Haru dan Syukur Warnai Kepulangan Jemaah Haji; Petugas Dipuji Karena Kesigapannya
MADINAH – Momen kepulangan jemaah haji Indonesia dari Bandara Internasional Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah, Selasa (16/6/2026), berubah jadi suasana penuh haru dan syukur.
Di antara koper dan pelukan keluarga, terselip kisah kepedulian sesama jemaah serta apresiasi tulus untuk petugas yang bekerja tanpa lelah.
Terminal kedatangan dipenuhi doa, tangis, dan senyum lega. Dua hal yang paling menonjol, pengorbanan seorang jemaah merawat lansia tanpa pendamping, dan pujian untuk kesigapan petugas PPIH Daker Bandara yang sigap membantu jemaah kesulitan.
Salah satu cerita paling mengharukan datang dari Rustiningsih, jemaah Kloter SOC 45 Solo asal Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Perempuan ini tak kuasa menahan air mata saat mengenang 40 hari perjalanannya di Tanah Suci.
“Alhamdulillah, kami bersyukur bisa berhaji bersama suami tahun ini. Pelayanan dari hotel sampai Madinah benar-benar bagus. Tahun ini paling istimewa,” ujar Rustiningsih di area bandara, suaranya bergetar.
Harunya berlipat karena selama di Makkah-Madinah ia satu kamar dengan Mbah Juyatmi Trunojoyo, jemaah asal Blora berusia 85 tahun yang berangkat tanpa mahram atau pendamping khusus. Meski beda regu dan kloter, keduanya langsung klop seperti ibu dan anak.
Awalnya Rustiningsih hanya berniat membantu sebisanya. Tapi melihat kondisi Mbah Juyatmi yang sepuh dan harus bolak-balik ke Masjidil Haram, hatinya tergerak.
“Saya kasihan lihat Mbah sendirian. Jalan ke kamar mandi saja pelan. Saya anggap beliau seperti ibu saya sendiri,” katanya sambil mengusap mata yang berkaca-kaca.
Sejak hari itu, Rustiningsih jadi anak bagi Mbah Juyatmi. Ia membangunkan untuk tahajud, menemani wukuf di Arafah, mendorong kursi roda saat tawaf, menyiapkan makan, sampai mengurus dokumen kepulangan.
“Semua saya lakukan ikhlas. Semoga ini jadi amal ibadah saya selama di Tanah Suci. Pahalanya untuk Mbah juga untuk saya,” ucapnya lirih sebelum boarding.
Kisah ini jadi bukti nilai gotong royong jemaah Indonesia masih kuat. Di tengah jutaan manusia dengan bahasa dan budaya berbeda, kepedulian bisa tumbuh tanpa batas.
Selain kisah antar jemaah, apresiasi juga membanjir untuk petugas haji 2026. Muhammad Annas, jemaah Blora lainnya yang bertugas di Kementerian Haji dan Umrah, memuji gerak cepat PPIH Daker Bandara.
“Saya senang dengan petugas-petugasnya. Kalau ada jemaah tercecer, tersesat, atau kebingungan cari gate, mereka langsung menghampiri dan mengantar ke hotel atau terminal. Tahun ini petugasnya gesit sekali,” kata Annas.
Ia merasakan langsung pelayanan itu saat istrinya butuh kursi roda di bandara Madinah. Belum sempat mencari, petugas sudah datang menawarkan bantuan dan mengantar sampai ke pesawat.
“Tadi istri saya butuh kursi roda dan langsung dibantu petugas. Tanpa diminta. Hal-hal seperti ini tidak bisa dibohongi. Saya lihat sendiri bagaimana mereka bekerja cepat dan tulus 24 jam,” ungkapnya.
Annas yang akan memasuki masa pensiun 1 Juli 2026 mengaku bersyukur mendapat “kado” bisa berhaji sebelum purna tugas. Pengalaman ini sekaligus membuka matanya tentang pentingnya persiapan fisik.
Di sela rasa syukur, Annas menitip pesan untuk umat Islam di Tanah Air. Menurutnya, ibadah haji butuh stamina prima karena rangkaian ritualnya padat dan melelahkan.
“Saya berharap kaum muslimin segera mendaftar haji sejak usia muda. Haji membutuhkan kekuatan fisik dan kesehatan agar bisa menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik. Jangan ditunda-tunda,” pesannya.
Ia mencontohkan dirinya yang baru bisa berangkat menjelang pensiun. Meski bersyukur, ia merasa akan lebih maksimal jika berangkat di usia lebih muda.
Kisah Rustiningsih yang merawat lansia dan pujian Annas untuk petugas menjadi potret penyelenggaraan haji Indonesia 2026. Di balik angka dan statistik, ada nilai kemanusiaan yang membuat ibadah terasa lebih bermakna.
Petugas haji tahun ini memang disiapkan lebih banyak dan dilatih khusus untuk melayani jemaah lansia serta disabilitas. Hasilnya terlihat: antrean lebih tertib, respon lebih cepat, dan pelayanan lebih humanis.
Di tengah jutaan tamu Allah yang berkumpul di Tanah Suci, empati sesama jemaah dan kesigapan petugas meninggalkan kesan mendalam.
Kepulangan kali ini bukan hanya soal kembali ke Tanah Air, tapi juga membawa pulang pelajaran, bahwa haji mengajarkan untuk saling menjaga. (*/Red/MCH-2026)

