Ekonom Lebak Beberkan Dampak Perang Timur Tengah terhadap Ekonomi Masyarakat dan Risiko Kriminalitas
LEBAK– Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian berbagai kalangan karena dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian global.
Meskipun Indonesia tidak terlibat secara langsung dalam konflik tersebut, gejolak geopolitik dunia dapat memengaruhi stabilitas ekonomi melalui perubahan harga energi, biaya logistik, hingga fluktuasi nilai tukar yang pada akhirnya berdampak pada kehidupan masyarakat.
Ekonom Kabupaten Lebak, Nevi Pahlevi, mengingatkan masyarakat agar mulai meningkatkan kewaspadaan dengan mengelola keuangan rumah tangga secara lebih bijaksana.
Menurutnya, kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian harus direspons dengan langkah-langkah antisipatif agar keluarga tetap memiliki ketahanan ekonomi.
“Masyarakat perlu lebih bijaksana dalam berbelanja dan menyusun skala prioritas kebutuhan rumah tangga. Dalam situasi ekonomi global yang belum stabil, pengelolaan keuangan menjadi sangat penting agar keluarga mampu menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi,” ujar Nevi Pahlevi.
Menurut Nevi, setiap konflik internasional yang melibatkan negara-negara strategis berpotensi memengaruhi aktivitas perdagangan dunia.
Gangguan terhadap jalur distribusi, kenaikan harga minyak dunia, hingga meningkatnya biaya logistik dapat memicu tekanan terhadap harga berbagai kebutuhan pokok dan menurunkan daya beli masyarakat apabila berlangsung dalam waktu yang lama.
Ia menjelaskan bahwa dampak tersebut memang tidak selalu dirasakan secara langsung, namun efek berantainya dapat memengaruhi sektor usaha, perdagangan, transportasi, hingga kehidupan ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, masyarakat perlu memperkuat ketahanan finansial sejak dini.
“Belanja sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Hindari pengeluaran yang tidak mendesak, mulai tingkatkan budaya menabung, siapkan dana darurat, dan manfaatkan peluang usaha yang dapat menambah pendapatan keluarga. Langkah sederhana seperti ini akan sangat membantu menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu,” katanya.
Nevi juga menilai bahwa tekanan ekonomi yang berkepanjangan dapat memunculkan berbagai persoalan sosial apabila tidak diantisipasi secara bersama-sama.
Ketika daya beli menurun, lapangan pekerjaan berkurang, atau pendapatan masyarakat mengalami penurunan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan keamanan di lingkungan masyarakat.
“Kondisi ekonomi yang melemah dapat menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan risiko kriminalitas. Tentu penyebab tindak kriminal tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi tekanan ekonomi dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai bersama,” jelasnya.
Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum, tetapi juga membutuhkan penguatan ekonomi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan pelaku UMKM, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta kepedulian sosial di lingkungan sekitar.
Nevi juga mengajak masyarakat agar tidak mudah terpancing isu maupun informasi yang belum terverifikasi terkait perkembangan konflik internasional.
Ia menilai kepanikan justru dapat memperburuk kondisi ekonomi apabila masyarakat melakukan pembelian secara berlebihan atau mengambil keputusan keuangan yang tidak rasional.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Menurutnya, solidaritas sosial menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan ekonomi sehingga masyarakat dapat saling membantu ketika terjadi tekanan terhadap kondisi ekonomi keluarga.
“Saya mengajak masyarakat tetap tenang, optimistis, dan bijak dalam mengelola keuangan. Ketahanan ekonomi keluarga merupakan fondasi utama untuk menghadapi gejolak global. Dengan perencanaan yang baik, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kepedulian sosial, masyarakat akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang mungkin terjadi,” tutup Nevi Pahlevi. (*/Sahrul).

