Wisata Anyer

Kyai yang Jadi Jemaah Ini Sebut Haji 2026 Bayar Terlalu Murah untuk Pelayanan yang Memuaskan

SOLO – Suasana khidmat sekaligus haru menyelimuti Aula Embarkasi Solo saat menyambut kepulangan jemaah haji Kloter 66 asal Kabupaten Sragen.

Momentum pemulangan jemaah haji tahun 1447 H/2026 M ini menjadi perhatian khusus, karena pertama kali ibadah haji dikelola langsung di bawah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).

Dalam acara penyambutan resmi tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Salamah Wabarokah Sragen, KH. Ma’shum Abi Darda, memberikan pesan dan kesan mewakili seluruh jemaah.

Di hadapan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak, Kyai Ma’shum secara blak-blakan memuji keberanian Presiden Prabowo Subianto yang berhasil mengeksekusi pembentukan kementerian khusus ini.

Pemisahan ini, kata, Pimpinan Ponpes Salamah Wabarokah Sragen-Jawa Tengah itu, merupakan sebuah gagasan yang sudah dicita-citakan selama puluhan tahun, namun baru terealisasi di era sekarang.

Dalam sambutannya yang disambut riuh tepuk tangan jemaah, Kyai Ma’shum menekankan bahwa pemisahan urusan haji menjadi kementerian mandiri telah membawa dampak perubahan yang luar biasa pada kualitas pelayanan di tanah suci.

“Bapak Presiden Prabowo ini dengan keberaniannya membentuk Kementerian Haji, yang hasilnya kita rasakan pada hari ini,” ujar Kyai Ma’shum dengan nada semangat.

Ia melaporkan bahwa seluruh jemaah dari Kloter 66 Sragen dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah, mulai dari berangkat hingga kembali ke tanah air, dalam kondisi selamat, sehat wal afiat, dan tanpa kendala yang berarti.

Salah satu bagian menarik dari testimoni Kyai Ma’shum adalah ketika ia membagikan cerita unik saat para jemaah sedang berkumpul di tenda Mina.

Lantaran fasilitas yang didapatkan sangat nyaman dan pelayanannya dinilai sangat memanusiakan jemaah, ada salah satu jemaah yang berseloroh mengenai biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang mereka bayar.

“Ketika di Mina, waktu ngobrol-ngobrol itu ada jemaah yang bilang begini: Kiai, kalau pelayanannya begini, bayar hajinya terlalu murah, Saya jawab: Ya mesti pelayanannya bagus. Yang kedua, kita kan dapat surga, masa surga cuma Rp 55 juta?” kenang Kyai Ma’shum yang spontan memancing tawa dari Wamenhaj Dahnil dan seluruh jemaah yang hadir.

Ia juga menceritakan, fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang biasanya menjadi titik paling rawan terjadinya kemacetan logistik dan keluhan jemaah, justru menjadi catatan sukses terbesar pada musim haji kali ini.

Kyai Ma’shum yang juga jamaah haji reguler Embarkasi Solo bersaksi, bahwa urusan konsumsi dikelola dengan sangat profesional hingga jemaah mengalami surplus makanan.

Selain itu, dari ketepatan waktu, distribusi makanan dilakukan sangat cepat dan terjadwal dengan baik.

Saking melimpahnya konsumsi, kata dia, jemaah bahkan berkelakar belum sempat merasa lapar namun paket makanan berikutnya sudah tiba.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang kerap diwarnai dinamika masalah di Muzdalifah atau Mina, tahun ini fase kritis tersebut berhasil dilewati dengan sangat mulus.

Kyai Ma’shum juga mengapresiasi regulasi Kemenhaj yang memberikan proteksi dan kemudahan luar biasa bagi para jemaah lanjut usia (lansia).

Ia mencontohkan salah satu jemaahnya, Mbah Haji Kadio, yang baru mendaftar sekitar 5 tahun lalu, namun langsung mendapatkan kuota prioritas keberangkatan tahun ini karena faktor usia.

Ia pun berpesan kepada masyarakat luas agar tidak perlu ragu atau takut untuk mendaftarkan orang tua mereka yang sudah sepuh untuk pergi haji.

Selain regulasi yang ramah lansia, dedikasi para petugas haji di lapangan, khususnya tim kesehatan mendapat acungan jempol tertinggi.

Kyai Ma’shum menceritakan bagaimana para petugas medis secara proaktif melakukan pemeriksaan dari kamar ke kamar memastikan, guna tidak ada jemaah yang telantar atau sakit tanpa penanganan.

“Para petugas itu kalau di Sragen mungkin malu ya ditunjuk-tunjuk (disuruh-suruh), tapi karena di sana mereka niatnya melayani Duyufur Rahman (tamu Allah), tidak ada yang merasa malu atau sungkan. Semuanya cekatan, masya Allah,” tambahnya.

Terakhir, Kyai Ma’shum mewakili seluruh jemaah menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh jajaran Kemenhaj, sekaligus memohon maaf jika selama pelaksanaan ibadah terdapat tindakan jemaah yang kurang berkenan.

Ia berharap manajemen dan sistem yang sudah berjalan sangat baik pada tahun pertama Kemenhaj ini dapat terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan untuk musim-musim haji di tahun berikutnya.

Acara pun ditutup dengan doa bersama agar seluruh jemaah meraih predikat haji mabrur dan ikatan persaudaraan yang terjalin selama di tanah suci dapat terus terjaga hingga akhirat. (*/Red/MCH-2026)

Hari Narkotika DPRD Banten
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien