Belajar di Bawah Ancaman Atap Runtuh, Siswa MTs Azahra Lebak Tetap Bertahan Untuk Mencari Ilmu

LEBAK – Tawa dan riuh anak-anak di sebuah ruang kelas di MTs Azahra, Kampung Sempur Dua, Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, sering bercampur dengan suara plafon yang berderit pelan.
Ruangan yang seharusnya menjadi tempat nyaman menimba ilmu itu kini lebih mirip “bom waktu” yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan puluhan siswa.
Di kelas sempit itu, bocoran atap, dinding retak, plafon menganga, hingga meja kursi lapuk menjadi pemandangan sehari-hari.
Saat hujan turun deras, suasana semakin mencekam. Anak-anak berdesakan di sudut ruangan, berusaha menghindar dari tetesan air dan serpihan bangunan.
“Kalau hujan lebat, biasanya sebagian siswa memilih tidak datang. Mereka takut kalau tiba-tiba atap roboh,” ungkap salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya, Selasa (30/9/2025).
Menurutnya, kondisi memprihatinkan itu sudah berlangsung lama. MTs Azahra hanya memiliki tiga ruang kelas untuk sekitar 60 siswa.
Sejak ia mulai mengajar pada 2020, bangunan yang dipakai memang sudah tidak layak.

“Kadang kami lebih sibuk memastikan keselamatan anak-anak daripada menyampaikan materi pelajaran,” tambahnya.
Kenyataan ini membuat para siswa harus menukar rasa aman dengan keberanian. Seorang siswi kelas III berusia 14 tahun bercerita lirih bahwa dirinya kerap merasa cemas.
“Takut atapnya jatuh, kursi juga banyak yang rusak. Tapi saya ingin tetap sekolah. Semoga sekolah kami bisa punya bangunan baru,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Lebih ironis lagi, sejak berdiri belasan tahun lalu, MTs Azahra belum pernah memiliki gedung permanen sendiri.
Dari generasi ke generasi, para siswa hanya belajar di bangunan seadanya, dengan harapan besar akan hadirnya perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait.
“Anak-anak ini punya semangat belajar yang tinggi, tapi fasilitasnya sangat terbatas. Kami hanya ingin sekolah ini punya gedung yang aman dan layak,” tutur guru tersebut penuh harap.
Hingga kini, aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung di gedung pinjaman yang dikelilingi kayu lapuk dan lantai retak.
Di balik senyum polos para siswa, tersimpan doa yang sama: semoga suatu hari mereka bisa belajar di ruang kelas yang kokoh, tanpa rasa takut setiap kali menatap langit-langit sekolah. (*/Sahrul).


