Bukukan Laba 10,94 Juta Dollar, Krakatau Steel Kini Masuk 100 Indonesia’s Biggest Companies
JAKARTA — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) atau Krakatau Steel Group berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang tahun 2026.
Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar US622,74 juta (sekitar Rp11,15 triliun), tumbuh 35,1% dibandingkan periode sebelumnya, serta mengantongi laba bersih sebesar US10,94 juta.
Atas raihan tersebut, Krakatau Steel sukses bertengger di posisi ke-78 dalam daftar Fortune Indonesia 100: Indonesia’s Biggest Companies.
Capaian ini menjadi pengakuan atas keberhasilan proses transformasi bisnis dan perbaikan fundamental perusahaan yang terus berjalan secara berkelanjutan.
Keberhasilan Krakatau Steel menembus jajaran 100 perusahaan terbesar di Indonesia tak lepas dari tren pemulihan kinerja sejak 2025, saat perusahaan berhasil mencetak laba bersih sebesar US$339,64 juta atau setara Rp5,68 triliun.
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi pelecut semangat bagi manajemen untuk terus menjaga momentum pemulihan dan memperkuat daya saing industri baja nasional.
”Masuknya Krakatau Steel dalam Fortune Indonesia 100 merupakan apresiasi sekaligus motivasi bagi kami untuk terus melanjutkan transformasi. Perbaikan yang telah dicapai harus menjadi fondasi untuk membangun kinerja yang lebih kuat, sehat, dan berkelanjutan ke depan,” ujar Akbar Djohan
Akbar Djohan juga menjabat sebagai Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) serta Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA).
Akbar menambahkan, penguatan fundamental perusahaan mendapat dorongan besar dari langkah strategis pemegang saham melalui Danantara, termasuk fasilitas Pinjaman Pemegang Saham (PPS) dan kesepakatan restrukturisasi lanjutan.
Dukungan ini dinilai efektif memperkuat likuiditas serta memberi ruang bagi perseroan untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Memasuki paruh kedua 2026, Krakatau Steel berkomitmen untuk tetap berfokus pada penguatan struktur keuangan, optimalisasi aset, dan ekspansi bisnis secara terukur.
Semua agenda tersebut dijalankan dengan senantiasa mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) serta manajemen risiko yang ketat. (*/ARAS)


