Pergerakan Jemaah ke Armuzna Mulai 8 Dzulhijjah Pagi Hari, Lansia dan Disabilitas Harus Diprioritaskan
MAKKAH – Kesiapan transportasi menjelang puncak prosesi ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), menjadi fokus utama yang terus dimatangkan oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).
PPIH harus bisa memastikan pergerakan 527 kloter jemaah haji Indonesia berjalan dengan lancar dan tepat waktu.
Untuk menghindari keterlambatan jemaah datang ke lokasi Armuzna, PPIH telah menetapkan waktu awal keberangkatan yakni mulai pagi hari di tanggal 8 Dzulhijjah atau 25 Mei 2026.
“Kami siapkan jadwal pergerakan untuk 527 kloter menuju Armuzna. Trip pertama dari Makkah akan dimulai pukul 07.00 pagi. Oleh karena itu, kami membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) yang wajib dipatuhi jemaah,” ujar Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi, Syarif Rahman, Rabu (20/5/2026) malam.
PPIH juga telah mengatur timeline persiapan bagi jemaah, sebelum keberangkatan menggunakan bus ke Armuzna.
Dalam pengaturan, enam jam sebelum keberangkatan, jemaah sudah harus menyiapkan perbekalan masing-masing.
Kemudian, tiga jam sebelum keberangkatan, jemaah sudah selesai memakai pakaian ihram. Terakhir, satu jam sebelum keberangkatan jemaah sudah turun dan berkumpul di lobi hotel.
“Dengan demikian, keberangkatan ke Armuzna akan mengikuti jadwal tersebut. Jika dipatuhi dan ditaati, insyaAllah tidak akan ada yang terlambat. Pola yang sama juga akan diterapkan untuk pergerakan dari Arafah ke Muzdalifah, Mina, hingga kembali lagi ke Makkah,” ungkapnya.
Untuk mengontrol pergerakan jemaah, PPIH akan dibantu oleh Ketua Regu (Karu) yang masing-masing membawahi 10 orang jemaah.
Mengenai armada bus yang dikerahkan, Syarif menjelaskan bahwa regulasi pergerakan dari Makkah ke Arafah mengacu pada norma yang ditetapkan oleh Naqabah (Organda Arab Saudi).
Setiap Maktab/Markaz yang menampung sekitar 3.000 jemaah akan difasilitasi oleh 7 unit bus dari Naqabah.
Bus-bus ini akan beroperasi dalam 3 sif waktu (pagi, siang, dan sore), di mana setiap sifnya bus akan berputar sebanyak 3 kali (trip).
Sementara itu, untuk pergerakan dari Arafah ke Muzdalifah, pihaknya menerapkan dua program sekaligus, yaitu skema Taradudi dan Murur.
Dipisahkan secara mandiri antara pintu jalur Murur dan pintu jalur Taradudi agar tidak terjadi penumpukan jemaah.
Shift pertama pukul 19.00 – 23.00 Waktu Arab Saudi dengan target menggerakkan sekitar 160.000 jemaah secara bersamaan melalui bus masing-masing.
Shift kedua mulai pukul 23.00 Waktu Arab Saudi, sisa jemaah yang masih berada di Arafah seluruhnya akan dimururkan.
“Ini berdasarkan hasil rapat dengan Baiah Al-Malakiah, bahwa di sif kedua maka jemaah melewati Muzdalifah tanpa turun, langsung menuju tenda di Mina,” tandasnya.
Menjelang puncak haji yang sudah di depan mata, Syarif juga mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh jemaah dan petugas di lapangan. Faktor kesehatan dan keselamatan harus menjadi panglima utama.
Sesuai dengan tagline haji tahun ini, yaitu Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan, dirinya menegaskan bahwa urutan sirkulasi jemaah saat memasuki bus telah diatur sedemikian rupa demi menghadirkan rasa keadilan dan kenyamanan.
“Kami sudah sosialisasikan ke sektor-sektor. Setiap pergerakan naik ke transportasi, utamakan jemaah lansia terlebih dahulu, kemudian jemaah disabilitas, dilanjutkan jemaah perempuan, dan terakhir baru jemaah laki-laki. Semua sudah diatur sedemikian rupa, mudah-mudahan semua berjalan lancar,” pungkas Syarif Rahman. (*/Red/MCH-2026)


