Pilihan Itu Selera

Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penulis adalah Ketua Forum Diskusi dan Kajian Liberal Banten Society (Fordiska Libas)

Demokrasi itu satu orang satu suara. Entah dia seorang guru besar atau pekerja kasar, orang kaya atau hamba sahaya, suaranya sama. Karena dalam demokrasi ada egalitarianisme, maka suara mereka dihitung sama, satu orang satu suara.

Dalam demokrasi, calon pemimpin dan wakil rakyat itu dipilih. Siapa yang mendapatkan suara terbanyak, maka dialah yang terpilih. Yang terpilih akan menjadi pemimpin bagi yang memilihnya, juga bagi yang tidak memilihnya.

Karenanya, dalam demokrasi itu harus siap menang, siap juga kalah. Jangan hanya siap menang saja. Kalah pun mesti diterima. Menerima kekalahan karena tak banyak dipilih oleh pemilih, membuktikan sportivitas. Jantan namanya. Gentelmen.

Bila kalah namun menuduh curang, itu merupakan sikap standar ganda. Karena ketika seseorang kalah, sejatinya dia juga melakukan hal yang sama dalam kadar tertentu. Tuduhan curang hanya berlaku -tepatnya dilakukan- oleh yang kalah.

Bila menang lalu menuduh curang pada yang kalah, malah menjadi lucu. Walau lucu, sejatinya bisa dilakukan untuk mengimbangi tuduhan curang. Jadi, perilaku curang juga bisa dituduhkan pada yang kalah. Sebagai penyeimbang tadi.

Pilihan itu selera. Selera itu sangat rumit. Dia tidak bisa dirasionalisasi. Tidak bisa dilogikakan. Tidak bisa masuk akal. Tingkat kerumitan selera itu hanya satu strip dibawah ruh. Dan ruh adalah urusan Tuhan. Saking rumitnya, “Jangan bertanya tentang ruh. Itu urusan Aku”.

Jadi, tak perlu mengerenyitkan dahi atas pilihan orang lain. Tak perlu merasa hampir habis pikir atas selera orang. Jangan mengukur pilihan orang dengan pilihan sendiri. Jangan menakar selera orang dengan selera sendiri.

Anda mungkin melengek atau hampir habis pikir, ketika melihat ada sepasang suami-istri yang suaminya begitu rupawan, namun penampilan istrinya hauk dan burayut. Lalu anda mempertanyakan, apa kelebihannya dia sehingga si laki-laki mau mempersuntingnya.

Atau sebaliknya. Ada sepasang suami istri yang istrinya begitu mempesona bak peserta kontes ratu kecantikan namun pasangannya tambun bak perawakan tokoh Semar dalam pewayangan. Seolah bagaikan dalam film Beauty And The Beast.

Lalu anda mempertanyakan, apa kelebihan si laki-laki sehingga perempuan yang begitu nyaris sempurna mau menjadi pasangannya? Itulah pertanyaan yang timbul karena menakar selera orang dengan selera sendiri.

_“Melengek aing mah ka si eta. Uwatu naon anu diarah tina jelema kadoang kitu. Geus mah buntreuk, lenang, hangit, euweuh araheun. Tapi eta ewena betah bae!”,_ merupakan gambaran seseorang saat berceloteh atas keheranannya pada perkara yang bisa jadi dia tidak ketahui.

Bisa saja ada hal yang kita tidak tahu tentang apa yang dirasakan oleh seseorang atas pasangannya. Kelebihan pasangannya yang hanya dia ketahui itulah yang membuatnya kesengsem. Dan itu adalah tentang selera.

Atau contoh lain. Bagi anda penyuka jengkol, dia adalah makanan favorit tiada duanya. Tapi bagi yang tidak suka, dia merasa hampir habis pikir, apa enaknya jengkol. Duren begitu nikmat bagi para penyukanya. Bagi yang tidak suka, menciumnya saja bisa membuatnya muntah.

Jadi, selera itu tidak bisa distandarisasi. Pilihan itu selera. Maka pilihan tidak bisa diseragamkan. Dia memiliki alasan tersendiri yang hanya dia sendiri yang tahu. Sama halnya seperti pilihan dalam Pemilu yang baru saja digelar.

Ada banyak variabel saat seseorang menjatuhkan pilihan. Bisa karena penampilannya, kecerdasannya, integritasnya, pengalamannya, rekam-jejaknya, kesolehannya, dan faktor lain yang tidak mesti nampak dan kasat-mata.

Orang-orang memiliki pilihan terhadap sosok calon Presiden berdasarkan seleranya. Ada yang suka karena kecerdasannya. Ada yang suka karena gemoynya. Dan ada yang suka karena satsetnya.

dprd tangsel

Apakah ketika merasa tertarik lalu karenanya memilihnya tersebab seseorang itu cerdas adalah pilihan yang salah? Tidak! Juga, apakah ketika seseorang tertarik untuk memilih seseorang karena gemoy itu salah? Tidak juga! Pun memilih karena satsetnya.

