Indonesia Kebanjiran Baja Impor, Menteri Salahkan China

JAKARTA – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memprotes langkah China yang melakukan ekspor baja besar-besaran ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Akibatnya, industri baja lokal terpukul karena kalah bersaing dengan baja murah dari China.

Protes tersebut, kata Enggar, disampaikan dalam pertemuan intensional Regional Consultative Process (RCP) beberapa waktu lalu. Semua negara, termasuk Indonesia menyampaikan keberatan mereka kepada China.

“Yang agak kurang baik adalah dalam trade war ini adalah produk dari China berlimpah di dunia. Dan pertemuan kami dalam RCP, 16 negara, secara terbuka sampaikan komplainya ke RRT (China). Dengan terbuka, kita berikan catatan,” kata dia ditemui di Pabrik Baja Gunung Raja Paksi, Cikarang, Bekasi, Kamis (31/1).

Melimpahnya impor baja dari China akibat perang dagang yang sengit negara tirai bambu tersebut dengan Amerika Serikat pada tahun lalu. Kejadian itu membuat China kehilangan pasar baja ekspor mereka ke AS.

Alhasil, China melemparkan produksi bajanya ke negara lain termasuk Indonesia. Ini juga membuat angka impor baja Indonesia tahun 2018 tertinggi di dunia. Padahal, di dalam negeri, Indonesia memiliki banyak pabrik pembuatan baja.

“Impor Indonesia jadi yang terbesar di dunia yaitu 59,7 persen besi baja dari China. Dan mereka begitu cerdas ambil peluang padahal kita tidak begitu memerlukan itu,” kata dia.

Enggar juga menjelaskan dalam forum tersebut, China mengatakan sudah mengurangi 30 persen produksinya. Tapi Enggar menegaskan siapa yang bisa membuktikan pengakuan China.

Meski belasan negara yang protes saat ini belum memiliki bukti konkret, tapi Enggar menduga China melakukan politik anti dumping pada produk baja mereka.

“Saya sampaikan secara formal, saya belum dapat bukti tapi kita semua anggapnya ada anti dumping. Mereka ada misi terselubung yang sulit kita deteksi. Mereka nyatakan sudah kurangi produksinya 30 persen tapi siapa yang bisa periksa, negara besar dan pabriknya itu banyak,” kata dia.

Meski begitu, akibat perang dagang ini dan perlambatan ekonominya, investor China kata Enggar bakal mengalihkan industri produktifnya ke berbagai negara di Asean, termasuk Indonesia sebagai cara mencari pasar baru.

Aturan Mendag Bikin Impor Baja RI Melambung Tinggi di 2018

Impor besi dan baja ke Indonesia pada tahun 2018 senilai USD 10,245 miliar atau meningkat 28,31 persen. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (15/1), impor besi dan baja sepajang 2017 sebanyak USD 7,985 miliar.

Sankyu ks

Kenaikan impor besi dan baja tak bisa dianggap remeh karena berkontribusi sebesar 6,45 persen terhadap total impor nonmigas sepanjang Januari-Desember 2018. Pada tahun 2018, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan USD 8,57 miliar, menjadi yang terparah sepanjang sejarah republik. Kinerja perdagangan periode tersebut anjlok dibandingkan 2017 yang mencatatkan surplus USD 11,84 miliar.

Menurut Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim, naiknya impor baja sepanjang 2018 didorong oleh Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi dan Baja.

Regulasi yang dikeluarkan 10 Januari 2018 tersebut membuat pemeriksaan baja dan besi impor menjadi lebih longgar, yakni dari awalnya berada di Pusat Logistik Berikat (PLB) menjadi pemeriksaan post border inspection. Dengan pergeseran pemeriksaan ke post border inspection, pengawasan impor baja yang sebelumnya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) beralih ke Kementerian/Lembaga (K/L). Kelonggaran ini kemudian dimanfaatkan oleh importir nakal untuk menggenjot impor besi dan baja, khususnya dari China.

“Permendag murni,” kaya Silmy kepada kumparan, Selasa (15/1).

Serbuan baja impor, lanjut Silmy, tak terpengaruh oleh efek perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Hal ini bisa dilihat dengan data impor negara tetangga pada kuartal I-2018, yakni semuanya mengalami penurunan impor baja, seperti: Malaysia (turun 20 persen), Filipina (turun 46 persen), Singapura (turun 13 persen), Thailand (turun 30 persen), dan Vietnam (turun 64 persen).

“Ini (murni) dampak dari Permendag. Perang dagang belum kena kita,” ujarnya.

Mendag Revisi Permendag 22 Tahun 2018, Kembalikan Fungsi Bea Cukai

Mendag Enggartiasto Lukita menarik kembali Permendag 22 Tahun 2018. Dia mengubah aturan tersebut dan mengembalikannya ke aturan yang lama.

“Iya, Permendag 22 Tahun 2018 itu sudah diubah supaya kita enggak melenggang kenaikan tertinggi di dunia impornya,” kata Enggar saat ditemui usai penandatangan kerja sama Indonesia-EFTA di kantornya, Jakarta, Minggu (16/12) sore.

Dengan dikembalikannya ke aturan lama, Enggar menjelaskan pengawasan impor besi dan baja akan dilakukan melalui Pusat Logistik Berikat (PLB) dari sebelumnya melalui post border inspection. Pengawasan baja akan kembali dan berada di bawah Ditjen Bea dan Cukai.

Tapi aturan ini belum berjalan efektif. Enggar mengaku pihaknya masih menunggu Kementerian Hukum dan HAM untuk mengundangkan aturan yang baru ini.

“Jadi kita balikan lagi ke border. (Efektif) setelah diundangkan oleh Kemenkumham. Tanya mereka kapan selesainya,” lanjut dia. (*/Kumparan)

[socialpoll id=”2521136″]