Jemaah PERSIS Mulai Puncak Haji dengan Mabit di Mina, Musyrif Diny Imbau Ikuti Jalur Resmi dan Terorganisir
MAKKAH – Jemaah haji Indonesia di bawah bimbingan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Persatuan Islam atau PERSIS telah memulai rangkaian puncak haji dengan lebih dulu melaksanakan mabit di Mina pada hari Tarwiyah, 8 Dzulhijjah 1447 H.
Adapun keberangkatan jemaah menuju Mina dilakukan sejak Minggu (24/5/2026) atau 7 Dzulhijjah sore sebagai bagian dari amalan sunnah haji yang dipilih sebagian jemaah.
Hal ini disampaikan Musyrif Diny Haji 2026 DR. KH. Haris Muslim, yang juga menjabat Sekretaris Umum PP Ormas Persatuan Islam (PERSIS).
Menurutnya, sebagian jemaah haji Indonesia memang memilih untuk mabit di Mina terlebih dahulu sebelum berangkat ke Arafah.
“Termasuk di antaranya jemaah dari KBIHU Persatuan Islam,” kata Haris Muslim.
Hari Tarwiyah adalah hari kedelapan bulan Dzulhijjah yang memiliki makna merenung dan persiapan ibadah haji, dan berangkat ke Mina bagi jamaah haji.
KH Haris menjelaskan, pelaksanaan Tarwiyah tidak diprogramkan oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj). Namun bagi KBIH atau jemaah yang melakukan Tarwiyah, diperbolehkan dengan catatan mengurus keberangkatan secara mandiri melalui jalur resmi.
“Keberangkatan tetap bekerjasama KBIH dan syarikah, serta wajib melapor ke PPIH sektor dan kloter masing-masing,” ujarnya.
Karena tidak masuk program reguler, jemaah yang melakukan Tarwiyah akan berangkat lebih awal, yakni tanggal 7 Dzulhijjah sore atau malam hari.
Sebab pada pagi 8 Dzulhijjah, biasanya seluruh armada bus DARI Makkah sudah difokuskan untuk mengangkut jemaah haji yang langsung ke Arafah.
Di tengah pergerakan jemaah PERSIS dan kelompok lainnya, KH Haris mengingatkan agar tidak melakukan Tarwiyah tanpa kelompok atau secara pribadi. Praktik ini dinilai sangat membahayakan keselamatan jemaah.
“Kami menghimbau untuk tetap tertib, untuk melaksanakan dengan sebaik mungkin. Dan yang lebih penting adalah melaksanakan Tarwiyah ini secara terorganisir, tidak sendiri-sendiri. Yaitu tidak lapor ke sektor, tidak lapor ke syarikah, dia pergi begitu saja secara pribadi ke Mina,” tegasnya.
Ia menambahkan, kepadatan di Mina, cuaca panas, dan minimnya akses menuju Arafah, bisa membuat aktivitas Tarwiyah tanpa koordinasi berisiko tinggi. Karena itu, pihak-pihak terkait melarang keras praktik tersebut.
Meski sebagian jemaah PERSIS memilih sunnah di hari Tarwiyah, KH Haris menjelaskan bahwa amalan haji pada 8 Dzulhijjah pada dasarnya sama, baik yang lebih dulu mabit di Mina maupun yang langsung ke Arafah.
“Jadi intinya baik yang Tarwiyah, baik yang langsung ke Arafah, itu sesungguhnya mulai ibadahnya sama yaitu besok tanggal 8 Zulhijjah. Sesungguhnya kan amalnya sama,” jelasnya.
Amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak talbyiah, dzikir, doa, istighfar, takbir, dan tahlil. KH Haris mencontohkan sunnah Rasulullah SAW yang melaksanakan salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh, mempersiapkan perbekalan haji saat di Mina sebelum bergerak ke Arafah.
“Pada dasarnya yang penting dia ada mabit tinggal di sana,” pungkasnya.
Dengan dimulainya mabit Tarwiyah di Mina, jemaah PERSIS kini telah melalui satu fase puncak haji, sebelum nanti pada 9 Dzulhijjah pagi akan bergerak ke Arafah untuk wukuf, dilanjut mabit di Muzdalifah dan kembali mabit di Mina untuk melempar jumrah.
Kemenhaj meminta seluruh jemaah menjaga kesehatan, mengikuti arahan petugas, dan menjalankan ibadah secara tertib agar seluruh rangkaian dapat diselesaikan dengan aman dan mabrur. (*/Red/MCH-2026)