Jangan merasa lebih berkelas hanya karena merasa lebih cerdas dan memilih seseorang karena yang bersangkutan diyakini sebagai orang cerdas. Bisa saja orang yang memilih seseorang karena faktor gemoy atau satset pun merasa berkelas. Mengapa? Karena pilihan itu selera!

Dalam sistem demokrasi yang egaliter tadi, memilihnya karena cerdas adalah hak. Memilihnya karena gemoy adalah hak juga. Pun dengan memilihnya karena satset. Tidak boleh menganggap berkelas rendah pada orang lain hanya karena seleranya.

Buktinya, Anies yang kadung diidentikkan sebagai sosok cerdas dan pilihan orang-orang cerdas, yang berkutat di lingkungan akademik, kampus, terpelajar, seminar, diskusi, hanya laku di segmen itu yang notabene ceruknya tidak besar.

Pemilih Prabowo yang karena gemoy mereka memilihnya, jangan dikira mereka adalah orang-orang bodoh semua. Banyak diantara mereka juga yang cerdas. Segmen menengah ke bawah ini ceruknya sangat besar.

Pun para pemilih Ganjar. Dengan performanya yang satset dan dekat dengan kalangan millenial, yang distigma sebagai produk budaya pop, banyak diantara mereka juga yang cerdas. Walau segmen ini tidak sebanyak pendukung Prabowo.

Bila Prabowo menjadi yang terpilih, pastinya bukan semata karena gemoy belaka. Ada banyak faktor yang membuatnya lebih banyak dipilih oleh rakyat. Nasionalismenya, komitmennya, kapasitasnya, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, apa kurangnya Anies yang kadung diidentikan sebagai sosok yang memiliki kecerdasan? Dia punya kapasitas, kapabilitas, kompetensi, dan integritas. Dia juga diyakini sebagai pribadi yang memiliki sifat siddiq, tabligh, amanah, dan fathonah.

Tapi bila para pendukungnya memasarkan dia dengan cara yang salah, kelebihan yang dia miliki tidak bisa menjadi daya pikat bagi yang lain. Cara yang salah itu diantaranya berlebihan dalam mendeskripsikan pribadi Anies.

Parahnya, perilaku berlebihan ini dinarasikan oleh orang-orang cerdas dengan bungkus agama. Seolah ingin membuktikan benarnya quote Ibnu Rusyd bahwa “Jika ingin menguasai orang bodoh, maka bungkuslah yang batil dengan agama”.

By the way, justru dengan cara begini malah bisa menjadi bumerang. Karena ketika sebagian orang-orang cerdas yang belum menentukan pilihan menyaksikan cara-cara culas seperti itu, alih-alih mereka simpati malah bisa berbalik berubah menjadi antipati.

Celoteh ringan ini ditulis bersamaan dengan publikasi perolehan suara dengan cara quick count yang ditayangkan di stasiun televisi. Termasuk MetroTV milik Surya Paloh. Dia Ketua Umum Partai Nasdem. Partai Nasdem pengusung dan pendukung Capres 01.

Dalam perolehan suara dengan model quick count, MetroTV menyajikan data yang sama dengan data yang terpampang di stasiun televisi lain. Sama-sama menempatkan bahwa Paslon 02 sebagai peraih suara terbanyak.

Quick count memang bukan hasil sebenarnya. Dia didapat dengan cara sampel. Hasil penghitungan yang resmi perolehan suara dengan cara real count. Real count yang valid, bukan hasil penghitungan tim Paslon. Karena kemungkinan besar masing-masing Paslon memiliki versi masing-masing, yang bisa jadi angkanya memenangkan Paslon sendiri.

Real count yang dilakukan oleh tim masing-masing Paslon bisa berbentuk klaim atau pengakuan. Namanya pengakuan, hanya ngaku, tidak berbasis data. Real count yang valid dan absah adalah yang dilakukan oleh KPU.

Pengalaman membuktikan, dalam beberapa kali Pemilu, hasil quick count yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey, tidak banyak berbeda dengan perolehan suara yang dihitung dengan cara real count oleh KPU. Walau demikian, para pendukung Anies masih memiliki harapan, hasil real count bisa membalikan keadaan.

Untuk para pendukung Anies, ini mesti menjadi muhasabah atau evaluasi. Anies yang begitu hampir sempurna memiliki kriteria sebagai seorang calon Presiden, gagal menjadi nakhoda bagi republik ini, hanya gegara tabiat pendukungnya yang norak dan konyol!

Norak karena menganggap pendukung lain tidak cerdas. Konyol karena menyeret norma agama yang sejatinya mulia, terdegradasi menjadi sekedar bungkus bagi kepentingan politik semata. Wallahualam.
***

 

Honda