Masjid Qiblatain, Jejak Berpindahnya Kiblat Umat Islam dari Al-Aqsa ke Ka’bah
MADINAH – Hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari Masjid Nabawi, berdiri sebuah masjid yang menyimpan sejarah besar umat Islam, Masjid Qiblatain.
Namanya berarti Dua Kiblat, karena di tempat inilah arah salat umat Islam resmi berpindah dari Baitul Maqdis ke Ka’bah.
Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Bani Salimah. Nama itu diambil dari nama kawasan permukiman Bani Salimah di zaman Rasulullah SAW.
“Keturunan Bani Salimah adalah salah satu kaum yang sangat setia mendukung perjuangan Rasulullah di Madinah,” ujar Ustadz Ibrahim Al Haq, seorang muthawif, saat mendampingi jemaah.
Dulu, jarak masjid yang cukup jauh dari pusat kota membuat Bani Salimah sempat berniat pindah rumah agar lebih dekat dengan Rasulullah SAW. Namun Rasulullah SAW justru meminta mereka tetap tinggal.
Beliau menenangkan mereka dengan sebuah kabar gembira, jika kalian berjalan jauh ke Masjid Nabawi, maka setiap langkah kaki kalian akan dilipatgandakan pahalanya.
Sejarah paling agung di masjid ini terjadi pada masa awal Islam. Saat itu, umat Islam masih shalat menghadap Baitul Maqdis di Palestina.
Kondisi itu membuat Rasulullah SAW terus berdoa agar Allah SWT menentukan kiblat baru. Doa itu dikabulkan tepat di masjid ini.
“Ketika Rasulullah sedang shalat Zuhur atau Ashar, di rakaat kedua turunlah ayat yang memerintahkan arah kiblat dipalingkan ke Masjidil Haram di Makkah,” jelas Ibrahim.
Tanpa menunggu shalat selesai, Baginda Nabi langsung memutar badan 180 derajat di tengah shalat.
Beliau berpindah dari shaf depan ke shaf paling belakang agar tetap menjadi imam.
Para makmum pun ikut memutar arah bersama beliau. Sejak saat itu, kiblat umat Islam resmi mengarah ke Ka’bah.
Untuk mengenang peristiwa itu, Pemerintah Arab Saudi merawat masjid ini dengan baik. Saat renovasi besar, dibangun sebuah mihrab kecil di dekat pintu masuk.
“Mihrab kecil itu bukan untuk shalat, melainkan sebagai penanda. Di titik inilah dulu kiblat pertama mengarah ke Baitul Maqdis,” terang Ustadz Ibrohim.
Adapun mihrab utama yang digunakan jemaah saat ini tetap menghadap ke Ka’bah. Karena itulah masjid ini disebut Qiblatain, masjid dengan dua arah kiblat.
Hingga kini, Masjid Qiblatain menjadi salah satu destinasi wajib jemaah di Madinah.
Bukan hanya untuk shalat, tetapi juga untuk merenungi momen ketika doa seorang Nabi dijawab langsung oleh Allah, dan mengubah arah ibadah jutaan umat di seluruh dunia. (*/Red)

