KH Ma’ruf Amin Ternyata Pernah Jadi Santri Al-Khairiyah Citangkil

Gerindra Nizar

 

CILEGON – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Dr KH Ma’ruf Amin lahir di Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, 11 Maret 1943. Ayahnya bernama KH Mohamad Amin, ulama besar di wilayah Barat Tangerang yang muridnya tersebar di penjuru Banten.

Ma’ruf kecil menjalani pendidikan di Desa Kresek, Tangerang. Pagi hari bersekolah di SD, sorenya ia mengaji ke Madrasah Ibtidaiyah (MI). Semasa pendidikan dasar, Ma’ruf juga sempat mondok selama enam bulan di Pesantren Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon, Banten.

Fraksi serang

Al-Khairiyah yang didirikan oleh KH Syam’un (1894-1949) menjadi pesantren generasi pertama yang alumnusnya banyak melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar, Mesir. Salah-satunya adalah Prof Dr KH Wahab Afif mantan Ketua MUI Banten 2001-2011 sekaligus mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Banten 1979-1985.

Selepas pendidikan dasar dari Pesantren Citangkil, pada usia 12 Tahun (1955), Ma’ruf merantau ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

Fraksi

Kecenderungan anak muda di kampung Ma’ruf memang melanjutkan belajar ke Pesantren di Jawa Timur. Sebagian besar ke Tebu Ireng, sebagiannya lagi ke Pondok Modern Daarussalam, Gontor.

Kiyai Amin (sang ayah) melarang puteranya nyantri ke Gontor. Kiyai Amin lebih cocok dengan pesantren metode pembelajaran salafiah semacam Tebu Ireng. Alasan utamanya adalah bahwa KH Hasyim As’ari (Pendidri NU) adalah murid Syiekh Nawawi Al-Bantani, ulama terkemuka asal Banten, yang menghabiskan banyak waktu mengajar di Makkah.

KH Ma’ruf Amin masih memiliki kaitan kekerabatan dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani. Memang bukan keturunan langsung, melainkan saudara Syeikh Nawawi punya keturunan yang bersilsilah sampai kepada KH Ma’ruf Amin.

Kelak pada tahun 2001, KH Ma’ruf Amin mendirikan pesantren untuk melanjutkan perjuangan Syeikh Nawawi Al-Bantani yang berlokasi di Desa Tanara, Tirtayasa, Kabupaten Serang. Nama Pesantren tersebut diberi nama, pesantren An-Nawawi. (*)

 

 

 

 

Sumber: alkhairiyah.or.id

Gerindra kuswandi