Jutaan Jemaah Kumpul saat Puncak Haji, Musyrif Diny Beri Pesan: Penuh Tantangan, Jemaah Harus Perbanyak Sabar
MAKKAH – Puncak pelaksanaan ibadah haji dengan jutaan jemaah berkumpul di waktu dan tempat yang sama dipastikan menimbulkan dampak sosial.
Musyrif Diny Haji 2026 DR. KH. Haris Muslim mengingatkan jemaah Indonesia agar memperbanyak kesabaran menghadapi situasi yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
“Logis, sangat logis. Di waktu yang sama, di tempat yang sama, jutaan orang berkumpul untuk tujuan yang sama. Pasti akan ada dampak sosial,” katanya.
Menurutnya, skema yang sudah diatur sedemikian rupa oleh penyelenggara kadang tidak berjalan mulus 100% di lapangan.
Hal ini bukan direncanakan, melainkan konsekuensi yang sering terjadi dalam pelaksanaan ibadah haji.
“Ini harus disadari oleh jemaah, sehingga itu bukan direncanakan, tetapi memang konsekuensi yang sering terjadi di lapangan dalam pelaksanaan ibadah haji,” ujarnya.
Haris meminta jemaah agar lebih bersabar, lebih sadar diri, dan menerima apapun kondisi yang terjadi saat puncak haji.
Ia menyebut semua itu sebagai jamuan Allah untuk menguji kesabaran dan keteguhan jemaah.
“Jemaah agar lebih bersabar, dan lebih sadar diri, dan juga menerima apapun itu ketika puncak pelaksanaan ibadah haji sebagai jamuan Allah untuk kita semua, agar kita bisa melaluinya dengan baik,” tegasnya.
Haris menambahkan, situasi di lapangan seperti waktu dan tenaga yang terkuras, serta kondisi yang mungkin kurang nyaman, adalah bagian dari ujian. Dengan kesabaran, jemaah diharapkan dapat melalui rangkaian puncak haji dengan baik.
Pria yang menjabat Sekretaris Umum PP PERSIS itu juga menjelaskan makna haji mabrur dan tantangan terbesar yang dihadapi jemaah setelahnya.
Menurutnya, haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dosa.
“Haji Mabrur itu kan haji yang secara ringkas, para ulama mengatakan haji itu haji yang tidak campur dengan dosa,” kata dia.
Ia mengingatkan bahwa selama pelaksanaan ibadah haji banyak godaan untuk berbuat dosa, seperti kufur nikmat, berkeluh kesah, jidal, tidak sabar hingga bertengkar dengan sesama jemaah.
“Maka jemaah haji itu sebenarnya menghadapi godaan yang berat itu. Bukan hanya godaan menghadapi beratnya medan haji, tetapi bagaimana di tengah medan berat itu kita bisa tetap bersabar,” tutupnya. (*/Red/MCH-2026)


