Langkah Sunyi Penjaga Adat, Warga Badui Dalam Tempuh Ratusan Kilometer demi Seba

LEBAK — Puluhan warga Badui Dalam rela berjalan kaki menempuh ratusan kilometer demi mengikuti tradisi Seba Badui, ritual adat sakral yang telah diwariskan turun-temurun dari leluhur.
Di tengah kegelapan dini hari, mereka melintasi jalan setapak di perbukitan curam, menembus hutan kawasan Gunung Kendeng tanpa rasa takut terhadap ancaman ular berbisa maupun binatang buas lainnya.
Bagi masyarakat Badui Dalam dari Kampung Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, berjalan kaki merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mereka tetap memegang teguh adat istiadat dengan ciri khas pakaian putih, celana putih, dan ikat kepala putih, berbeda dengan Badui Luar yang sudah lebih modern.
Untuk mengikuti Seba, mereka berjalan dari kampung halaman menuju Kota Rangkasbitung, lalu melanjutkan perjalanan ke Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, dengan total jarak pulang-pergi sekitar 200 kilometer.
Meski perjalanan melelahkan, mereka tetap menjalaninya dengan penuh semangat. Di sepanjang perjalanan, mereka beristirahat sambil makan dan minum dari bekal yang dibawa dari kampung.
Setelah merayakan Seba bersama Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki di Pendopo Kabupaten Lebak, Jumat (24/4), mereka melanjutkan perjalanan untuk bertemu Gubernur Banten pada Sabtu (25/4), sebelum kembali ke kampung halaman.
Rahman (50), warga Badui Dalam, mengatakan dirinya bersama 36 warga lainnya berjalan kaki untuk mengikuti perayaan Seba yang menjadi bagian sakral setelah menjalani ritual Kawalu selama tiga bulan.
“Kami berjalan kaki untuk mengikuti Seba dan bersilaturahmi dengan Bapak Gede, sebagaimana diajarkan kokolot atau tetua adat dari leluhur nenek moyang,” katanya di Lebak, Sabtu, (25/4/2026).
Menurut dia, dalam tradisi Seba, masyarakat Badui Dalam selalu menyampaikan harapan agar kehidupan mereka tetap aman, damai, nyaman, dan kondusif.
Ia mengaku, dahulu kampung mereka sering mengalami kehilangan ternak serta gangguan dari penambang emas liar yang merusak hutan. Namun kini, kondisi tersebut jauh lebih aman berkat perlindungan pemerintah.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Gede karena masyarakat Badui Dalam sekarang bisa tidur nyenyak dan merasa aman,” ujar Rahman.
Hal serupa disampaikan Ato (55), yang menyebut Seba sebagai kewajiban adat yang harus dijalankan. Jika tidak dilaksanakan, masyarakat khawatir akan terjadi malapetaka.
Tradisi Seba sendiri telah berlangsung ratusan tahun sejak masa Kesultanan Banten dan terus dilestarikan hingga sekarang.
Kepala Desa Kanekes sekaligus tetua adat, Jaro Oom, mengatakan Seba merupakan tradisi tahunan yang sangat penting karena menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen ladang yang melimpah.
Dalam perayaan ini, masyarakat Badui menyerahkan hasil bumi seperti beras huma, ubi-ubian, buah-buahan, hingga laksa kepada kepala daerah sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan.
Penyerahan hasil bumi itu menjadi simbol hubungan harmonis antara masyarakat adat dan pemerintah.

“Tradisi Seba bukan hanya ungkapan syukur, tetapi juga mencerminkan nilai kedamaian, keharmonisan, dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Badui,” kata Jaro Oom.
Pada Seba 2026, sebanyak 1.552 warga Badui Dalam dan Badui Luar menghadiri perayaan di Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak.
Ia berharap seluruh rangkaian ritual berjalan lancar dan seluruh peserta dapat kembali ke wilayah hak ulayat adat dengan selamat.
Selain menjaga adat, masyarakat Badui juga dikenal konsisten melestarikan alam demi mencegah bencana ekologis.
Tetua Adat Badui Tangtu Tanggungan 12, Saidi Yunior, mengatakan menjaga hutan dan alam merupakan amanah leluhur yang wajib dijalankan.
“Kita konsisten merawat, melindungi, dan menjaga alam serta hutan di tanah hak ulayat karena perintah leluhur,” katanya.
Masyarakat Badui menempati tanah ulayat seluas 5.200 hektare yang menjadi kawasan hulu penting di Provinsi Banten. Kawasan ini memiliki puluhan aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Hutan larangan atau hutan tutupan dijaga ketat agar tetap hijau dan tidak rusak. Mereka juga menjaga 47 gunung di Banten agar tidak dialihfungsikan menjadi kawasan industri.
Menurut Saidi, jika kawasan hulu rusak, dampaknya akan dirasakan hingga ke wilayah hilir dan dapat memicu bencana ekologis.
Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki mengapresiasi masyarakat Badui yang tetap konsisten menjaga alam dan hutan di kawasan Gunung Kendeng.
Menurut dia, masyarakat Badui patut dihormati karena dedikasi mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah kerusakan ekosistem.
Pemerintah daerah juga berkomitmen melindungi kawasan tersebut dari eksploitasi seperti pertambangan liar yang berpotensi merusak alam.
Selain itu, Pemkab Lebak menargetkan tradisi Seba masuk dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN) agar menjadi kebanggaan daerah sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia.
Berbagai kegiatan turut digelar dalam rangkaian Seba, seperti pameran produk UMKM, fashion desainer tenun Badui, talk show, permainan tradisional, senam sehat, lomba foto, hingga hiburan wayang golek dan pagelaran musik.
“Kami berharap jika masuk 10 besar KEN, wisatawan domestik maupun mancanegara semakin banyak datang dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Hasbi.
Peneliti dari Leiden University Belanda, Jet Bakels, sebagaimana dikutip menilai tradisi Seba memiliki makna kuat dalam menjaga persatuan, mempererat silaturahmi dengan kepala daerah, serta mempertahankan keseimbangan alam.
Menurut dia, masyarakat Badui hingga kini tetap mempertahankan keunikan hidup tanpa listrik, jalan permanen, fasilitas pendidikan modern, layanan kesehatan formal, maupun peralatan elektronik.
Rumah-rumah mereka masih sederhana, terbuat dari bambu, kayu, serta beratap rumbia dan ijuk pohon aren.
“Kami melihat ajaran nenek moyang masyarakat Badui sejak zaman Padjadjaran hingga kini tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga hutan adat agar tidak rusak,” kata Jet Bakels, yang meneliti kebudayaan Badui sejak 1984.***


