Beri Ucapan Selamat untuk Dirut Baru, Tokoh Cilegon Dorong Transformasi dan Perampingan Krakatau Steel
CILEGON — Terpilihnya Willgo Zainar sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melalui RUPSLB pada 7 September 2026 diharapkan menjadi momentum kebangkitan industri baja nasional sekaligus memperkuat kembali hubungan Krakatau Steel dengan masyarakat Cilegon.
Tokoh muda Kota Cilegon, Muhammad Ibrohim Aswadi, Selasa (8/9/2026), menyampaikan selamat atas terpilihnya Willgo Zainar.
Ibrohim berharap kepemimpinan baru Krakatau Steel segera melakukan konsolidasi internal dan transformasi korporasi secara profesional, transparan, serta berbasis meritokrasi.
Menurut Ibrohim, Krakatau Steel perlu diarahkan menjadi perusahaan yang lebih ramping, efisien, kompetitif, dan fokus pada bisnis utama industri baja.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mengevaluasi struktur anak, cucu, hingga cicit perusahaan yang tidak memiliki korelasi strategis dengan bisnis utama atau rantai nilai Krakatau Steel.
Evaluasi tersebut, kata dia, harus dilakukan melalui kajian profesional, audit, dan penilaian bisnis yang objektif.
Entitas yang tidak memberikan nilai tambah atau justru membebani perusahaan perlu dipertimbangkan untuk dirampingkan.
“Kalau ada anak, cucu atau cicit perusahaan yang tidak lagi memiliki korelasi strategis dengan core business Krakatau Steel, tidak memberikan nilai tambah yang memadai atau justru membebani perusahaan, harus berani dievaluasi dan dirampingkan,” ujar Ibrohim Aswadi kepada wartawan.
Ia menilai perampingan bukan semata-mata mengurangi jumlah entitas, tetapi menyehatkan struktur grup usaha agar modal, SDM, dan sumber daya perusahaan dapat kembali difokuskan pada penguatan bisnis baja dari hulu hingga hilir.
“Yang harus diperkuat adalah bisnis yang memang memberikan nilai tambah kepada Krakatau Steel dan negara. Jangan sampai struktur korporasi terlalu gemuk sementara core business membutuhkan penguatan,” tambahnya.
Selain restrukturisasi bisnis, Ibrohim mendorong pembenahan birokrasi internal dengan menjadikan meritokrasi sebagai budaya perusahaan.
Menurutnya, posisi strategis harus diisi berdasarkan kompetensi, integritas, rekam jejak, kapasitas kepemimpinan, dan prestasi, bukan kedekatan maupun kepentingan tertentu.
“Meritokrasi harus menjadi budaya baru di Krakatau Steel. Orang yang kompeten harus diberi ruang, yang berprestasi harus diapresiasi dan yang tidak mampu memenuhi tuntutan profesional harus dievaluasi,” tegasnya.
Ibrohim juga meminta agar kepemimpinan baru membuka ruang yang lebih luas bagi SDM Cilegon untuk berkontribusi dalam pembangunan dan transformasi Krakatau Steel.
Menurutnya, kesempatan tersebut harus diberikan secara adil dan tetap melalui mekanisme profesional serta berdasarkan kompetensi.
Ruang kontribusi dapat mencakup penyerapan tenaga kerja, pengembangan karier, posisi profesional dan manajerial, hingga kesempatan bagi putra-putri terbaik Cilegon untuk masuk jajaran direksi maupun komisaris sesuai ketentuan dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
“Yang kita minta bukan privilese karena seseorang berasal dari Cilegon. Yang kita dorong adalah kesempatan yang adil dan meritokratis bagi putra-putri terbaik Cilegon untuk ikut membangun perusahaan yang secara historis tumbuh bersama masyarakat Cilegon,” jelasnya.
Ia mengingatkan, keberadaan Krakatau Steel tidak terlepas dari sejarah industrialisasi dan perkembangan masyarakat Cilegon.
Karena itu, kebangkitan perusahaan diharapkan tidak hanya berdampak pada pertumbuhan korporasi, tetapi juga mendorong ekonomi masyarakat sekitar.
Krakatau Steel, kata dia, perlu menjadi lokomotif bagi pertumbuhan tenaga kerja lokal, IKM, UMKM, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan rantai pasok lokal.
“Jangan hanya Krakatau Steel yang tumbuh. Masyarakat Cilegon juga harus tumbuh. SDM-nya harus naik kelas, IKM dan UMKM harus berkembang, dunia usaha lokal harus mendapatkan ruang, dan pembangunan harus menciptakan multiplier effect bagi masyarakat,” katanya.
Ibrohim berharap pergantian kepemimpinan menjadi awal babak baru bagi Krakatau Steel agar lebih ramping, profesional, meritokratis, inovatif, dan kompetitif.
“Krakatau Steel bukan hanya aset perusahaan. Ia adalah bagian dari sejarah industrialisasi Indonesia dan sejarah masyarakat Cilegon. Maka mari kita bangun kembali dengan semangat tumbuh bersama,” pungkasnya. (*/ARAS)

