Wisata Anyer

Bawa Isu Demokrasi ke Jalur Sastra, Novel Karya Badrul Munir ‘Di-Roasting’ Akademisi Sebelum Terbit

Kapolres Cilegon

JAKARTA – Menjelang senja, suasana hangat dan reflektif menyelimuti Rooftop Sekretariat Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (31/7/2026).

Di lokasi tersebut, novel Di Balik Kotak Suara karya Badrul Munir menjalani proses pre-launching yang dikemas sebagai ruang diskusi dan pengujian intelektual sebelum resmi diterbitkan.

Mengusung tema “Bahasa, Makna, dan Bunyi dalam Merawat Ruang Publik”, kegiatan terbatas ini dihadiri sekitar 35 peserta dari kalangan akademisi, pegiat sastra, pegiat pemilu, hingga pencinta literasi.

Berbeda dari peluncuran buku pada umumnya yang identik dengan seremoni dan promosi, acara ini justru menjadikan naskah novel sebagai objek kritik akademik.

Para narasumber secara terbuka memberikan masukan terhadap isi, bahasa, struktur cerita, hingga pesan sosial yang ingin disampaikan.

Penulis novel, Badrul Munir, menjelaskan bahwa sastra merupakan medium efektif untuk menghadirkan pendidikan politik secara lebih humanis.

“Selama ini pendidikan politik lebih banyak disampaikan melalui seminar, regulasi, atau diskusi formal. Saya memilih jalur sastra karena novel mampu berbicara kepada hati pembaca. Demokrasi bukan hanya soal aturan, melainkan juga soal manusia, moral, dan pilihan hidup,” ujar Badrul.

Ia menegaskan bahwa pengujian karya ini adalah bentuk tanggung jawab intelektualnya sebagai penulis.

“Sebelum karya ini menjadi milik publik, saya merasa ia harus lebih dahulu diuji oleh para pakar. Kritik adalah bagian dari penyempurnaan agar novel ini memiliki kualitas bahasa, kedalaman makna, dan relevansi sosial,” tambahnya.

Apresiasi datang dari Dr. Rahmat Hidayatullah, S.S., M.A., budayawan sekaligus akademisi UIN Jakarta.

Menurutnya, tidak banyak penulis yang berani mengambil risiko mengangkat isu politik dan demokrasi melalui karya novel.

“Pendidikan politik melalui karya sastra merupakan pendekatan yang relatif jarang ditempuh. Justru melalui cerita, pembaca dapat memahami demokrasi secara lebih manusiawi,” kata Rahmat. Meski demikian, ia memberikan catatan pada dinamika alur agar konflik antartokoh dapat berkembang lebih kuat.

Senada dengan Rahmat, pakar linguistik UIN Jakarta, Dr. Makyun Subuki, M.Hum., memuji keterbukaan penulis yang secara sadar meminta naskahnya ‘di-roasting‘ sebelum terbit.

“Di situlah terlihat keseriusan seorang penulis dalam melahirkan karya yang matang,” jelas Makyun.

Ia turut memberikan masukan terkait diksi, konsistensi gaya bahasa, dan efektivitas dialog untuk memperkuat daya pikat novel.

Sementara itu, Ketua DKJ Bambang Prihadi menyambut baik hadirnya karya sastra berlatar demokrasi ini. Ia menilai sastra memiliki posisi strategis dalam merawat ruang publik dan membangun kesadaran kritis masyarakat.

“Nilai-nilai demokrasi tidak selalu harus diajarkan melalui pidato atau ruang kelas. Sastra mampu mengajak pembaca merenung dan mempertanyakan kehidupan demokrasi melalui pengalaman para tokohnya,” tutur Bambang.

Diskusi yang berlangsung hingga malam tersebut ditutup dengan refleksi bersama. Melalui uji kritik dan dialog ini, novel Di Balik Kotak Suara diharapkan tidak hanya hadir sebagai bacaan hiburan, tetapi juga menjadi medium pendidikan politik yang matang bagi masyarakat luas. ***

PT PCM HUT Bhayangkara
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien