PT Century Metalindo di Cikande Timbulkan Debu dan Bising yang Ganggu Warga

SERANG – Pasca ledakan di PT Century Metalindo yang belum diketahui penyebabnya Selasa (4/12/2017) dinihari, warga mengeluhkan debu yang berasal dari pabrik tersebut makin tebal dan mengganggu.

Perusahaan yang berdiri pada tahun 2008 dan memulai produksi Silicomanganese-nya di 2009 ini, dikabarkan mengalami ledakan Selasa (5/12/2017) dini hari, dan membuat warga sekitar kaget dan resah. Namun warga tidak mengetahui persis bagian mana dari perusahaan yang pada 2015 menambah produk baru Nickel Pig Iron tersebut, yang meledak.

Taruno dan M. Yani, Security perusahaan sempat menghalang-halangi wartawan faktabanten.co.id saat hendak mengambil foto di lokasi kejadian. Ia menegaskan bahwa untuk mengambil foto harus izin terlebih dulu.

“Ledakannya sekitar jam dua malam kali. Penyebabnya nggak tahu, langsung saja konfirmasi ke Polsek karena nggak boleh ngambil foto. Sebelumnya belum pernah separah ini ledakannya. Saya sih baru masuk jam delapan. Jadi nggak tahu persis,” ujar pihak keamanan tersebut.

Dari pantauan wartawan, gedung pabrik tersebut terlihat hancur sebagian tetapi masih tetap melaksanakan aktivitas produksi, dan karyawan tidak diliburkan.

Sementara itu, salah seorang warga Tanil (50) menjelaskan, bila ledakan terjadi sekitar pukul setengah satu malam.

“Baru-baru ini aja, sebelumnya nggak ada, itu bahan produksi katanya masuk ke air terus meledak. Suaranya kaya geledeg getarannya kuat terasa sampai sini. Warga pada dateng ke situ. Polisi juga ada. Orang (warga) pada ke luar semua. Lagi tidur saya kira petir,” katanya.

Warga lainnya dari Kampung Cinerus, Desa Barengkok RT/RW 06/02 Kecamatan Cikande, Jalil (38) menegaskan, bahwa masyarakat sekitar bukan meminta pabrik untuk tutup, melainkan meminta perusahaan membuat blower. Karena pada hari-hari biasa sebelum peristiwa ledakan pun, debu dan asap hasil produksi sangat mengganggu warga dan menimbulkan polusi.

Terpisah, Ibu Aspinah (40) dan anaknya Abibi (20) warga Kampung Kalong, Desa Barengkok,
Peteuy, Sondol, Kalong Tegal, mengaku mengalami susah tidur saat kejadian.

“Sering demo sih ke sana. Sering komplain karena mengganggu setiap hari. Banyak debu, di rumah tuh misalnya ditinggal, pas pulang udah banyak debu. Kalau diinjek ada bekas tapaknya. Khawatir kena makanan,” keluh Aspinah.

Sementara Abibi mengatakan warga sudah sering kali mendemo perusahaan.

“Kadang siang kadang malam asapnya keluar. Pada malam hari tuh asapnya lebih banyak. Menyikapi demo warga, perusahaan paling memberikan beras tiga liter dan susu kaleng,” tuturnya.

Semenjak pabrik berdiri, sudah sekitar empat hingga lima tahun persoalan asap dan debu ini mengganggu warga. Oleh perusahaan, warga kerap diiming-imingi bahwa masalah ini akan diurus. Tapi kenyataannya tidak pernah selesai.

“Kami jelas berharap masalah asap dan debu ini ditangani. Kalau warga yang pindah kan tidak mungkin? Kami sebanyak ini. Mending pabrik saja yang pindah. Apalagi saat kejadian meledak itu, Batu bara sama pasir sampai ke sini,” ucap dia.

Aspinah dan Abibi khawatir bila kembali terjadi ledakan, rumah warga akan terdampak.

“Harusnya pemerintah juga membuatkan peraturan saat membuat industri. Bagaimana caranya agar masalah asap ini tidak mencemari,” pungkasnya. (*/David)