Seblak Prasmanan Horor: Bisnis Kuliner Bripka Aditya yang Laris Manis dari Serang Hingga Merak
SERANG – Kesibukan sebagai anggota kepolisian tidak menghalangi Bripka Aditya Tanpomas untuk mengembangkan usaha kuliner.
Bersama sang istri, yang juga merupakan anggota Polri, ia merintis Seblak Prasmanan Horor hingga berkembang menjadi usaha dengan sejumlah lapak di Kota Serang dan Merak.
Perjalanan usaha tersebut bermula pada 2021, ketika Aditya mendapatkan sebuah tempat berjualan di kawasan Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang.
Awalnya, tempat itu hendak digunakan oleh seorang temannya untuk berusaha.
Namun, karena temannya mengurungkan niat, Aditya bersama istrinya memutuskan memanfaatkan lokasi tersebut.
Ide membuka usaha seblak muncul ketika Aditya melihat banyak orang tua menunggu anak-anak mereka bermain odong-odong di kawasan stadion.
Ia kemudian berpikir untuk menghadirkan tempat makan yang bisa menjadi aktivitas bagi para orang tua sembari menunggu anak-anak bermain.
“Waktu itu saya melihat di stadion banyak orang tua yang menunggu anaknya bermain odong-odong. Saya berpikir bagaimana supaya ibu-ibu yang menunggu tidak hanya duduk bengong. Dari situ muncul ide usaha kuliner, ” ungkap Aditya, Rabu (4/11/2026).
Meski tidak memiliki pengalaman di bidang kuliner, Aditya dan istrinya tidak langsung membuka usaha begitu saja.
Mereka terlebih dahulu melakukan riset dengan mencoba berbagai produk seblak yang sedang viral di Serang, Bandung hingga Bekasi.
Setelah menemukan konsep dan menu yang sesuai, keduanya mulai menjalankan usaha secara sederhana.
Aditya bahkan ikut terlibat langsung dalam proses persiapan, mulai dari berbelanja bahan, mengolah bumbu hingga melayani pelanggan.
Pada awal penjualan, usaha mereka mampu menarik sekitar 40 pembeli dalam sehari. Namun, jumlah tersebut justru membuat Aditya dan istrinya kewalahan karena seluruh pekerjaan dilakukan berdua dengan bantuan seorang adik.
“Awalnya kami hanya berdua sama istri, dibantu adik. Ternyata ramai, sekitar 40 orang yang beli. Kami sampai kelabakan,” kenangnya.
Selama berjualan di stadion, Aditya dan istrinya harus membagi waktu antara pekerjaan kepolisian dan usaha.
Mereka berjualan mulai pukul 16.00 WIB hingga sekitar pukul 02.00 WIB, kemudian kembali menjalankan tugas kedinasan pada pagi harinya.
Di sela-sela kesibukan, Aditya juga tetap membantu istrinya menyiapkan bahan dagangan, seperti mengupas bawang dan memasak bumbu sebelum dibawa ke lokasi jualan.
Usaha tersebut berjalan hingga 2022. Namun, adanya sterilisasi kawasan stadion yang membuat pedagang tidak lagi diperbolehkan berjualan sempat membuat keduanya kebingungan untuk melanjutkan usaha.
Di tengah situasi tersebut, mereka justru mendapat respons dari pelanggan.
Setelah usaha tutup selama sekitar satu pekan, banyak pelanggan menghubungi melalui Instagram dan WhatsApp untuk menanyakan alasan mereka tidak lagi berjualan.
Dari situ, Aditya dan istrinya memutuskan mencari lokasi baru. Mereka kemudian membuka usaha di kawasan Jalan Kozin, Ciceri, Kota Serang.
Tak disangka, usaha di lokasi baru mengalami perkembangan pesat. Jika sebelumnya di stadion hanya mampu menjual sekitar 60 hingga 70 porsi per hari, di lokasi baru penjualan meningkat hingga 250 porsi, bahkan lebih.
“Awalnya kami hanya membuka satu lapak. Ternyata ramai sampai 250 porsi sehari. Kami kaget dan akhirnya menambah tempat serta karyawan,” ujarnya.
Kini, Seblak Prasmanan Horor memiliki enam lapak di kawasan Serang, dengan jumlah karyawan sekitar delapan orang.
Usaha tersebut juga berkembang ke Kota Cilegon, tepatnya di kawasan Pasar Merak.
Aditya menyebut, pada masa awal perkembangan usaha, omzet penjualan pernah mencapai Rp7 juta dalam sehari. Saat ini, omzet harian berada di kisaran Rp3 juta hingga Rp4 juta.
Menurutnya, salah satu keunggulan Seblak Prasmanan Horor terletak pada pilihan topping seafood, termasuk lobster dan kepiting.
Pada awal usaha, lobster bahkan dijual mulai Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per ekor karena memiliki jaringan pemasok nelayan sendiri.
Selain menawarkan variasi menu, Aditya juga menekankan pentingnya menjaga kualitas bahan, kebersihan, cita rasa bumbu, serta pelayanan kepada pelanggan.
“Kami tidak ingin mematok harga terlalu mahal. Yang penting terjangkau, bahan-bahannya fresh, kebersihan terjaga, rasa bumbu dan pelayanan juga harus baik. Karyawan selalu kami tekankan untuk ramah kepada pelanggan,” katanya.
Nama Seblak Prasmanan Horor sendiri memiliki cerita unik. Nama tersebut muncul secara spontan ketika pertama kali membuka usaha di lokasi yang persis berada di depan area pemakaman.
“Waktu pertama buka itu tempatnya persis di depan kuburan. Karena suasananya horor, akhirnya spontan saja kami kasih nama Seblak Prasmanan Horor,” jelasnya.
Perkembangan usaha juga berlanjut ke Merak pada 2025. Di lokasi tersebut, Seblak Prasmanan Horor memiliki empat karyawan yang membantu operasional sehari-hari.
Meski telah berjalan sekitar empat tahun, Aditya mengaku tetap berupaya mengawasi usaha di tengah tanggung jawabnya sebagai anggota kepolisian.
Ia memanfaatkan komunikasi melalui WhatsApp untuk memantau laporan karyawan, menerima masukan pelanggan, serta memberikan arahan ketika diperlukan.
Menurutnya, pembagian tugas yang jelas menjadi kunci agar usaha tetap berjalan meski dirinya tidak selalu berada di lokasi.
“Sekarang karyawan sudah tahu tugas masing-masing. Saya dan istri tetap memantau, memberikan arahan, dan memperbaiki kalau ada komplain. Jadi manajemen dan kontrol itu yang penting,” pungkasnya.***

