Barisan Pemuda Adat Nusantara Dukung Perjuangan Petani Kendeng Tolak Pabrik Semen

CILEGON – Kabar wafatnya Patmi (48 tahun) mengundang reaksi solidaritas dari berbagai pihak terhadap perjuangan para petani dalam menjaga kelestarian kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Patmi merupakan salah seorang petani perempuan asal Pati yang melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana Negara. Dia mengalami serangan jantung dan meninggal dalam perjalanan dari kantor LBH Jakarta menuju Rumah Sakit St. Carolus, Salemba, Jakarta Pusat pada Selasa (21/3/2017) dini hari.

Banyak elemen kini menyuarakan dukungan sebagai bentuk solidaritas atas perjuangan Petani Kendeng, yang menolak rencana berdirinya Pabrik Semen di wilayah mereka.

Salah satunya adalah Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), dan berikut pernyataan sikapnya;
Setiap perjuangan yang menyelamatkan bumi haruslah kita dukung. Serta wajib pula bagi kita menolak rencana pembangunan yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita, yang mengancam kehidupan generasi sekarang dan mendatang.

Perjuangan Petani Kendeng merupakan perjuangan kehidupan kita. Perjuangan mereka bukan hanya berbicara mengenai penolakan berdirinya Pabrik Semen, akan tetapi perjuangan untuk kehidupan, masa depan bahkan peradaban masyarakat Kendeng.

Selain itu, eksploitasi yang dilakukan perusahaan mungkin saja akan menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat setempat disana. Seperti contoh berkurangnya sumber air untuk masyarakat, rusaknya persawahan atau terganggunya keseimbangan ekosistem di daerah tersebut.

Kita semua mengetahui bahwa tanah, air dan sumber daya alam harus dikelola dengan arif. Karena bumi ini adalah kehidupan kita.

Senin 13 Maret 2017 warga pedesaan di kawasan Pegunungan Kendeng kembali ke Jakarta untuk melakukan aksi protes di depan Istana Negara. Sejumlah perwakilan petani dari Kendeng melakukan aksi di Pasung kedua kakinya dengan menggunakan semen, ini yang kedua kalinya dilakukan setelah mendapatkan janji manis dari Pemerintahan Joko Widodo.

Ks nu

Seperti yang diketahui bahwa aksi pertama pemerintah menemui para petani Kendeng dan berjanji akan membatalkan pembangunan pabrik semen di Rembang. Penolakan berdirinya Pabrik Semen ini diperkuat dengan adanya putusan dari Mahkamah Agung yang membatalkan izin lingkungan.

Hari ini kita semua kehilangan satu pejuang Kartini Kendeng yaitu Ibu Patmi.

Pengalaman perjuangan mereka mengajarkan kita semua khususnya pemuda untuk terus berjuang demi keadilan dan kehidupan. Bertahun – tahun tanpa mengenal lelah, militansi, keteguhan hati, dan yang terpenting ialah ketulusan hati dalam berjuang.

Setelah apa yang terjadi pada masyarakat Kendeng, maka gerakan rakyat harus terus diperkuat dan bergandengan tangan.

Aksi solidaritas dan persatuan gerakan rakyat tentu harus dibuktikan dengan nyata. Karena hanya dengan persatuan, gerakan rakyat kuat dan mampu membongkar sekat – sekat perjuangan rakyat.

Maka dari itu kami dari Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), menyatakan dukungannya terhadap perjuangan petani Kendeng, menolak berdirinya Pabrik Semen di wilayah adat mereka dan tentunya akan ikut bersolidaritas selama kasus ini belum selesai.

Selain itu, saya Jhontoni Tarihoran Ketua Umum BPAN juga mengintruksikan kepada anggota BPAN di wilayah untuk ikut menyuarakan apa yang sedang diperjuangkan oleh para petani Kendeng saat ini.

Selamat Jalan Ibu Patmi.
Ketua Umum BPAN

Jhontoni​ Tarihoran

Cibeber nu