Penguatan Kapasitas Kelembagaan, Kompak Lebak Adakan Sekolah Anti Korupsi

LEBAK – Komunitas Masyarakat Peduli Anti Korupsi (KOMPAK) Kabupaten Lebak menggelar program dengan konsep Sekolah Anti Korupsi (SAK) selama lima hari. Program ini bertujuan untuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang telah memasuki angkatan ke-3, ini dilangsungkan di dua tempat, Aula Inspektorat Lebak dan Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, Rabu (24/03/2021).

Sekolah Anti Korupsi kali ini diikuti oleh 25 orang terdiri dari mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Kabupaten Lebak. Koordinator KOMPAK Lebak, Imam Nurhakim, menjelaskan bahwa program penguatan kelembagaan ini dilaksanakan kali ketiga dan pertama yang dikemas dalam Sekolah Anti Korupsi (SAK) selama lima hari.

Kartini dprd serang

“Sekolah Anti Korupsi ini bentuknya diskusi, dan Forum Grup Diskusi (FGD) sehari dengan mendatangkan pemateri dari GIZ, Visi Integritas, KPK RI, Kejari Lebak, dan Polres Lebak. Ini merupakan Sekolah Anti Korupsi pertama yang diadakan oleh Kompak kepada rekanan mahasiswa sekaligus sebagai bentuk penguatan kelembagaan Kompak itu sendiri,” kata Imam Nurhakim.

Dengan diadakannya program ini, Imam Nurhakim berharap para anggota Kompak maupun mahasiswa lainnya bisa mendapatkan pengetahuan atau informasi secara utuh dari para pemateri terkait masalah pencegahan korupsi, khususnya tentang pengenalan pencegahan sejak dini serta mengetahui alur sistem perencanaan dan penganggaran daerah serta mampu menganalisis anggaran publik. Pengenalan tentang pencegahan gratifikasi misalnya, menurut dia, sangat penting untuk dikenalkan kepada para anggota Kompak dan mahasiswa lainnya karena hal tersebut menjadi gerbang awal untuk masuk atau melakukan korupsi.

“Juga dicontohkan melalui bedah APBD Lebak yang dikaitkan antara gratifikasi, suap menyuap atau pemerasan, dan dijelaskan bahwa gratifikasi adalah kunci masuk ke korupsi. Paling tidak kita sebagai salah satu lembaga Non Government Organization (NGO) dan juga rekanan mahasiswa bisa memahami itu,” tutur Imam Nurhakim. (*/Red)

Polda