Melihat Kebun Kurma Ajwa Terbesar di Madinah, Castle Farms Jadikan Indonesia Pasar Utama
MADINAH – Nama kurma Ajwa Madinah sudah melegenda di kalangan umat Islam. Di balik popularitas itu, Castle Farms hadir sebagai salah satu produsen terbesar di Arab Saudi.
Perkebunan seluas 60 ribu meter persegi di Madinah itu kini mampu mengekspor lebih dari 500 ton kurma Ajwa per tahun ke sekitar 25 negara, dengan Indonesia masuk sebagai salah satu pasar utama.
Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Strategic Director Castle Farms, Dr. Abdulmoizz Shakeel, saat menerima kunjungan media di lokasi kebun, Jum’at 12 Juni 2026.

Kunjungan itu menjadi momen langka untuk melihat langsung rantai produksi kurma Ajwa dari pohon hingga siap ekspor.
“Castle Farms adalah salah satu produsen Ajwa terbesar di wilayah Madinah. Alhamdulillah, alhamdulillah, kami mengekspor ke sekitar 25 negara,” ujarnya.
Keunggulan Castle Farms tidak lepas dari pengalaman panjang. Dr. Abdulmoizz menyebut, perusahaan ini sudah digeluti selama tiga generasi.
Pengetahuan turun-temurun tentang cara menanam, merawat, hingga memanen kurma menjadi modal utama mereka.

“Pengalaman tiga generasi itu kami gunakan untuk membudidayakan Ajwa dan varietas unggulan lain seperti Sukkari, Majdool, Anbara, dan Sugai,” jelasnya.
Lahan yang dikunjungi media seluas 60 ribu m² merupakan salah satu kebun inti sekaligus lokasi pabrik pengolahan.
Saat media datang, kondisi pohon Ajwa masih berwarna hijau karena baru memasuki fase awal pertumbuhan buah.
Warna hitam pekat khas Ajwa baru akan muncul menjelang musim panen beberapa bulan ke depan.
“Panen hanya sekali dalam setahun. Pohon kurma mulai berproduksi pada usia 4-5 tahun. Jika dirawat dengan baik, satu pohon bisa terus menghasilkan buah selama 35 sampai 40 tahun,” tutur Dr. Abdulmoizz.
Ia menekankan, perawatan adalah kunci. Air harus dalam jumlah optimal, pemangkasan daun dan pelepah harus tepat waktu, serta pemupukan harus sesuai standar. Tanpa itu, kualitas dan kuantitas buah akan turun drastis.
Yang membedakan Castle Farms dari perkebunan tradisional adalah fasilitas pascapanen.
Setelah dipetik, kurma tidak langsung dikemas. Semua proses dilakukan di pabrik milik sendiri yang berada satu lokasi dengan kebun.
Tahap pertama, kurma dibersihkan dan dipoles untuk menghilangkan debu serta kotoran. Setelah itu masuk ke mesin sortir berbasis AI dengan teknologi optical sorter.
Mesin ini bekerja otomatis memilah kurma berdasarkan 4 parameter: kelembapan, berat, ukuran, dan warna.
“Mesin itu memilah berdasarkan kelembapan, berat, ukuran, dan warna. Jadi kualitasnya konsisten. Setelah grading selesai, kurma dipisahkan lalu disimpan,” jelasnya.
Penyimpanan dilakukan sesuai regulasi ketat SFDA, Saudi Food and Drug Administration, otoritas pengawas obat dan makanan Arab Saudi. Suhu, kelembapan, dan kebersihan gudang semua mengikuti standar internasional.
Menariknya, teknologi tidak menggantikan peran manusia. Setelah disortir mesin, kurma tetap melewati pemeriksaan manual oleh pekerja.
“Obviously first the machine and then the human factor. Kami pastikan tidak ada yang terlewat,” katanya.
Pengemasan pun dilakukan otomatis untuk menjaga higienitas. Setelah dikemas, kurma disimpan di gudang bersuhu terkontrol sebelum dikirim ke pelabuhan dan diterbangkan ke berbagai negara tujuan.
Baginya, menjual kurma Ajwa bukan sekadar bisnis. Ada nilai spiritual di baliknya. Ajwa dikenal sebagai kurma yang disebut Nabi Muhammad SAW, sehingga kualitasnya menjadi tanggung jawab moral.
“Kami berikan perhatian khusus agar produknya top-notch. Ini subhanallah, yakni ini adalah sebuah amanah bagi kami untuk membuat yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Jadi inilah yang kami yakini dan inilah yang kami bawa ke meja Anda untuk Anda konsumsi,” ucapnya.
Semua sertifikasi yang dibutuhkan pasar global disebut sudah dimiliki dan selalu diperbarui. Mulai dari sertifikasi halal, food safety, hingga standar ekspor ke Uni Eropa dan Amerika.
Dari total ekspor, Indonesia disebut sebagai salah satu tujuan utama. Selain Indonesia, Castle Farms juga mengirim kurma ke negara-negara di Timur Tengah, kawasan Afrika, Asia, serta Amerika Utara termasuk Kanada dan Amerika Serikat.
“One of the biggest markets that we have, we have Indonesia alhamdulillah,” kata dia .
Ia menambahkan, produksi Castle Farms 100% hasil kebun sendiri. Tim internal yang menangani, mulai dari petani di kebun hingga operator di pabrik.
Ini untuk menjaga konsistensi rasa dan kualitas Ajwa yang menjadi ciri khas Madinah.
Dengan kombinasi warisan petani, teknologi AI, dan standar SFDA, Castle Farms berharap bisa terus memenuhi kebutuhan umat Islam di seluruh dunia terhadap kurma Ajwa asli Madinah, termasuk jutaan konsumen di Indonesia yang menjadikan kurma ini favorit saat Ramadan maupun konsumsi harian. (*/Red/MCH-2026)


