Flare Gas Pabrik Kimia Chandra Asri Hasilkan Limbah Gas yang Cemari Udara dan Merusak Atmosfir?

 

CILEGON – Pembakaran gas sisa produksi atau Flare Gas pabrik kimia PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) masih kerap terjadi dan selalu dikeluhkan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik.

Kejadian terbaru Flare Gas yakni berlangsung sejak Selasa hingga Kamis (29/9/2022).

Suara bising dan kobaran api besar disertai asap hitam merupakan pemandangan yang terjadi pada aktivitas Flare Gas pabrik yang berdekatan dengan pemukiman masyarakat di Kota Cilegon maupun di Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, itu.

Untuk diketahui, Flare Gas atau Flare Stack adalah alat pembakar limbah gas berbentuk vertical.

Aktivitas Flare Gas dipastikan menghasilkan emisi gas buang yang berpotensi mencemari udara, dan dalam jangka waktu lama akan membahayakan kesehatan masyarakat di sekitar pabrik.

Jika melihat dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PT Chandra Asri Petrochemical, dijelaskan bahwa Flare Gas pabrik kimia tersebut menghasilkan emisi gas berupa, NOx (Oksida Nitrogen) dan partikulat (debu).

Selain Flare Gas, sumber limbah gas pabrik kimia Chandra Asri juga dihasilkan dari Boiler yang berbahan bakar natural gas, dan menghasilkan gas berupa NOx (Nitrogen Oksida), SOx (Sulfur Oksida), CO (Karbon Monoksida), dan partikulat (debu).

Pabrik kimia CAP diketahui mempunyai 4 unit flare bertekanan tinggi atau high pressure (HP) dengan kapasitas masing-masing HP Flare PE plant 130 Ton/jam, HP Flare PP plant 49,29 Ton/jam, HP Flare Ethylene plant 1100 Ton/jam, dan HP Flare NPE Plant.

Pabrik kimia CAP sejak tahun 2020 juga mengoperasikan enclosed ground flare (EGF) dengan kapasitas 170 T/jam limbah gas. EGF dibangun dengan konstruksi tertutup, pembakaran dan nyala api tidak terlihat dan dilakukan di dalam chamber.

CAP juga menggunakan Flare bertekanan rendah atau low pressure (LP) sebanyak 2 unit, yakni LP Flare PP plant 5 Ton/jam dan LP Flare Ethylene Plant 6 Ton/jam.

Ks nu

Sementara itu, dikutip dari website Kementerian LHK RI, https://menlhk.go.id dari tulisan presentasi PT LAKSEL Teknologi Indonesia (LITE) tentang Perubahan Iklim, secara gamblang mengkampanyekan ‘Stop Global Warming, Menuju Indonesia Bebas Flare Gas Tahun 2050’.

Dalam tulisannya, dinyatakan bahwa Flare Gas (gas suar bakar) saat ini merupakan limbah yang merusak atmosfir dan penyebab kerusakan lingkungan yang berat.

Flare Gas juga menjadi salah satu pemicu terbesar naiknya temperatur bumi, akibat gas rumah kaca yang dihasilkan.

Pemerintah Indonesia sendiri diketahui menjadi salah satu negara yang mendukung inisiatif Zero Routine Flaring by 2030.

Aktivitas Flare Gas ini sudah sangat sering terjadi, namun yang membuat masyarakat sekitar pabrik mengaku sangat heran, yakni setiap kali kejadian tersebut manajemen PT Chandra Asri tidak berusaha melakukan koordinasi yang baik dengan masyarakat terdampak.

Akhmad Dolasani, Sekretaris Karang Taruna Desa Kosambironyok, Kecamatan Anyar, mengingatkan bahwa Flare Gas merupakan aktivitas pencemaran lingkungan, dan tidak bisa dianggap sesuatu yang biasa dan bebas dilakukan oleh industri dalam jangka panjang.

“Masyarakat harus tahu, bahwa Flare Gas itu menghasilkan limbah yang merusak atmosfir dan penyebab serius terjadi kerusakan lingkungan dan pemanasan global. Jangan dianggap ini peristiwa biasa-biasa saja.

Kondisi ini harus dianggap serius dan diupayakan antisipasinya seperti apa ke depan, dan bagaimana koordinasi yang baik antara perusahaan dengan warga terdampak,” tegas Dolas kepada Fakta Banten, Rabu (28/9/2022).

Dollas mengungkapkan bahwa saat ini kondisi lingkungan di wilayah tempat tinggalnya sudah mengalami penurunan kualitas, sejak keberadaan pabrik kimia tersebut.

“Bukan hanya udara yang sudah tidak sehat karena limbah gas dan lain-lain yang dihasilkan dari industri kimia. Bahkan kualitas tanah pertanian hingga air laut di wilayah Anyer ini sekarang sudah menurun, hasil tanam dan ikan-ikan atau biota laut akibat jangka panjang keberadaan industri, sekarang sudah sangat turun kualitasnya,” jelas Dolas.

“Teorinya adalah limbah gas atau emisi gas rumah kaca yang dihasilkan flare gas atau boiler pabrik kimia Chandra Asri itu jika keluar saat hujan atau udara lembab membuat gas turun mencapai tanah, termasuk apabila terbawa oleh air hujan ke laut maka dapat mempengaruhi pH air laut,” imbuh Dolas. (*/Wan)

Cibeber nu