Puncak Kemarau Diprediksi September, Lahan Pertanian di Kasemen Mulai Diwaspadai Kekeringan

SERANG – Ancaman kekeringan mulai membayangi lahan pertanian di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, seiring prediksi puncak musim kemarau yang akan terjadi pada September 2026.
Meski pasokan air irigasi masih mencukupi saat ini, pemerintah kecamatan mengingatkan potensi krisis air pada puncak kemarau tetap perlu diantisipasi agar tidak mengganggu musim tanam berikutnya.
Camat Kasemen Sugiri mengatakan, aliran irigasi yang berasal dari Bendung Pamarayan dan sistem sifon Kalimalang hingga kini masih mampu memenuhi kebutuhan air persawahan.
Dengan kondisi tersebut, aktivitas pertanian di wilayahnya dipastikan masih relatif aman menjelang masa panen yang diperkirakan berlangsung pada Agustus mendatang.
“InsyaAllah, mudah-mudahan sawah petani masih aman. Asalkan nanti bulan Agustus ini panen, berarti aman. Karena ini kan perkiraan Agustus mulai panen dari musim tanam yang kemarin. Jadi sebelum Agustus, masa panen ini masih aman,” kata Sugiri, Jumat (3/7/2026).
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya diperkirakan muncul pada September hingga Oktober 2026, yang diprediksi menjadi puncak musim kemarau.
Pada periode tersebut, petani biasanya mulai memasuki musim tanam baru atau yang dikenal masyarakat sebagai musim cegeran, sehingga kebutuhan air irigasi kembali meningkat.
“Mudah-mudahan airnya masih mencukupi untuk pengairan sawah. Karena biasanya setelah panen bulan Agustus itu ada masa tanam baru atau yang biasa dikenal warga sebagai musim cegeran,” ujarnya.
Selain menjaga pasokan air untuk sektor pertanian, pemerintah juga memprioritaskan ketersediaan air bersih bagi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.
Sugiri berharap debit air dari Bendung Pamarayan maupun aliran Kalimalang tetap stabil sehingga dampak kekeringan dapat ditekan.
“Memang kalau kemarau itu bukan cuma pertanian, air bersih untuk kebutuhan sehari-hari juga harus menjadi perhatian. Tapi sistem infrastruktur air yang ada ini diharapkan mampu bertahan optimal, sehingga dampak kekeringan di Kasemen bisa dimitigasi seminimal mungkin,” tuturnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang, Diat Hermawan, mengatakan seluruh enam kecamatan di Kota Serang berpotensi mengalami kekeringan.
Namun, Kecamatan Kasemen dan Taktakan diperkirakan menjadi wilayah yang paling terdampak.
Menurutnya, hampir seluruh kelurahan di Kecamatan Kasemen memiliki kerawanan tinggi karena berada di kawasan pesisir yang didominasi air payau.
“Memang kalau kekeringan di Kecamatan Kasemen itu hampir di seluruh wilayah kelurahan di sana. Untuk Kecamatan Taktakan ada satu kelurahan yang berpotensi terdampak kekeringan,” kata Diat.
BPBD Kota Serang bersama berbagai pemangku kepentingan juga telah membahas langkah antisipasi melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).
Koordinasi tersebut dilakukan untuk menyiapkan upaya mitigasi, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, peralatan, hingga pemenuhan infrastruktur yang dibutuhkan saat terjadi kekeringan.
“Itu yang menjadi fokus kami. Kalau duduk bersama, mudah-mudahan bisa sampai pada langkah fisik, baik sumber daya manusia, sumber daya alat maupun pemenuhan infrastruktur yang diperlukan,” ujarnya.***

