Pantai Hilang, Pemecah Ombak Merak Jadi Alternatif Warga Cilegon untuk Mancing

pcm koperasi

CILEGON – Makin banyaknya pesisir atau garis pantai di Kota Cilegon yang terisolir atau bahkan sudah direklamasi untuk kepentingan industri. Tidak membuat penghobi mancing di kota industri tersebut kehabisan akal untuk terus menyalurkan hobynya.

Mungkin bukan sekadar hoby, karena secara historis sebelum ada industri dan berkembang pesat di Cilegon seperti sekarang ini, nelayan menjadi profesi utama masyarakat Cilegon setelah pertanian. Dan bisa jadi, ada naluri maritim yang secara genetis terwariskan dari generasi ke generasi. Apalagi hal ini didasari dengan garis pantai yang terbentang di Empat kecamatan dari Delapan kecamatan yang ada di Kota Cilegon.

“Pesisir di Cilegon sudah nyaris habis kang, mau mancing saja sekarang sulit. Pilhannya kalau punya duit cater perahu mancing di tengah laut, tapi kalau lagi bokek ya ke sini (Pemecah Ombak),” kata Bahrudin, salah satu pemancing kepada faktabanten.co.id Kamis (12/4/2018).

Diketahui, Pemecah Ombak yang dibangun oleh ASDP Merak untuk menahan ombak atau gelombang ke dermaga, sejak beberapa tahun yang lalu ini berlokasi berhadapan dengan beberapa dermaga utama.

Dari salah satu ujungnya, para pemancing bisa melihat secara dekat keindahan pemandangan Pulau Merak Besar. Selain itu sekitar setengah jam sekali akan terlihat kapal-kapal dari pelabuhan ASDP Merak- Bakauheni Lampung, berlalu lalang.

Banyak jenis teknik pancing yang bisa dilakukan dari atas Pemecah Ombak, dari casting dasaran, casting permukaan, rawean, mancing dan ngobor cumi.

Loading...

“Sering ke Pemecah Ombak mah, apalagi kalau pas musim cumi saya biasanya malam kesananya, Bisa dipancing bisa diserok tapi kita sewa lampu Rp. 20.000;. Kalau lagi dapat banyak bisa 5 Kiloan sampe pagi. Kalau lagi dikit mah sebelum pulang ngerawe dulu buat tambahan ikan-ikan kecil,” kata Sehu, salah satu pemancing yang sering ke Pemecah Ombak.

Dihari biasa, terdapat puluhan pemancing yang berjibaku menaikan ikan Dan pada hari libur akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu bisa mencapai ratusan pemancing yang datang, kalau dilihat dari atas kapal penyebranagan Merak- Bakauheni,
akan terlihat para pemancing dengan joran pancing berjejer disana.

Untuk dapat menuju ke Pemecah Ombak, para pemancing yang biasanya datang secara berkelompok, harus menggunakan jasa antar jemput perahu yang berada di Pangkalan Nelayan Medaksa dan jasa cater perahu di Pantai Mabak atau di bekalang Polsek Pulomerak.

“Bayarnya Rp. 25.000;/ orang, pemancing tinggal telepon kalau ingin dijemput pulang. Kita dulu di dermaga TNI AL sebelah ASDP, tapi sejak ada pembangunan dermaga 7 kita pindah ke Pangkalan Nelayan Medaksa, kita masih beroperasi 24 jam nonstop karena malam juga ramai yang ngobor cumi,” terang Sahiri, salah satu Anak Buah Perahu antar jemput.

Namun, bagi para pemancing disarankan untuk membawa bekal secukupnya dari daratan, khususnya air minum. Karena meski di Pemecah Ombak ada warga setempat yang membuka warung, tapi kadang-kadang warung tersebut tutup pada waktu yang tak tentu.

Dan yang tak kalah penting, sebelum berangkat upayakan membaca do’a terlebih dahulu dan selalu berhati-hati ketika berada di Pemecah Ombak. Selain berarus deras karena berada diatas laut lepas Selat Sunda, kedalaman laut juga konon mencapai 30-50 meter. Apalagi kabarnya pernah juga ada pemancing yang terjatuh ke laut sampai meninggal dunia. So, mancing asyik boleh, jangan lupa jaga keselamatan. (*/Ilung)

BPRS CM tabungan

Koperasi
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien