Banten Utara dan Selatan dalam Peta Koalisi Pilgub

Oleh: Nedi Suryadi

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang Kampus Serang

SERANG – Secara geografis politik, Banten bisa di bagi ke dalam dua wilayah yang berbeda, Banten utara dan Banten selatan. Wilayah Banten utara terdiri dari Tanggerang Raya, Kota Cilegon dan Kabupaten Serang. Sementara wilayah selatan terbentang Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.

Wilayah utara berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan industri. Sementara wilayah selatan didominasi oleh ekonomi primer yang bertumpu pada pertanian, perkebunan dan pertambangan. Wilayah utara dikategorikan daerah maju, dan wilayah selatan sering disebut sebut sebagai daerah tertinggal.

Perbedaan kedua wilayah ini membentuk karakteristik masyarakat yang berbeda. Wilayah utara yang moderen membentuk karakteristik pemilih yang rasional, sementara wilayah selatan yang tradisional membentuk pemilih yang emosional.

Dalam kontestasi pemilihan kepala daerah, dua karakteristik wilayah tersebut harus diwakili oleh tokohnya masing-masing.

Pertimbangan kandidat yang merepresentasikan wilayah utara dan selatan memang tidak menjadi syarat formal bagi partai politik dalam mengusung bakal calon gubernur maupun wakil gubernur.

Umumnya, partai politik akan mengukur elektabilitas kandidat berdasarkan hasil suara pada pemilihan legislatif sebelumnya, atau berdasarkan pada hasil survai. Tetapi jika berkaca pada pilgub sebelumnya, pasangan calon selalu mengawinkan antara utara dan selatan.

Saat ini yang sudah resmi mendeklarasikan pasangan calon adalah Koalisi Banten Maju (KMB) bentukan Gerindra dan PKS yang mengusung Andra Soni sebagai calon gubernur dan Dimyati Natakusuma sebagai wakilnya.

Pasangan ini bisa disebut koalisi utara dan selatan, Andra Soni mewakili wilayah utara dan Dimyati mewakili wilayah selatan.

Andra Soni cukup percaya diri memilih Dimyati menjadi pendampingnya, meninggalkan Airin Rachmi Diany rekan koalisinya di Indonesia Maju bentukan Prabowo – Gibran.

Apalagi pasangan ini mendapat signal dukungan kuat dari Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Nasdem, yang turut menghadiri deklarasi pasangan Andra – Dimyati.

DPRD Pandeglang
Loading...

Di luar Koalisi Banten Maju (KMB), Golkar yang mengusung Airin Rachmi Diany, setelah ditinggal partai koalisinya di Koalisi Indonesia Maju (KIM) belum memutuskan kepada siapa koalisinya akan berlabuh.

Meski demikian, tiga partai yang tersisa, PDIP, Demokrat, dan PKB, bisa dipilih sebagai partai koalisi bagi Golkar, sebab salah satu dari ketiga partai tersebut jumlah kursinya akan memenuhi syarat jika bergabung dengan golkar.

Wacana bergabungnya Golkar dan PDIP yang mengusung Ade Sumardi sebagai bakal calon wakil gubernur pendamping Airin, dalam situasi politik seperti ini penting untuk direalisasikan.

Selain Ade Sumardi original mewakili suara dari selatan, koalisi Golkar dan PDIP juga punya akar sejarah yang kuat dalam kontestasi politik di daerah.

Pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten 2006 silam, Partai Golkar bersama PDIP mengusung pasangan calon Ratu Atut Chosiyah dan HM Masduki. Hasilnya, pasangan yang diusung Partai Golkar dan PDIP ini menang, mengalahkan tiga pasangan calon lainnya.

Hal yang sama juga terjadi pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Banten 2011, Partai Golkar bersama PDIP mengusung pasangan Ratu Atut Chosiyah-Rano Karno. Hasilnya pun, pasangan Ratu Atut Chosiyah-Rano Karno menang, mengalahkan dua pasangan calon lainnya dalam Pilkada tersebut.

Kemenangan Golkar dan PDIP pada dua pemilihan gubernur itu tentu tidak terlepas dari hitungan antara utara dan selatan. Meski keluarga TB. Chasan Sohib yang mendominasi Golkar ini berada di Kota Serang sebagai wilayah tengah, tetapi ketokohan keluarga mereka menjangkau wilayah selatan Banten, Pandeglang dan Lebak.

Tetapi pada pilgub kali ini, Airin konteksnya agak berbeda. Airin sebagai menantu dari TB. Chasan Sohib yang juga dikenal sebagai pemain kota, tidak cukup merepresentasikan Banten wilayah selatan, berbeda dengan Atut Chosiyah dan putra sulungnya Andika Hazrumi, sehingga Airin harus mencari pasangan yang menjadi representasi wilayah selatan.

Sementara dua partai lainya, Demokrat dan PKB bisa membentuk koalisi baru. Jumlah kursi kedua partai ini cukup memenuhi syarat jika membentuk koalisi, Demokrat 11 kursi dan PKB 10 kursi.

Persoalannya, jika Demokrat mengusung Arief R Wismansyah sebagai calon Gubernur, siapa sosok dari PKB yang akan menjadi pasangannya. Jika menghitung utara dan selatan, mengusung pasangan Arief R Wismansyah dan Hj. Iti Octavia Jayabaya bisa menjadi pilihan, meskipun keduanya dari partai yang sama, Demokrat.

Tetapi jika PKB mendukung, pasangan ini bisa menjadi lawan yang seimbang bagi dua pasangan lainnya.

Perjodohan antara utara dan selatan bukan sekedar cocokologi politik semata, melain kalkulasi rasional untuk mendapatkan suara elektoral. Mengingat kultur ketokohan lokal di Banten masih cukup kuat pengaruhnya, sebagai kekuatan non struktural di luar partai politik, patut untuk diperhitungkan. ***

Koperasi
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien