Wisata Anyer

Wamenhaj Akui Kerjasama Pemerintah Saudi dan Indonesia Hasilkan Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Baik

MAKKAH – Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, menyatakan bahwa catatan masalah kesehatan jemaah haji pada tahun ini semakin lebih baik.

Hal ini karena komitmen kerjasama yang baik antara Otoritas Arab Saudi dengan Pemerintah Indonesia, terutama dalam hal perizinan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) yang beroperasi di Arab Saudi.

Dikatakan Wamenhaj, kali ini kebijakan Arab Saudi mempermudah izin operasional KKHI, sehingga masalah kesehatan jemaah tertangani dengan baik.

Layanan kesehatan yang baik ini, menjadi faktor penting dalam menekan angka kesakitan dan kematian jemaah haji Indonesia secara signifikan.

Hal tersebut ditegaskan Wamenhaj usai melakukan visitasi ke fasilitas KKHI Makkah sekaligus memberikan pengarahan kepada ratusan tenaga kesehatan, Rabu (20/5/2026) malam.

Beroperasinya fasilitas klinik hingga ke tingkat sektor terbukti menjadi ujung tombak pelayanan darurat jelang fase krusial Armuzna.

Hingga saat ini, tercatat hampir sepuluh ribu jemaah telah mendapatkan perawatan medis akibat kelelahan maupun risiko serangan panas (heatstroke).

Wamenhaj memaparkan bahwa kelancaran operasional KKHI berdampak langsung pada kecepatan pelayanan medis kepada jemaah haji.

Komitmen tingkat tinggi antara Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi dalam melindungi keselamatan jemaah haji menunjukkan hasil yang positif.

“Secara statistik tahun ini akibat komitmen dari pemerintah Saudi Arabia dan kita, penurunannya (angka kematian) signifikan. Kalau tahun lalu per tanggal ini sudah 120 orang yang meninggal, tapi tahun ini sampai dengan hari ini hanya sekitar 50 orang,” ungkap Wamenhaj kepada Media Center Haji, saat di Klinik KKHI Makkah.

Wamenhaj mengaku tidak ingin semua pihak mengabaikan faktor kesehatan, meskipun grafik angka kematian jemaah haji menurun pada saat ini.

Dia meminta seluruh petugas dan jemaah tetap mewaspadai tren peningkatan jumlah pasien atau angka kesakitan pada saat fase Armuzna.

Wamenhaj juga menyoroti fenomena mengejutkan di mana angka fatalitas justru banyak terjadi pada jemaah usia produktif (40-50 tahun), bukan pada kelompok lanjut usia (lansia).

“Yang wafat itu kebanyakan justru bukan lansia, yang wafat itu justru yang umur-umur 50an atau 40an. Karena merasa sehat, kemudian memaksakan kegiatan, akhirnya tidak terasa tumbang,” ungkap Dahnil.

Temuan ini menegaskan kebijakan pemerintah bahwa indikator kelaikan berhaji tidak diukur dari angka usia, melainkan tingkat kebugaran klinis.

Dalam visitasinya, Wamenhaj memuji dedikasi luar biasa dari sekitar 1.600 dokter dan tenaga medis petugas haji yang telah ikhlas melayani jemaah.

Dedikasi yang luar biasa para tenaga medis ini juga mendapatkan pengakuan langsung dari otoritas Arab Saudi maupun dari jemaah haji.

Wamenhaj menginstruksikan seluruh barisan dokter untuk menghemat tenaga dan mematangkan strategi pelayanan jemput bola.

Kerja keras tim medis akan menjadi tulang punggung petugas haji, untuk memastikan tidak terjadi lonjakan angka kematian saat jemaah melaksanakan puncak haji di Armuzna. (*/Red/MCH-2026)

HUT Kota Serang DPMPTSP
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien