Petugas Haji Layanan Lansia dan Disabilitas Sektor 3 Madinah Gerak Cepat Layani Jemaah yang Tengah Sakit
MADINAH – Hangatnya pelayanan bagi jemaah haji lanjut usia (lansia) dan disabilitas kembali mewarnai Kota Madinah.
Tim Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Bidang Layanan Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 3 bergerak aktif melakukan visitasi langsung ke hotel-hotel jemaah untuk memberikan pelayanan sekaligus edukasi.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Diwan Rise Hotel, tempat menginap jemaah Kloter SOC 70 Embarkasi Banjarnegara.
Penanganan Cepat di Kamar Jemaah
Di kamar 220, petugas mendapati seorang jemaah lansia bernama Karsim Amadyuki yang kondisinya sedang menurun (drop).
Tim Landis bersama dokter, Perawat Haji Daerah (PHD), dan petugas kloter langsung memberikan penanganan medis serta membujuknya untuk makan bubur agar kondisinya membaik.
Ketua Kloter SOC 70, Ahmad Rofik Sidqi, mengaku sangat bersyukur atas kesigapan tim Landis.
“Alhamdulillah, jemaah yang membutuhkan perawatan ekstra terlayani dengan baik. Kami sangat terbantu dengan keberadaan petugas Landis. Visitasi berjalan lancar dan koordinasinya sangat baik,” ujarnya.
Manfaat nyata juga dirasakan oleh Chairul Anam, jemaah lain yang sempat mengalami stroke. Ia mengungkapkan rasa gembiranya karena tetap bisa menjalankan ibadah secara optimal di tengah keterbatasan fisik.
“Alhamdulillah ibadahnya tercapai. Bisa masuk ke Raudhah dengan kursi roda, semua dibantu oleh petugas,” ungkap Chairul.
Strategi Gelombang Kedua: Fokus Fit to Flight
Tim Landis Sektor 3 kini semakin intensif mendatangi jemaah gelombang kedua. Setiap hari, mereka melayani 20 hingga 30 jemaah lansia dan disabilitas di berbagai hotel.
Selain pengecekan kesehatan, petugas memberikan penyuluhan serta berkoordinasi dengan ketua kloter dan pembimbing ibadah (bimbad).
Koordinator Landis Sektor 3 Daker Madinah, Dicky Azis Gunawan, menjelaskan adanya peningkatan strategi pada pelayanan jemaah haji gelombang kedua ini.
Fokus Gelombang I: Memastikan jemaah mampu melaksanakan rangkaian ibadah utama.
Prioritas Gelombang II: Fokus pada aspek fit to flight. Artinya, jemaah harus dipastikan sehat agar bisa pulang ke Tanah Air tanpa ada yang tertinggal atau harus dievakuasi medis (tanazul) di akhir operasional.
Untuk mencapai target tersebut, tim melakukan visitasi proaktif sejak jemaah tiba dari Makkah. Petugas tidak lagi pasif menunggu laporan, melainkan rutin menyisir hotel-hotel operasional.
“Kami sudah berkoordinasi dengan ketua dan dokter kloter sejak awal. Jika ada yang sakit, langsung ditangani. Bagi yang belum mampu ke masjid, kami bantu pendorongan kursi roda bersama bimbad. Tujuannya agar waktu 5 sampai 8 hari di Madinah menjadi momentum yang berkesan, baik dari sisi kesehatan maupun ibadah,” tambah Dicky.
Menurut Dicky, kondisi jemaah gelombang kedua di Madinah saat ini relatif lebih landai dibandingkan gelombang pertama. Hal ini dikarenakan sebagian besar jemaah yang sempat kurang fit sudah tertangani dengan baik selama di Makkah.
“Alhamdulillah, mayoritas jemaah yang tiba di Madinah dalam kondisi yang lebih baik. Namun, jika ada yang membutuhkan penanganan serius, akan segera kami rujuk ke rumah sakit,” pungkasnya.
Melalui pelayanan yang intensif dan proaktif ini, diharapkan seluruh jemaah haji lansia dan disabilitas dapat menyelesaikan sisa rangkaian ibadahnya dengan tenang dan kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat walafiat. (*/Red/MCH-2026)

