Kepsek SMPN 11 Cilegon Bantah Isu Transaksional dalam Pelaksanaan SPMB 2025
CILEGON – Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 11 Kota Cilegon, Muhatta, membantah dugaan adanya praktik transaksional dalam pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025 di sekolah yang dipimpinnya.
Ia menyebut bahwa informasi yang beredar di masyarakat terkait adanya transaksi dalam proses penerimaan siswa baru adalah tidak benar.
“Iya, jadi itu simpang siur. Apa yang disampaikan dan diberitakan terkait transaksional itu tidak ada. Tidak pernah ada kegiatan seperti itu,” tegas Muhatta, dalam sambungan telpon, Senin (30/6/2025).
Ia menjelaskan bahwa seluruh proses penerimaan peserta didik baru di SMPN 11 Cilegon dilakukan sesuai aturan yang berlaku, dengan prinsip adil dan normatif sesuai petunjuk teknis pelaksanaan SPMB tahun 2025.
“Saya sendiri sudah menginstruksikan kepada seluruh guru, bahkan panitia SPMB, agar proses ini berjalan sesuai dengan ketentuan. Tidak ada ruang untuk praktik transaksional,” jelasnya.
Muhatta menduga isu tersebut muncul akibat kekecewaan sebagian orang tua siswa yang anaknya tidak lolos seleksi.
Namun ia menekankan bahwa dugaan tersebut tidak berdasar dan tidak dilengkapi dengan bukti yang valid.

“Barangkali karena kecewa, lalu berkembang isu-isu yang tidak benar. Tapi kalau ditanya langsung, siapa yang melakukan atau menerima transaksi, itu tidak ada. Semuanya hanya katanya-katanya,” ujarnya.
Terkait proses seleksi, Muhatta mengakui bahwa jumlah pendaftar jauh melebihi daya tampung sekolah.
Dari total 363 pendaftar, SMPN 11 Cilegon hanya dapat menerima 175 siswa baru.
“Memang karena kuotanya sedikit, sementara pendaftar membeludak, akhirnya banyak yang tidak terakomodasi,” ungkapnya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan SMPN 5 Cilegon yang memiliki kapasitas lebih besar.
“Kalau SMPN 5 itu jumlah kelasnya ada 10, jadi bisa menampung lebih banyak. Sementara kami hanya memiliki lima kelas kosong,” terang Muhatta.
Ia juga menambahkan bahwa lonjakan pendaftar tahun ini disebabkan oleh tingginya angka kelulusan siswa SD di wilayah sekitar sekolah yang melanjutkan ke jenjang SMP.
“Memang tahun ini jumlah lulusan SD yang mendaftar ke SMP sangat luar biasa banyaknya,” tutupnya.(*/Nandi).

