Sidak Dapur Milik WNI, Irjen Kemenhaj Tekankan 3 Standar Wajib

MADINAH – Inspektur Jenderal Kemenhaj RI Dendi Suryadi melakukan inspeksi mendadak ke Dapur Uhud Astoneast, Madinah pada Rabu (10/6/2026).
Dapur milik WNI ini menjadi sorotan karena melayani konsumsi jemaah haji Indonesia dan mempekerjakan banyak koki anak bangsa.
Dalam sidak itu, Dendi tak main-main dan membedah alur produksi serta SOP dapur yang menjadi satu dari 23 dapur kontrak konsumsi jemaah di Madinah.
Hasilnya ia rangkum jadi 3 Standar Wajib yang harus dipatuhi seluruh penyedia katering selama 50 hari operasional haji.
Standar pertama paling krusial, Dendi meminta agar distribusi makanan ke hotel atau pemondokan harus sesuai jadwal, tanpa toleransi telat.
“Saya minta pastikan seluruh distribusi konsumsi jemaah benar-benar tepat waktu, tepat jumlah, dan tentu saja harus tepat kualitas. Jangan sampai ada keterlambatan yang membuat jemaah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi mereka,” tegas Dendi di hadapan pengelola dapur.
Alasannya, jadwal jemaah haji padat yang meliputi subuh ziarah, duha umrah, sore ngaji. Kalau sarapan atau makan siang molor 15-30 menit, maka siklus ibadah akan terganggu.
Dampaknya fatal buat jemaah lansia dan risti, bisa mengalami gula darah drop, stamina habis, ibadah berpotensi terganggu.
Dandi meminta agar dapur memperhitungkan waktu matang, waktu tempuh dan potensi macet Madinah.
Ia menyarankan, agar mengirim lebih awal 20 menit dan buat tim Quality Control di pintu keluar untuk mengecek jumlah box sebelum truk jalan.
Standar kedua soal kuantitas. Ia menekankan agar jumlah porsi harus 100% sesuai kontrak dan data jemaah real time. Kurang 1 box, berarti terdapat 1 jemaah yang tak kebagian makanan.
Dendi soroti data jemaah risti dan lansia yang porsinya harus diperhatikan. Mereka, kata dia, butuh nutrisi cukup tapi porsi nasi dan lauk yang bisa disesuaikan.
Demikian dengan petugas dapur, agar selalu melakukan koordinasi H-1 dengan petugas kloter guna mengupdate jumlah jemaah yang rawat inap, pulang lebih awal, atau tambahan petugas.
“Data jemaah risti atau lansia juga wajib diperhatikan porsinya,” tegasnya.
Ketiga mengenai tepat kualitas berupa rasa khas Indonesia, bumbu dari Tanah Air, higienis. Ini standar paling detail yang dibedah Irjen. Ia membagi kualitas dalam 4 poin.
Dendi mengapresiasi Dapur Uhud Astoneast karena pemilik dan mayoritas kokinya WNI, sebab dengan koki anak bangsa jadi nilai plus, komunikasi lebih mudah, kontrol mutu lebih mudah.
Ia juga mendorong agar cita rasa nusantara tetap dipertahankan.
“Menyajikan makanan dengan cita rasa khas Indonesia sangat krusial untuk menjaga stamina dan selera makan jemaah selama menunaikan ibadah haji di Arab Saudi,” ujarnya.
Pemilik dapur Rosyida langsung menyambut arahan tersebut. Ia berkomitmen menjaga kualitas serta cita rasa khas Nusantara sampai akhir operasional.
“Kami memastikan bahwa mayoritas bumbu yang kami gunakan memang didatangkan langsung dari Indonesia untuk menjaga cita rasa asli yang disukai jemaah, dan kami akan terus menjaga standar ini hingga seluruh rangkaian operasional haji selesai,” ujarnya. (*/Red/MCH-2026)

