Potret Pendidikan di Lebak: Guru Menangis, Kantor Sekolah Ambruk, Murid Belajar Tanpa Fasilitas Memadai
LEBAK– Di balik berbagai program peningkatan mutu pendidikan yang terus digaungkan, masih ada potret memilukan yang terjadi di pelosok Kabupaten Lebak.
Enam tahun setelah bencana alam melanda pada 2020, MI Irsyadul Ibad di Kampung Padurung RT 004/RW 001, Desa Lebaksangka, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten, masih bertahan dengan kondisi sarana dan prasarana yang jauh dari layak.
Bangunan kantor sekolah yang ambruk akibat bencana hingga kini belum direhabilitasi.
Akibatnya, para guru tidak lagi memiliki ruang kerja yang layak dan terpaksa memanfaatkan ruang kelas sebagai tempat menjalankan aktivitas administrasi maupun berdiskusi.
Salah seorang pengajar MI Irsyadul Ibad, Wahyudin Sutiawan, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung sejak bencana terjadi dan belum mengalami perubahan hingga sekarang.
“Bangunan kantor itu ambruk saat bencana alam tahun 2020. Sampai sekarang belum ada perbaikan. Kami setiap hari hanya bisa singgah di kelas masing-masing karena sudah tidak memiliki kantor yang layak,” ujar Wahyudin.
Kondisi memprihatinkan juga terlihat pada fasilitas sanitasi sekolah. Toilet yang tersedia sudah tidak dapat digunakan karena mengalami penyumbatan sehingga guru maupun siswa kesulitan memenuhi kebutuhan dasar selama berada di lingkungan sekolah.
Di dalam ruang belajar, keterbatasan semakin terasa. Sebagian siswa mengikuti pembelajaran tanpa meja dan kursi yang memadai akibat minimnya fasilitas.
Beberapa rombongan belajar bahkan hanya dipisahkan menggunakan sekat sederhana sehingga suara dari kelas lain sering kali terdengar dan mengganggu konsentrasi proses belajar mengajar.
Kerusakan bangunan juga tampak di berbagai sudut sekolah. Atap bocor ketika hujan turun, dinding yang mengelupas, hingga ruang kelas yang sederhana menjadi pemandangan sehari-hari bagi guru dan siswa. Meski demikian, semangat belajar tidak pernah padam.
Di balik dedikasi itu, tersimpan kisah yang menyentuh. Wahyudin mengaku sering kali tidak mampu menyembunyikan rasa sedih ketika melihat kondisi ruang kelas yang ditempati anak didiknya setiap hari.
“Saya pribadi yang menjadi wali kelas sering menangis setiap kali hendak masuk ke kelas, karena melihat kondisi ruangan yang sangat miris. Anak-anak tetap semangat belajar, tetapi sebagai guru rasanya sedih melihat mereka harus belajar dalam keadaan seperti ini,” tuturnya dengan haru.
Saat ini MI Irsyadul Ibad memiliki sekitar 90 siswa yang dibimbing oleh enam orang guru dan seorang kepala sekolah. Dari jumlah tersebut, dua ruang kelas digunakan untuk menampung sekitar 31 siswa dengan kondisi yang sangat sederhana.
Berada di wilayah pelosok Kecamatan Lebakgedong, sekolah ini masih menghadapi berbagai keterbatasan yang membutuhkan perhatian. Para guru berharap para siswa dapat memperoleh hak yang sama untuk belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, dan layak.
Potret MI Irsyadul Ibad menjadi pengingat bahwa pemerataan pendidikan tidak hanya diukur dari akses menuju sekolah, tetapi juga dari kualitas sarana yang menunjang proses belajar mengajar.
Bagi para guru, ruang kelas yang aman, kantor yang layak, toilet yang berfungsi, serta meja dan kursi yang memadai bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari instansi pemerintah terkait mengenai rencana rehabilitasi bangunan maupun bantuan perbaikan fasilitas di MI Irsyadul Ibad. (*/Sahrul).

