasi lemburnya diganti sistem performance atau ritase. Setelah satu tahun berjalan, sistem kerjanya diganti shift, tetapi 12 jam,” terang Adi.

Kata Adi, sistem kerja shift dari pukul 12.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB. Begitu juga shift II dari pukul 00.00 WIB, hingga pukul 12.00 WIB.

“Meski tidak diatur undang-undang, kompensasi atas sistem shift seharusnya diberikan kepada para awak mobil tangki. Selain kompensasi shift, juga harus diberikan eksta fooding,” ujarnya.

Lebih lanjut Adi menerangkan, kompensasi sistem shift tidak diberikan selama empat tahun terakhir. Ekstra fooding seharusnya diberikan untuk memenuhi gizi dan nutrisi para awak mobil tangki.

“Selama ini, dikasih ekstra fooding seperti bancakan. Padahal, seharusnya satu orang satu. Perjanjian kerja di awal kerja kan kerjanya bukan sistem shift, tetapi kenapa setelah kerja dijadikan sistem shift,” tuturnya. (*/A.Laksono).

Royal wedding