Ini Sinopsis Lakon ‘Bimo Krido’ Perang Baratayudha, Pagelaran Wayang Kulit Peringati HUT 78 TNI di Alun-Alun Cilegon

CILEGON – Dalam rangka HUT TNI ke-78, Korem 064/Maulana Yusuf menggelar pertunjukan wayang kulit yang menampilkan lakon Bimo Krido, Jumat, (6/10/2023).
Sebanyak 78 lokasi di Indonesia secara serentak menghadirkan hiburan pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat.
Brigjen TNI Tatang Subarna selaku Komandan Komando Resort Militer Danrem 064/Maulana Yusuf Serang, yang turut hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa pagelaran wayang kulit itu merupakan pagelaran yang dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia bahkan hingga mancanegara.

“Kota Cilegon jadi salah satu dari 78 wilayah di Indonesia yang pada hari ini serentak menggelar pagelaran wayang kulit untuk memperingati HUT TNI yang ke-78. Bukan hanya di Indonesia, pagelaran ini juga ditampilkan di 3 negara asing,” kata Tatang Subarna dalam sambutannya sebelum pagelaran dimulai.
Pertunjukan wayang tidak hanya bersifat hiburan semata, melainkan juga sarat akan nilai edukasi dan pesan moral dari setiap lakon yang dibawakan oleh sang dalang. Malam ini, lakon ‘Bimo Krido’ menjadi sorotan utama dengan pesan moral mendalam dari tokoh Bima atau Werkudara.
Sinopsis lakon ‘Bimo Krido’ mengisahkan tentang peran salah satu Pandawa Lima, Bima atau Werkudara, yang mengamuk di negeri Astinapura bersama saudaranya, Kresna, yang telah berubah menjadi raksasa. Pengamukan ini dipicu oleh penolakan Pandawa Lima terhadap perdamaian dengan Kurawa yang diminta oleh Batara Guru. Bima dan Kresna meyakini bahwa perdamaian akan mengurangi semangat perjuangan mereka.
Bima dan Kresna berhadapan dengan Batara Guru, yang sebenarnya adalah jelmaan Betari Durga.
Meskipun gagal melawan Batara Guru, mereka meminta bantuan Semar yang telah menjelma menjadi Begawan Dewa Kasimpar. Konflik ini membentuk Perang Baratayudha, mengandung pesan moral bahwa kemerdekaan dan kedaulatan bukanlah hasil perdamaian, melainkan hasil dari perjuangan yang gigih. (*/Hery)

