Ini Waktu yang Pas, Agar Tak Terjebak Macet Saat Balik Mudik

Dprd ied

FAKTA BANTEN – Ruas-ruas jalanan ibu kota diprediksi bakal kembali dipenuhi kendaraan bermotor mulai pekan depan. Sebabnya, Kementerian Perhubungan memperkirakan puncak arus balik akan terjadi pada hari keempat dan kelima setelah lebaran, atau Selasa dan Rabu 19-20 Juni 2018.

Prediksi puncak arus balik didasarkan atas asumsi orang bakal memanfaatkan betul masa liburan. Sementara itu, tanggal 20 Juni adalah hari terakhir cuti bersama yang ditetapkan pemerintah. Sehari setelahnya, mereka bakal kembali bekerja.

Jika asumsi puncak arus balik ini benar, maka waktu ideal kembali ke ibu kota adalah sebelum hari itu. Maka, menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiadi, hari paling tepat untuk kembali adalah Minggu (17/6/2018) besok dan Senin (18/6/2018) lusa.

“Kalau nggak, [balik] sesudah tanggal 21. Karena tanggal 22-24 juga puncak arus balik (tak sebesar 19-20 Juni). Jadi kalau mau, masyarakat mulai malam ini bergerak ke Jakarta, karena liburnya kan sudah panjang,” ujar Budi, Sabtu (16/6/2018).

Mengakali Arus Balik

Pemerintah mengklaim sudah membuat skema untuk menghadapi kemungkinan terjadi penumpukan kendaraan berlebihan terjadi pada puncak arus balik. Budi mengatakan ada dua skema yang disiapkan Kemenhub dan Korps Lalu Lintas (Korlantas Polri).

Pertama, jumlah kendaraan barang yang bisa melintas di Tol Jakarta-Cikampek dan Jakarta-Merak bakal dibatasi. Kedua, akan disiapkan tempat peristirahatan (rest area) tambahan di dalam dan luar jalan tol.

Solusi kedua dipersiapkan karena berdasarkan analisis dua instansi ini, penumpukan kendaraan di jalan tol disebabkan salah satunya karena antrean menuju rest area, di samping karena penyempitan jalan akibat pembangunan LRT (Light Rail Transit). Antrean yang mengular di rest area disebabkan karena pemudik bakal berlama-lama di sana.

Ada 7 tempat peristirahatan di tol yang akan ditambah.

“Jadi beberapa rest area di jalur A (tol dari Jakarta) di sekitar Tegal dan Pemalang kami fungsikan sebagai rest area juga untuk pengendara di jalur B (arah Semarang-Jakarta). Nanti pengendara bisa menyeberang,” kata Budi.

Pemerintah juga menyiapkan lokasi istirahat di luar tol, tepatnya di kawasan Batang, Pekalongan, dan Tegal. Tempat-tempat pemberhentian di sana dirancang untuk memanjakan pemudik lewat konsep wisata kuliner.

Budi menambahkan petugas Kemenhub dan Korlantas Polri akan mengarahkan dan memasang rambu menuju tempat istirahat di luar tol mulai kawasan Batang, Jawa Tengah. Harapannya, pemudik bisa rehat di luar jalan bebas hambatan agar tak menumpuk di tempat peristirahatan tol.

“Jadi masyarakat bisa istirahat tapi bisa juga berkuliner dan beli oleh-oleh. Silakan istirahat di kota-kota itu sambil makan. Setelah itu masuk jalan tol lagi. Kami sudah koordinasi dengan Bupati dan Wali Kota,” ujarnya.

Kemenhub dan Korlantas Polri juga menyiapkan tiga rancangan pengaturan lalu lintas, mengantisipasi jika penumpukan kendaraan tetap terjadi.

Pertama, akan dibuka tambahan ruas di jalan tol bagi pemudik yang menuju Jakarta. Penambahan jalur (contra flow) dilakukan jika kondisi kemacetan masuk kategori biasa. Kedua, penambahan jalur akan dilakukan permanen pada waktu-waktu tertentu jika kepadatan kendaraan masuk kategori berat. Terakhir, Korlantas dan Kemenhub akan menutup sama sekali jalur tol dari Jakarta jika volume kendaraan sudah mencapai taraf ‘gawat’.

“Kalau sudah menumpuk, [jalur tol] dari Tegal sampai Cikampek dibuat satu jalur. Indikatornya Jasa Marga [yang tentukan], bisa dari melihat tingkat kepadatan di Gerbang Tol Cikarang Utama,” katanya.

Alasan Pemudik Balik di Puncak Arus Balik

Meski prediksi puncak arus balik sudah dikeluarkan dan bisa dibaca di mana-mana, pemudik memilih tetap kembali ke ibu kota dan sekitarnya pada H+4 dan H+5 lebaran.

Mulyanto misalnya, pemudik asal Cirebon, salah satunya. Ia mengaku akan tetap pulang ke ibu kota saat puncak arus balik, tepatnya pada Rabu 20 Juni. Alasannya klasik: ingin menghabiskan waktu lebih lama di kampung.

Pria yang bekerja di perusahaan swasta di Jakarta Selatan itu sudah harus bekerja pada Kamis, 21 Juni.

“Baliknya hari terakhir libur. Soalnya enggak cuma ketemu sanak keluarga di kampung, tapi juga ziarah ke beberapa makam keluarga. Ada banyak urusan juga,” ujar Mulyanto.

Hal serupa dikatakan Gilang Pratama. Pria asal Cianjur, Jawa Barat itu bersikukuh hendak kembali ke ibu kota pada 20 Juni. Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama di kampung dan memilih berlibur di Cianjur dibanding harus kembali lebih cepat ke ibu kota.

Pemudik lain bernama Priska Sari juga punya alasan yang sama dengan Mulyanto dan Gilang. Perempuan yang mudik ke Yogyakarta itu mengaku bingung jika harus kembali ke ibu kota lebih cepat.

“Kalau pulang ke Jakarta sebelum 19 Juni saya bingung mau ngapain,” kata Priska.

Masih banyak orang-orang seperti Mulyanto, Gilang, atau Priska. Imbauan pemerintah untuk pulang lebih cepat, bagi mereka, tidak berarti sama sekali dibanding waktu yang amat berharga bersama keluarga. (*/tirto.id)

Golkat ied