Wisata Anyer

Temuan Lapangan Survei BPS Juga untuk Evaluasi Cepat, Layanan Haji di Madinah Masih Ada Kendala Teknis

MADINAH — Hasil sementara Survei Kepuasan Layanan Haji Indonesia (SKLHI) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa layanan haji tahun ini di Madinah berjalan cukup baik, meski masih ditemukan sejumlah kendala teknis di lapangan.

Wakil Ketua Tim SKLHI BPS, Nur Ihklas, mengatakan bahwa hingga saat ini pengolahan data masih berlangsung sehingga nilai indeks kepuasan belum dapat disimpulkan.

Survei sendiri baru berjalan selama 10 hari, dan akan berlangsung hingga akhir penyelenggaraan ibadah haji.

Survei dilakukan di tiga lokasi layanan, yakni mulai dari Bandara, Madinah dan Kota Makkah.

Nantinya, hasil akhir berupa Indeks Kepuasan Layanan Haji akan diolah di Arab Saudi dan dilaporkan ke BPS Pusat.

Setelah itu, kata dia, BPS Pusat akan kolaborasi dengan Kemenhaj merilis angka resminya.

Namun berdasarkan observasi langsung sementara, persoalan layanan yang muncul tergolong ringan dan dapat segera diatasi.

“Masalah yang muncul seperti transportasi pengantaran jemaah atau akomodasi yang belum sesuai, tapi sejauh ini bisa diselesaikan dengan baik oleh petugas,” ujar Ikhlas.

Ia mengakui, sejauh ini di lokasi Bandara dan Madinah belum ditemukan persoalan krusial yang berdampak besar terhadap terganggunya layanan kepada jemaah.

Bahkan, setiap temuan di lapangan oleh Tim Surveyor BPS langsung dilaporkan ke Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Sektor untuk segera ditindaklanjuti.

“Kalau ada masalah di hari itu, kami langsung laporkan ke sektor agar bisa cepat diperbaiki,” katanya.

DPRD Banten Hari Buruh

Menurut Ikhlas, respons PPIH Arab Saudi juga cukup cepat dalam menindaklanjuti laporan yang masuk.

Survei ini tidak hanya mengandalkan kuesioner, tetapi juga wawancara mendalam dan observasi langsung, sehingga potret pelayanan yang diperoleh lebih komprehensif.

Untuk metode pengumpulan data, BPS menggunakan kuesioner per tahapan layanan, termasuk menggali proses, dan juga kinerja petugas PPIH.

BPS sendiri sejak awal survei juga turun langsung mengecek kamar, konsumsi, transportasi, hingga proses di bandara saat penyambutan.

“Dulu hanya tanya ‘jemaah sudah dapat hotel?’, untuk saat ini ditambah ‘proses pembagian kuncinya lancar nggak? Nunggunya lama nggak?’ Begitu juga konsumsi: ‘makanannya enak?’ ditambah ‘proses pembagiannya gimana? Telat nggak?, dan lainnya,” jelas Ikhlas.

Berbeda dengan sensus, survei SKLHI ini menggunakan sampel sekitar 14.400 jemaah.

Teknik pengambilan sampel yang dipakai adalah stratified dan multi stage random sampling berbasis kloter dan embarkasi.

“Hasil dari indeks kepuasan haji tentunya sebagai barometer evaluasi. Ketika nilainya turun atau meningkat, akan menjadi bahan untuk Kemenhaj melihat di layanan mana yang perlu ditingkatkan, tugas fungsi petugas mana yang perlu dievaluasi,” ujarnya.

Pada Senin (4/5/2026) siang, petugas survei BPS diketahui membagikan kuisioner kepada sejumlah sampel jemaah dari embarkasi KJT Kloter 14 di Hotel Al Ritz Al Madinah.

Petugas survei bekerjasama dengan PPIH Ketua Kloter untuk mendatangi kamar-kamar jemaah, memberikan penjelasan langsung tentang bagaimana cara pengisian kuisioner survei.

Selain jemaah Embarkasi KJT 14, survei BPS Senin juga membagikan kuisioner kepada sampel dari jemaah Embarkasi Banten (JKB) Kloter 09 di Hotel ODST Al Madinah.

Pantauan wartawan dari MCH, melalui survei metode wawancara langsung, sejumlah jemaah mengaku cukup puas dengan layanan haji yang difasilitasi oleh Kemenhaj pada tahun ini. (*/Red/MCH-2026)

Hardiknas DPRD Banten
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien