49 Saksi Diperiksa, Penyebab KMP Batumandi Terbakar dan Terbalik di Selat Sunda Belum Ditemukan

SERANG-Perkembangan kasus terbakarnya KMP Batumandi di lintasan Merak-Bakauheni terus bergulir.
Dua pejabat terkait, GM ASDP Cabang Merak dan Dirpolairud Polda Banten membeberkan proses penanganan dan penyelidikan kapal yang kini dalam kondisi terbalik di perairan.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak, Umar Imran Batubara mengatakan, pihaknya bersama stakeholder maritim baru saja menggelar rapat inisiasi pembentukan tim tanggap darurat di lintasan Merak-Bakauheni.
“Rapat tadi merupakan inisiasi dari Polairud, bagaimana kesiapan segala stakeholder dalam menghadapi keadaan emergency atau darurat di lintasan Merak-Bakauheni,” ujar Umar usai Rapat di Mapolda Banten, Kamis (29/10/2026).
Terkait nasib KMP Batu Mandi, ia membenarkan kapal tersebut saat ini sudah tidak beroperasi.
Untuk proses evakuasi bangkai KMP Batu Mandi, Umar menyebut saat ini ASDP sedang dalam proses penunjukan pelaksana pekerjaan pertolongan terhadap kapal atau muatannya alias salvage.
“Saat ini dari pihak ASDP lagi untuk proses penunjukan pelaksana, tapi kita masih berkoordinasi dengan KSOP, KPLP untuk vendor tersebut,” jelasnya.
Nantinya, setelah ada penunjukan resmi, pihak pelaksana akan memaparkan metode pengapungan kepada Polairud, KSOP dan instansi terkait lainnya.
“Mudah-mudahan minggu ini sudah ada proses penunjukan dan kita harapkan di awal November itu sudah pelaksanaan pengapungan,” tutupnya.
Sementara itu, Dirpolairud Polda Banten Kombes Pol Eko Hartanto mengatakan penyelidikan kasus kebakaran KMP Batu Mandi yang terjadi pada Selasa (20/10) sore di alur Merak masih berproses.
Ia mengatakan, tindakan awal yang dilakukan adalah evakuasi penumpang dan ABK, dilanjutkan dengan pemadaman api bersama Basarnas, TNI AL, KPLP dan stakeholder maritim lainnya di Selat Sunda.
Untuk penyelidikan, pihaknya telah melakukan klarifikasi terhadap 49 saksi.
“Sudah 49 saksi-saksi yang sudah kita klarifikasi untuk bagaimana kejadian yang ada di kapal itu. Dari penumpang, sopir, perwira kapal dan sebagainya,” ujar Eko.
Terkait dugaan awal penyebab kebakaran, Eko belum bisa menyimpulkan. Ia menegaskan harus berdasarkan scientific evidence dan pemeriksaan laboratorium.
“Kita masih belum bisa menduga-duga, karena kita harus berdasar juga proses penyelidikan. Dan ini dengan evidensi sains yang ada,” tegasnya.
Proses penyelidikan diakui mengalami kendala karena posisi kapal yang terbalik dan masih terendam air.
“Ini juga mengganggu proses penyelidikan, terutama kita dari pihak penyelidik, pelakor, Inafis dan sebagainya. Objeknya di situ kan kapal sudah terbalik. Ini proses butuh waktu secara teknis,” katanya.
Saat ini, di lokasi bangkai kapal sudah dipasang tanda (buoy) dan oil boom untuk mencegah pencemaran dan agar tidak mengganggu alur pelayaran.
Setelah proses pengapungan atau salvage selesai, polisi akan melakukan olah TKP lanjutan untuk memastikan penyebab pasti kebakaran KMP Batu Mandi.***

