Wisata Anyer

Jemaah Haji dari PERSIS Banten Istiqamah Sempatkan Shalat Sunnah di Masjid Quba Setiap Hari: Pahalanya Setara Umrah

MADINAH – Komitmen spiritual dibuktikan oleh jemaah haji yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Persatuan Islam (PERSIS) Banten saat berada di Madinah Al-Munawarah

Selama berada di Kota Nabi, mereka mengisi hari-hari dengan ibadah di Masjid Nabawi, kajian ilmu agama, ziarah, serta merutinkan shalat sunah dhuha di Masjid Quba.

Masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah itu, menjadi tujuan harian jemaah PERSIS untuk mengejar fadilah besar.

Salah satu jemaah dari KBIHU PERSIS Banten Bakti Sulistyono menceritakan, aktivitasnya bersama para jemaah selama di Madinah yang padat ibadah namun tetap dijalani dengan senang hati.

“Ya, kita selama di Madinah ini banyak melakukan ibadah di Nabawi, shalat, ngaji, ikut kajian, gitu. Sampai itu juga kita pergi ke Masjid Quba,” kata dia.

Menurut Haji Bakti, motivasi utama jemaah datang ke Quba adalah fadilah yang disebutkan dalam hadits.

“Jadi untuk melakukan shalat sunah di sini, sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah, kalau melakukan shalat sunah di Masjid Quba, pahalanya sama dengan kita melakukan umrah,” tuturnya.

Haji Bakti menyebut, jemaah KBIHU PERSIS Banten sepakat rutin melakukan kunjungan ke Masjid Quba dengan cara mengendarai Buggy Car setiap pagi dari Kawasan Nabawi, dan pulangnya mengendarai taksi yang mengantar langsung ke hotel.

“Alhamdulillah, kita rutinkan. InsyaAllah tiap hari kita datang, kita bersama-sama untuk melakukan shalat sunnah di Masjid Quba ini selama di Madinah,” jelasnya.

Meski kondisi fisik tidak selalu prima karena perjalanan dan aktivitas padat, semangat jemaah tidak surut. Ia mengungkapkan, pernah merasa sedikit sakit, namun hal itu tidak menghalangi untuk mengejar ibadah sunnah.

“Walaupun memang kita ada sedikit sakit-sakit, tapi insyaAllah bisa kita jalankan ibadah-ibadah sunnah selama di Madinah,” ungkap Haji Bakti.

Selain ibadah mahdhah, jemaah juga mengisi waktu dengan ziarah dan tafakur sejarah. Haji Bakti menyebut Madinah memiliki nilai lebih karena jemaah bisa langsung menelusuri jejak perjalanan Nabi Muhammad SAW.

“(Madinah) Cantik banget. Jadi, cukup bagus untuk kita melakukan ibadah di sini. Di samping itu kita juga bisa berziarah atau kita bisa napak tilas dari perjalanan Nabi seperti di Jabal Uhud,” katanya.

Suasana kota yang tenang dan fasilitas yang tertata rapi disebut mendukung kekhusyukan ibadah jemaah. Hal itu membuat waktu di Madinah terasa singkat karena padat kegiatan ibadah.

Diketahui, jemaah haji Indonesia gelombang kedua ini mendapatkan kesempatan berada di Madinah hanya selama 9 hari, sebelum nantinya kembali pulang ke tanah air.

Terkait pelayanan haji dari Pemerintah Indonesia, jemaah lainnya Willy Fadli memberikan penilaian positif. Ia membandingkannya dengan cerita jemaah haji yang pernah berangkat tahun-tahun sebelumnya.

“Sejauh ini kalau dari saya merasa cukup bagus. Kalau cerita dari pengalaman sebelumnya, mungkin lebih bagus dibandingkan sebelumnya pelayanannya. Terima kasih untuk Pemerintah,” ucap Haji Willy.

Haji Willy menitipkan pesan untuk jemaah haji dan masyarakat Indonesia. Ia berharap kebiasaan ibadah yang terbentuk selama di Tanah Suci tidak berhenti setelah pulang ke rumah.

“Selama berada di Tanah Suci ini kita banyak melakukan ibadah. Ringan melakukan ibadah itu dan mudah-mudahan sebaliknya ke Tanah Air, terbawa kebiasaan itu, kita bisa melakukan ibadah secara rutin, baik ibadah sunnah maupun wajib. Dan itu kita harapkan juga semua masyarakat Muslim di Indonesia melakukan itu semuanya,” pesannya.

Jemaah asal Kota Serang Banten ini juga mendoakan agar seluruh muslim Indonesia dimudahkan rezeki dan kesempatannya untuk bisa beribadah ke Tanah Suci.

“Kita juga bisa balik lagi ke sini, dan semua masyarakat Muslim Indonesia juga bisa segera mungkin ke sini. Iya, mudah-mudahan bisa dimudahkan untuk bisa datang ke sini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala PPIH Daerah Kerja Madinah, Khalilurrahman, bersama tim Media Center Haji (MCH) juga berkesempatan mengunjungi Masjid Quba pada Sabtu (20/6/2026) pagi lalu.

Diketahui, Masjid Quba ini hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari Masjid Nabawi, dan hanya membutuhkan waktu 30 menit saja dengan berjalan kaki.

Di pelataran masjid yang berciri khas memiliki empat menara tinggi dan enam kubah itu juga terdapat kawanan burung dara yang kerap berterbangan di sekitar Masjid.

Dikatakan Kadaker Madinah, Khalilurrahman, jika ingin mendapatkan keutamaan pahala shalat sunnah di Masjid Quba maka sebaiknya sudah datang dalam keadaan bersuci.

“Masjid ini disunnahkan oleh Baginda Rasulullah untuk shalat dengan tata cara sebelum shalat hendaklah dia berwudhu di rumahnya. Kemudian kata Baginda Rasul,  seperti yang tercantum dalam hadits bahwa barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian shalat di Masjid Quba maka baginya pahala seperti pahala Umrah. Mudah-mudahan kita mendapatkan ganjaran pahala umrah,” kata Khalilurrahman.

Lebih lengkap, hadits yang tertera di tembok Masjid Quba adalah sebagai berikut:
مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيهِ صَلاَةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ

Artinya: Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia sholat di dalamnya. Maka baginya pahala seperti pahala umrah. (HR Tirmizi dan Ibnu Majah). (*/Red/MCH-2026)

DPRD Banten Tahun Baru Islam
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien