Kisah Pemilik Pabrik Kimia PT Indorama; Lahir di India, Kaya di Indonesia dan Tua di London

JAKARTA – Keputusan Sri Prakash Lohia hijrah dari India ke Indonesia pada 1973 silam boleh dibilang langkah cemerlang yang pernah diambilnya. Nasibnya berubah. Bahkan, Lohia menjadi potret imigran sukses setelah didapuk menjadi orang terkaya ke-5 Indonesia.

Kekayaan Lohia, menurut Forbes, mencapai US$6,6 miliar atau setara Rp94,05 triliun (Rp14.250 per dolar AS) pada Rabu (8/9). Kekayaannya berhasil menandingi Prajogo Pangestu yang saat ini mencapai US$5,9 miliar, dan seperenam dari yang dikantongi Budi dan Michael Hartono.

Kesuksesan Lohia tidak terjadi dalam semalam. Ia mendirikan Indorama Corporation. Jika dibandingkan namanya, Lohia, yang mungkin terdengar asing, Indorama sedikit lebih populer. Ya, Indorama adalah perusahaan petrokimia dan tekstil yang berkantor pusat di HR Rasuna Said, Jakarta.

Perusahaan ini didirikan pada 1975 lewat Indorama Synthetics sebagai perusahaan pemintalan benang kapas. Pada 1991 silam, perusahaan melakukan diversifikasi ke produksi serat poliester dan turunan petchem.

Di bidang petrokimia, Indorama juga memproduksi pupuk nitrogen, pupuk fosfat, polietilen, tekstil, serat kapas, sampai sarung tangan medis. Pabriknya tersebar hingga ke delapan negara.

Di Nigeria, tangan dingin Lohia berhasil mendirikan Indorama Eleme Petrochemicals Limited. Begitu pula di Senegal, India, Malaysia, termasuk Uzbekistan dengan FE Indorama Agro LLC dan JSC Indorama Kokand Fertilizers and Chemicals-nya.

Lohia lahir di Kolkata, India, pada 11 Agustus 1952. Di hijrah ke Indonesia pada usia 21 tahun. Ia menghabiskan sebagian besar kehidupan profesionalnya di Indonesia hingga mencetak miliaran dolar AS dan berhasil menduduki peringkat orang terkaya ke-404 di dunia.

Bachelor of Commerce University of Delhi itu pindah ke Indonesia bersama orang tuanya. Mereka kemudian merintis Indorama Synthethics. Sembari mendaki bukit kesuksesan di Indonesia, pada 2006 silam, Lohia juga mengakuisisi pabrik olefin terintegrasi di Nigeria.

Awalnya ia ragu, melihat kondisi pabrik yang menyedihkan dan beroperasi jauh di bawah kapasitasnya. Namun, tangan dinginnya mengubah Eleme Petrochemicals yang kemudian menjadi produsen olefin terbesar kedua di benua Afrika.

“Boleh dibilang kami adalah salah satu kisah sukses privatisasi terbaik di Nigeria,” ujarnya bangga dikutip dari Quartz India, media lokal India pada 2015 lalu.

Tidak cuma mengubah Eleme menjadi produsen olefin terbesar di Nigeria, Lohia juga berhasil membantu neraca perdagangan negara itu dengan mengurangi impor resin.

Ia memperkirakan Eleme telah menghemat impor Nigeria sebesar US$1 miliar sejak ia mengambil alih perusahaan sekaligus menjadi perusahaan dengan bayaran pajak terbesar.

Wajar bila Lohia menepuk dadanya. Ia berhasil membuka lapangan kerja hingga 18 ribu pekerjaan di seluruh grup usahanya. Nigeria mendominasi penyerapan tenaga kerja Indorama Corporation.

Maklumlah, pabrik di Nigeria pun menjadi salah satu bisnis utama perusahaan yang menyumbang pendapatan hingga lebih dari US$7 miliar per tahun pada 2015 lalu.

Di usianya yang tidak lagi muda, Lohia memilih menghabiskan masa tuanya di London, Inggris, bersama istri tercintanya, Seema Lohia.

Sang putra, Amit Lohia, dipercaya memegang jabatan sebagai direktur pelaksana Indorama Corporation, termasuk direktur di sejumlah anak perusahaan.

Lohia ialah adik ipar dari Lakshmi Mittal, miliarder perusahaan baja India yang juga tinggal di London.

Ia pemimpin dari Mittal Steel Company yang sempat membangun PT Ispat Indo di Waru, Jawa Timur, pada 1976 silam.

Lohia tidak kaya seorang diri. Anggota keluarganya yang lain pun berhasil menjadi taipan setelah merintis karir di Indorama Synthetics.

Aloke Lohia, salah satunya yang berhasil mendirikan Indorama Ventures di Thailand, dan Om Prakash Lohia menjadi pimpinan Indorama Synthetics India.

Alexander Tedja, Kaya Raya dari Bangun Mal
Dalam wawancara dengan Quartz India pada 2013 lalu, Lohia bercerita asal muasal nama Indorama.

“Indo adalah nama untuk Indonesia dan Rama nama dari Dewa Rama. Periode tersulit hanya tiga hingga empat tahun pertama,” imbuh Lohia mengenang.

Kini, dari London, ia mengamati hasil tangan dinginnya di Indorama yang mencatat total pekerja 18 ribu orang di seluruh dunia, dan beroperasi lewat 20 pabrik di lebih dari 8 negara. (*/CNN)

Demokrat
Royal Juli