Iklan Banner

Begini Tanggapan Cak Nun Atas Prediksi Indonesia Bubar di 2030

Saiful Basri HPN

FAKTA BANTEN – Menanggapi pernyataan Prabowo Subianto soal prediksi Indonesia akan bubar pada 2030, Emha Ainun Nadjib atau yang selama ini akrab disapa Cak Nun, mengungkapkan pendapatnya soal kondisi Indonesia yang sering saling bertengkar.

“Ibarat main silat, (Indonesia) sudah kacau kuda-kudanya, akhirnya bertengkar terus,” kata Cak Nun Katipiro, Jogya kepada awak media, Jumat (23/3/2018).

Sebagai Negarawan, tokoh yang pernah mengalami masa getirnya Orde Lama, aktif mengkritisi Orde Baru, dan menjadi tokoh utama Reformasi 1998 ini, Cak Nun justru menyatakan Indonesia dan negara-negara di Asia Pasifik lainnya mampu menjadi negara dunia kesatu, menggantikan Amerika Serikat dan Eropa yang akan menjadi dunia kedua pada Sepuluh tahun mendatang.

Namun semua itu bisa menjadi sia-sia yang secara substansi merupakan kegagalan, jika martabat dan harga diri Indonesia hilang.

Cak Nun diketahui sejak pasca reformasi hingga kini terus intensif menemani rakyat kecil berkeliling ke peloksok-peloksok daerah.

“Di tahun 2030 itu Indonesia yang menjadi bagian Asia Pasifik akan maju lebih banyak gedung-gedung tinggi, tapi orang Indonesianya kebanyakan jadi cleaning servise, satpam, dan jongos,” sindir Cak Nun.

Oong Ade HUT Gerindra

Mbah Nun menyatakan, bahwa ia lebih memilih untuk mendekati generasi muda. Mendorong mereka agar mampu menjadi pemimpin bangsa ini dengan membekalinya dengan kedaulatan dari mulai menjadi tuan rumah diri sendiri hingga capaiannya Man arofa nafsahu Faqod arofa Rabbahu.

“Jadi pemimpin harus berpihak pada negara secara keseluruhan, bukan dengan pihak tertentu. Jangan seperti pemimpin sekarang,” pesan Cak Nun.

Cak Nun juga turut mengomentari polemik antara Amien Rais dan Luhut Panjaitan ramai dalam pemberitaan akhir-akhir ini.

“Mereka itu seperti lagi gatel lalu digaruki terus,” kata Cak Nun.

Suatu sikap Bangsawan yang tetap objektif dalam mengkritisi pemerintah dan tetap setia mengawal perjalanan negara Indonesia. Tokoh multi talenta ini juga diketahui pada masa Orde Baru paling keras mengkritisi pemerintahan, meski diiming-imingi akan diberi perusahaan dan jabatan menteri pada saat itu. Bahkan pada puncaknya tahun 1998 setelah Soeharto lengser, Cak Nun memiliki kesempatan untuk menjadi Presiden Republik Indonesia, namun ia lebih memilih berkeliling mengajak rakyat ber-Shalawat Nabi. Suatu sikap yang jarang ditemui oleh tokoh-tokoh lainnya dan perlu kiranya untuk diikuti.

Bukan hanya itu, guru bangsa yang di kalangan Maiyah disebut Mbah Nun ini, saat berkumpul dengan ribuan hingga puluhan ribu jama’ahnya di daerah-daerah, kerap berpesan untuk hidup bermartabat, dan dalam upaya menjaga kedaulatan agar dilakukan mulai dari desa. Seperti himbauan agar jama’ah tidak gampang menjual tanah miliknya, kecuali kepada sesama orang yang tinggal di desa tersebut. (*/Ilung)

Ade Hasbi HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien