Dari Manuskrip ke Digital: Pusat Studi Madinah Bedah Evolusi Kota Nabi Lewat Kajian Multidisiplin Ilmu
MADINAH — Megahnya Masjid Nabawi tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah di seluruh dunia. Dibangun oleh Nabi Muhammad SAW pada 622 M, tempat itu kini mampu menampung hingga jutaan jemaah.
Namun di balik megahnya masjid suci kedua itu, terdapat institusi yang menjaga peradaban Islam lewat manuskrip kuno, yakni Pusat Studi dan Penelitian Al-Madinah al-Munawwarah.
Dari namanya, tugasnya sederhana diucapkan, tapi berat dijalankan: memastikan setiap cerita tentang Kota Nabi berdiri di atas data, bukan sekadar kata orang.
Manuskrip kuno yang dulu sulit diakses kini bisa diteliti ilmuwan dari seluruh dunia. Pusat Studi dan Penelitian Al-Madinah al-Munawwarah tak hanya menyimpan 149 ribu manuskrip, tapi juga mentranskrip, menganotasi, dan mendigitalisasi khazanah Kota Nabi.
Lembaga ini bekerja layaknya laboratorium seperti mengkaji evolusi arsitektur Masjid Nabawi, perubahan tata ruang, hingga dinamika sosial dengan pendekatan multidisiplin ilmu, seperti sejarah, geografi, dan arkeologi.
Memang, masyhur dalam cerita-cerita peradaban Islam bahwa wilayah sekitar Masjid tak hanya dijadikan tempat ibadah, namun juga tempat mengkaji seputar agama dan ilmu lainnya.
Begitupun ‘labolatorium’ ini, menjadikannya tempat menyaring, sekaligus memverifikasi pengetahuan tentang sejarah, geografi, dan peradaban kota yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW secara akademik.
Pusat studi ini dibangun pada tahun 1997 oleh Pangeran Abdulmajeed bin Abdulaziz Al Saud.
Sang pangeran ingin agar Madinah bukan hanya sebagai kota suci, tetapi juga sebagai objek kajian ilmiah yang dapat diabadikan di atas kertas.
Dari Arsip Manuskrip Jadi Lembaga Ilmiah
Kelebihan lembaga ini ada pada keunggulannya mengolah data menjadi rujukan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan koleksi lebih dari 70 ribu dokumen serta ratusan studi akademik, tempat ini jadi salah satu repostori terbesar yang membahas mengenai Kota Madinah.
Untuk setiap lembar manuskrip yang masuk ke sana tidak langsung dipercaya. Ia harus melewati jalan panjang. Dibuka, dibaca, ditimbang asal-usulnya. Dicek huruf demi huruf. Diuji dengan naskah lain.
Baru setelah lolos, ia boleh naik cetak jadi bagian dari ensiklopedia atau jurnal yang kelak dibaca peneliti dari Tokyo sampai London.
Sebab di zaman ini, cerita tentang Madinah bisa muncul di layar ponsel dalam sedetik. Ada yang benar, banyak yang keliru. Di situlah peran lembaga ini terasa.
Ia menjadi tapisan. Apa pun yang datang, dari kertas kuno yang rapuh sampai kisah yang diwariskan lewat mulut ke mulut, semua perlu ditanya dulu, benarkah bagian dari sejarah.
Mereka paham, Madinah bukan sekadar koordinat di peta. Kota ini adalah rumah kenangan umat. Salah tulis satu peristiwa, bisa salah pijakan jutaan hati.
Dulu Terkunci, Kini Terbuka
Dahulu, naskah-naskah tua itu tidur di lemari kayu. Debunya tebal, halamannya rawan robek.
Hanya sedikit orang yang bisa menyentuhnya.
Hari ini, naskah yang sama disalin ulang dengan teliti. Diberi catatan kaki oleh para ahli. Dipindai, lalu hidup lagi di layar digital.
Mahasiswa di Maroko bisa membacanya pagi ini. Profesor di Indonesia bisa mengutipnya malam nanti.
Inilah cara mereka menjodohkan tradisi dan teknologi. Menjaga yang lama, menyampaikannya dengan cara baru. Isinya tak berubah, hanya alat baca yang berubah, dahulu bersinar lampu, kini mungkin bersinar layar LED.
Lembaga ini juga tidak hanya duduk di belakang meja. Mereka turun mencatat denyut kota.
Bagaimana tiang Masjid Nabawi bertambah dari masa ke masa. Bagaimana gang-gang Madinah berubah bentuk.
Bagaimana pasarnya, rumahnya, orang-orangnya. Semua dipetakan. Sejarah, geografi, arkeologi, dan studi Islam duduk bersama di satu meja.
Tujuannya satu: agar cerita tentang Madinah tidak pincang dan putus di satu generasi.
Hasilnya sepadan, rak-rak mereka kini penuh. Ada ensiklopedia yang membedah tiap sudut arsitektur Masjid Nabawi. Ada rekaman suara kakek-kakek Madinah yang bercerita tentang kotanya lima puluh tahun lalu. Ada peta digital yang bisa menunjukkan, “di sinilah dulu rumah si fulan berdiri.”
Mereka tidak menunggu orang datang meminta. Mereka yang lebih dulu membangun. Sebab mereka tahu, pengetahuan yang baik tidak muncul tiba-tiba. Ia ditanam, dirawat, baru bisa dipanen.
Jembatan Ilmu dari Madinah untuk Dunia
Di satu sudut, ada layar yang memutar sejarah Arab Saudi. Dari masa negara pertama yang sederhana, hingga menjadi negara modern yang berdiri hari ini.
Foto hitam putih bersanding dengan citra satelit. Di sanalah kita paham: Madinah tidak berjalan sendiri. Ia tumbuh bersama negara, bersama zaman.
“Kalau mau tahu Madinah yang sebenarnya, jangan cuma dengar dari orang. Datang ke sini,” kata Rand an-Nour, lulusan Universitas Taibah, kampus yang kini jadi rekan lembaga ini dalam meneliti dan menggelar diskusi ilmiah.
Madinah hari ini terus berubah. Hotel tumbuh, jalan diperlebar, cahaya lampu makin terang. Tapi di tengah semua yang baru itu, ada kerja sunyi yang tidak berhenti. Mengarsip, membandingkan, memastikan.
Sebab mereka percaya, di balik tiap jengkal Kota Nabi yang bercahaya, ada lapisan kisah yang tidak boleh hilang. Dan tugas mereka adalah menjaganya. Bukan dengan cerita yang indah-indah saja, tapi dengan bukti yang bisa diuji.
Sebab pula, cara umat muslim mengobati rindu akan Nabi-Nya tak hanya cukup dengan ibadah, namun juga dengan membaca ulang lewat manuskrip tempat hijrahnya sang Nabi terakhir, Muhammad SAW.
Di tempat itulah ingatan tentang Madinah dijaga. Tenang, teliti, dan tidak pernah tidur. ***


