Petugas Pembimbing Ibadah Ajak Sesama Jemaah Haji “Sedekah Barcode” untuk Masuk Raudhah di Masjid Nabawi
MADINAH – Raudhah adalah salah satu tempat paling istimewa di dalam Masjid Nabawi di era saat ini.
Raudhah yang dimaknai sebagai ‘taman surga’ memang selalu menjadi tujuan utama bagi umat Islam jika berkunjung ke Masjid Nabawi di Madinah.
Termasuk jemaah haji Indonesia yang ketika menginjakkan kaki di Madinah, semua mengupayakan diri untuk bisa berdoa dan shalat di Raudhah, yang di area itu juga terdapat makam Rosulullah SAW.
Tapi apakah semua jemaah bisa dengan mudah masuk ke area yang dianggap suci itu?
Faktanya, kini untuk bisa mengunjungi Raudhah tidak lagi bebas dan mudah.
Jemaah haji dari seluruh dunia harus mendapatkan izin dari Otoritas Arab Saudi untuk bisa masuk Raudhah, karena kapasitas jemaah yang terus melonjak dari tahun ke tahun.
Ada dua cara untuk bisa mendapatkan izin masuk Raudhah, yakni pertama melalui teknologi atau aplikasi Nusuk di Handphone masing-masing jemaah. Kedua, mendapatkan tasreh melalui Pemerintah penyelenggara ibadah haji.
Namun menurut Koordinator Petugas Pembimbing Ibadah Sektor 5 Daker Madinah, Miftahul Anwar, sebagian jamaah Indonesia mengalami kendala mendapatkan izin masuk Raudhah, karena keterbatasan pengetahuan dan juga teknologi.
‘’Jamaah kita ada yang memilikii telepon genggam, tetapi tidak bisa mendaftar karena gaptek. Ada pula yang tidak membawa teleppon seluler,’’ ungkap Miftahul Anwar kepada Media Center Haji, Minggu (10/5/2026).
Sementara itu untuk tasreh, Pemerintah Arab Saudi memiliki kebijakan yang sulit diprediksi dalam memberikan kuota, sehingga kerap kali jumlahnya sangat terbatas untuk setiap rombongan jemaah.
Karena itu, sebenarnya jemaah yang ingin secara mandiri masuk ke Raudhah lebih memungkinkan dan nyaman jika bisa menggunakan sistem perizinan digital masuk Raudhah lewat aplikasi Nusuk.
Dari aplikasi Nusuk, jemaah akan mendapatkan barcode izin masuk, yang akan dipindah di pintu masuk Raudhah oleh Askar dari Pemerintah Saudi.
Dikatakan Miftahul Anwar, Petugas Bimbad terus berkoordinasi agar semua jamaah yang berada di Madinah bisa mengunjungi Raudhah.
‘’Kami tidak menginginkan dalam satu kamar misalnya, berisi empat orang, tiga orang bisa berkunjung tiga-empat kali, namun satu orang belum sekalipun,” tuturnya.
Petugas Bimbad memberikan edukasi setiap hari kepada jamaah, mulai setelah Shalat Ashar hingga pukul 23.00 waktu Arab Saudi.
Selain memberikan pengetahuan tentang ibadah haji, Bimbad juga mengajak para jemaah untuk mau membantu sesama jemaah lainnya agar bisa masuk ke Raudhah.
“Jemaah kita adalah lansia yang sebagian kesulitan dengan sistem digital. Karena itu, kami membantu mereka untuk bisa ke Raudhah. Bahkan kami menyosialisasikan adanya sedekah barcode,” ujar Miftahul Anwar.
‘Sedekah barcode’ yang dimaksud adalah membagikan barcode izin dari Aplikasi Nusuk kepada jemaah yang belum pernah masuk ke Raudhah.
Jemaah yang melek teknologi bisa mendaftarkan lewat aplikasi Nusuk, setelah mendapatkan barcode disedekahkan kepada orang lain.
“Jadi jemaah tersebut mendaftarkan dengan akun Nusuk, namun tidak dipakai untuk dirinya sendiri. Justru disedekahkan kepada jamaah lain karena dirinya sudah pernah ke Raudhah,” tuturnya.
Atas inisiatif sedekah barcode tersebut, para jemaah memberikan apresiasi kepada petugas.
Muhammah Subhan, jamaah dari kloter 39 Solo atau SOC 39, mengungkapkan sedekah barcode tersebut sangat membantu jemaahnya.
Subhan yang menjadi ketua regu meneruskan pola sedekah barcode kepada jemaah anggota regunya .
Dia sangat bersyukur dengan pola tersebut jemaahnya yang belum mengunjungi Raudhah karena berbagai keterbatasan, akhirnya memiliki solusi.
“Petugas memberikan pelayanan baik, tidak hanya mengedukasi soal kartu Nusuk, bahkan mengantar kami para jemaah hingga ke pintu Raudhah,” ungkap jemaah asal Jepara, Jawa Tengah itu. (*/Red/MCH-2026)

