Tumbuhan Langkap Masih Jadi Ancaman Bagi Badak di Ujung Kulon

PANDEGLANG – Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) merupakan spesies langka yang terancam punah dan saat ini jumlahnya hanya tersisa kurang dari 70 ekor di habitat utamanya di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang Banten.

IUCN menyatakan Badak Jawa sebagai endanger species, dengan populasi hewan yang termasuk ke dalam jenis Rhinocerotidae tersebut adalah paling sedikit populasinya di dunia dan masuk daftar merah (red list).

Sementara itu bagaimana dengan upaya penyelamatan satwa soliter tersebut di habitat aslinya? Menanggapi pertanyaan tersebut, World Wild Found For Nature (WWF) Indonesia Site Ujung Kulon sebagai salah satu lembaga dunia yang konsen di bidang satwa menjelaskan, memberikan habitat yang ideal dan menjauhkan badak dari potensi bahaya menjadi langkah-langkah strategis untuk mempertahankan keberadaan Badak Jawa di alam.

Dijelaskan Projek Leader WWF Ujung Kulon, Kurnia Oktavia saat ini salah satu ancaman habitat Badak Jawa di TNUK adalah invasi tumbuhan langkap (Arenga Obtusfolia) yang menekan pertumbuhan jenis tanaman pakan Badak Jawa.

“Masalah habitat Badak Jawa masih langkap jadi masalah utama,” ujarnya kepada faktabanten.co.id, Senin lalu (8/4/2017).

Ks nu

Invasi langkap di Ujung Kulon menurut Nia dikhawatirkan bisa mempersempit ruang gerak Badak Jawa sehingga membuat kompetisi pakan dengan hewan lainnya semakin tinggi.

Karena hal inilah program eredikasi langkap ini menjadi fokus utama WWF Ujung Kulon dalam melindungi habitat Badak Jawa, selain juga meminimalisasi ancaman lainnya seperti perburuan dan penyakit dari hewan ternak di bupper zone.

“Pembinaan komunitas juga kita lakukan di daerah penyangga agar masyarakat tidak terlalu bergantung dari memanfaatkan hasil hutan di taman nasional,” imbuhnya.

Selain itu ancaman bencana alam seperti letusan Gunung Anak Krakatau juga dikhawatirkan bisa memusnahkan Badak Jawa dari muka bumi.

Menyiasati hal tersebut, WWF kini tengah mempersiapkan habitat baru di Cikepuh Sukabumi. (*)

Cibeber nu