Krisis Air Bersih Meluas di Lebak, 30 Desa Terdampak dan Puluhan Ribu Warga Menanti Pasokan
LEBAK -Kemarau panjang mulai menguji ketahanan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Lebak. Sedikitnya 30 desa yang tersebar di 11 kecamatan masuk dalam pemetaan wilayah terdampak kekeringan dengan jumlah warga mencapai 42.056 jiwa.
Kecamatan Cirinten menjadi salah satu wilayah yang mencatat jumlah warga terdampak cukup besar. Empat desa, yakni Cirinten, Badur, Parakanlima dan Cibarani, tercatat mengalami kesulitan air.
Desa Cirinten menjadi salah satu yang memiliki jumlah warga terdampak terbesar, yakni 7.703 jiwa dari 1.396 keluarga. Badur tercatat 2.759 jiwa, Parakanlima 2.607 jiwa, sedangkan Cibarani sebanyak 496 jiwa.
Distribusi bantuan juga telah dilakukan di sejumlah kecamatan. Di Sajira, misalnya, Desa Sukajaya menerima 24.000 liter, Bungurmekar 12.000 liter dan Paja 12.000 liter.
Sementara Desa Lebak Asih, Kecamatan Curugbitung, dengan 3.048 jiwa terdampak telah menerima 18.000 liter air. Desa Cilayang memperoleh 6.000 liter untuk wilayah yang dihuni 2.008 jiwa terdampak.
Di Cilograng, Desa Cikatomas tercatat memiliki 4.461 jiwa terdampak dan menerima 12.000 liter air. Desa Gunungbatu dengan 3.026 jiwa terdampak juga mendapat bantuan dengan volume yang sama.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lebak, Suhada, mengatakan distribusi dilakukan berdasarkan laporan dan kebutuhan masing-masing wilayah.

“Yang paling penting masyarakat yang membutuhkan bisa mendapatkan air. Kami berupaya melayani berdasarkan laporan dan kebutuhan yang masuk,” ujarnya.
BPBD mencatat total air yang telah disalurkan mencapai 231.000 liter. Namun, dengan jumlah wilayah terdampak yang cukup luas, distribusi masih harus dilakukan secara bertahap.
Air yang dikirim menggunakan mobil tangki diprioritaskan untuk kebutuhan dasar masyarakat, terutama minum dan memasak.
“Air bersih yang kami distribusikan bukan untuk mandi atau mencuci, tetapi untuk kebutuhan memasak dan minum,” jelas Suhada.
BPBD memperkirakan kebutuhan dapat meningkat apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Karena itu, pembaruan data wilayah terdampak dan keterlibatan berbagai pihak menjadi penting agar bantuan dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan.
Dua mobil tangki kini harus melayani puluhan ribu warga di berbagai penjuru Lebak. Di tengah kemarau yang belum berakhir, persoalan air bersih menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan respons cepat dan dukungan lintas sektor. (*/sahrul)


