15 Tahun Bertahan di Gubuk Nyaris Roboh, Kisah Suryadi di Lebak Menanti Uluran Tangan

LEBAK – Di sudut Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, berdiri sebuah gubuk kecil yang nyaris tak layak huni. Di tempat itulah Suryadi (38) bersama istri dan dua anaknya bertahan hidup selama belasan tahun, meski kondisi bangunan kian memprihatinkan.
Rumah berukuran sekitar 3×4 meter itu tampak miring, dengan dinding dari anyaman bambu yang sudah rapuh dan atap bocor di banyak titik. Saat hujan turun, air dengan mudah masuk ke dalam, membuat keluarga ini harus berjibaku agar tetap bisa beristirahat dengan layak.
Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama Suryadi belum mampu memperbaiki tempat tinggalnya. Ia hanya bekerja sebagai buruh tani serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.
“Kadang ada kerja, kadang tidak. Kalau dapat pun paling sekitar Rp25 ribu sehari,” ungkapnya.
Tak hanya persoalan ekonomi, kondisi fisik juga menjadi hambatan besar. Sejak kecil, Suryadi mengalami cedera tulang punggung akibat terjatuh dari pohon.
Dampaknya masih ia rasakan hingga kini, membuatnya tidak bisa bekerja berat seperti kebanyakan buruh lainnya.

Untuk menambah penghasilan, ia sesekali mencari kroto atau telur semut yang kemudian dijual. Namun pekerjaan itu hanya dilakukan saat ada kesempatan, dengan hasil yang juga tidak pasti.
Kondisi rumah yang rapuh membuat rasa khawatir selalu menghantui keluarganya, terutama saat hujan deras disertai angin. Mereka harus bersiap jika sewaktu-waktu bangunan tersebut roboh.
Selama ini, bantuan yang diterima baru sebatas kebutuhan pokok. Sementara kebutuhan utama, yakni perbaikan rumah, belum juga terpenuhi.
Suryadi mengaku telah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan melalui pemerintah desa, namun hingga kini belum ada realisasi yang bisa mengubah kondisi tempat tinggalnya.
Di tengah keterbatasan, ia hanya berharap ada perhatian lebih dari pemerintah maupun pihak lain agar keluarganya bisa memiliki rumah yang lebih aman dan layak.
“Kami hanya ingin rumah yang tidak bocor dan tidak khawatir roboh saat hujan,” ucapnya lirih.
Kisah Suryadi menjadi potret nyata bahwa masih ada warga yang hidup di bawah keterbatasan, menunggu hadirnya solusi agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak dan aman. (*/Sahrul).


