Potensi Panas Bumi Gunung Endut Lebak 38 MW Disodorkan ke Investor, Lelang Belum Dibuka
SERANG– Pemerintah Pusat melalui Kementerian ESDM tengah menjajaki pengembangan panas bumi di Gunung Endut, Kabupaten Lebak.
Lokasi ini masuk dalam daftar 14 Wilayah Kerja Panas Bumi atau WKP potensial yang akan ditawarkan kepada investor dalam peta jalan energi terbarukan nasional.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten Ari James Faraddy usai Menteri ESDM mengumumkan daftar potensi panas bumi tersebut dalam Pertemuan Tahunan Panas Bumi di Jakarta.
Ari menegaskan, WKP Gunung Endut saat ini belum masuk tahap lelang. Pemerintah baru membuka tahap penjajakan minat investor.
“Tapi prosesnya tidak langsung lelang. Kita tunggu dulu ada investor yang ajukan Letter of Intent atau LOI ke Kementerian ESDM,” ujar Ari saat dihubungi, Rabu (3/9/2026).
Jika ada badan usaha yang berminat, barulah proses administrasi lelang dimulai.
Tahapannya meliputi penyusunan dokumen lelang, koordinasi antara Pemerintah Pusat, Pemprov Banten, Pemkab Lebak, hingga penyusunan regulasi teknis.
“Regulasi terkait panas bumi juga akan ada perubahan,” katanya.
Tantangan lain, kata Ari, potensi panas bumi Gunung Endut berada di kawasan konservasi. Karena itu diperlukan perubahan status zona hutan.
“Pengajuan perubahan status ke Kementerian Kehutanan belum bisa dilakukan. Harus menunggu kepastian investor dulu. Nanti perusahaan yang berminat bersama pusat dan daerah yang akan urus izin pemanfaatan kawasannya,” jelas Ari.
Menurutnya, Pemda siap mendukung dan melibatkan masyarakat sejak awal agar proyek energi hijau ini memberi manfaat langsung bagi warga.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi sebelumnya mengatakan, pemerintah mempercepat lelang WKP sesuai arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Target yang sebelumnya 10 tahun dalam RUPTL 2025-2034 akan dipercepat.
“Ini biar lebih agresif lagi. 14 lokasi ini baru, di luar 5 WKP dan 7 PSPE yang masih proses,” ujar Eniya.
Gunung Endut memiliki potensi 38 MW. Beberapa lokasi lain dengan potensi besar di antaranya Gunung Iyang Argopuro 185 MW, Gunung Galunggung 125 MW, dan Lainea 68 MW.
Ari mencontohkan keberhasilan Gunung Salak yang sudah puluhan tahun beroperasi dan menyuplai listrik Jawa Barat.
“Pengembangan panas bumi butuh investasi besar dan risiko tinggi di tahap eksplorasi. Makanya peran badan usaha sangat penting,” tutupnya.***


