Wisata Anyer

Perairan Laut di Puloampel Diduga Tercemar Limbah Oli Bekas, Akademisi Soroti Dampak bagi Nelayan

SERANG – Dugaan pencemaran limbah oli bekas di perairan Pangkalan Nelayan Ambaru Pulo Kali, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang, mendapat sorotan dari kalangan akademisi.

Kondisi air laut yang menghitam dinilai bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengancam mata pencaharian nelayan serta keberlanjutan ekosistem pesisir.

Akademisi Universitas Banten Jaya (Unbaja), Anis Masyruroh, mengatakan kondisi tersebut mengindikasikan adanya dugaan pencemaran air laut yang harus segera menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan.

“Kalau memang benar terjadi pencemaran, ini bukan hanya berdampak pada ekosistem laut, tetapi juga akan merembet ke sektor ekonomi, kesehatan, hingga keberlanjutan sosial masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya dari laut,” kata Anis, Jum’at (7/8/2026).

Menurutnya, kawasan pesisir tidak hanya berfungsi sebagai lokasi aktivitas nelayan, melainkan merupakan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.

Karena itu, penurunan kualitas lingkungan akibat pencemaran harus segera ditangani melalui langkah yang terukur.

Pengamat lingkungan ini menilai pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu melakukan pengawasan, pengambilan sampel, dan pengujian kualitas air untuk memastikan apakah kondisi tersebut telah melampaui baku mutu lingkungan.

Setelah sumber pencemaran diketahui, barulah langkah penegakan hukum dapat dilakukan apabila ditemukan pelanggaran.

Selain pengawasan, Anis juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat pesisir, nelayan, maupun pelaku usaha maritim mengenai pengelolaan limbah, pemeliharaan kapal, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pentingnya menjaga infrastruktur di kawasan pesisir.

“Seluruh pemangku kepentingan harus melihat persoalan ini dengan serius. Jangan hanya dianggap sebagai isu lingkungan biasa, karena ini merupakan alarm bagi keberlangsungan hidup dan mata pencaharian masyarakat pesisir,” ujarnya.

Sebelumnya, kondisi perairan di lokasi bersandarnya perahu nelayan di Pangkalan Nelayan Ambaru Pulo Kali tampak menghitam, Selasa (4/8/2026).

Lapisan menyerupai minyak terlihat mengapung di permukaan air dan diduga merupakan limbah oli bekas yang berpotensi mencemari perairan.

Seorang warga, Ajo Omega, menduga limbah tersebut berasal dari ulah oknum awak kapal yang membuang oli bekas ke laut secara sembarangan.

“Kondisi itu kami temukan pagi hari. Kami tidak tahu pasti dari mana asalnya, tetapi biasanya ada oknum kru kapal yang sengaja membuang oli bekas ke perairan,” katanya.

Lemahnya pengawasan diduga menjadi celah bagi pihak yang tidak bertanggung jawab membuang limbah berbahaya ke laut.

Kawasan Pulo Kali merupakan jalur pelayaran yang cukup padat, menjadi lokasi kapal berlabuh, aktivitas bongkar muat di tengah laut, serta berada di sekitar kawasan industri.

Untuk itu, pemerintah dan instansi terkait didesak segera melakukan pemeriksaan di lokasi, mengidentifikasi sumber pencemaran, serta mengambil langkah penanganan agar dampaknya tidak semakin meluas.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari instansi berwenang mengenai penyebab menghitamnya perairan maupun dugaan pencemaran limbah oli bekas di kawasan Pangkalan Nelayan Ambaru Pulo Kali.***

Kapolres Cilegon
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien