Wisata Anyer

Cerita Jemaah Haji Pasangan Suami Istri; Temukan Visi Berumah Tangga dari Tanah Suci

MADINAH – Di tengah mayoritas jemaah haji Tahun 2026 lanjut usia (lansia), ternyata ada jemaah yang merupakan sepasang suami istri muda asal Jakarta justru mencuri perhatian.

Mutiara Daru Nur Islam, 42, dan Agung Azan Nugroho, 42, datang berhaji bukan hanya untuk menunaikan rukun Islam kelima. Mereka pulang membawa pelajaran baru tentang rumah tangga.

Berangkat bersama Kloter JKS 25, keduanya mengaku diuntungkan karena berhaji di usia yang masih relatif muda.

“Informasi sebelum haji sekarang sudah banyak di media sosial. Itu sangat membantu kami untuk persiapan teknis maupun non-teknis,” kata Mutiara saat ditemui di Hotel Arjwan Al Saada, Madinah.

Bukti nyatanya terlihat di lapangan. Saat fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna, pasangan ini sudah siap dengan perlengkapan yang luput dari banyak jemaah senior, seperti kantong urine.

Agung, yang dipercaya menjadi ketua regu, juga merasakan manfaatnya. Mayoritas anggota regunya berusia di atas 60 tahun, sehingga kehadiran pasangan muda ini sangat membantu.

“Masalah logistik jadi lebih cepat kalau kami berdua yang turun. Apalagi saat Armuzna, banyak permintaan jemaah yang berbeda-beda. Kami bisa tektokan cepat untuk menjaga teman-teman,” ujar karyawan SKK Migas itu.

Namun, yang paling berkesan bagi mereka bukanlah urusan logistik. Bagi Mutiara, haji menjadi momen quality time yang langka.

Sebagai pekerja di Jakarta, waktu bersama suami memang serba terbatas.

“Di sini kita jadi usahakan untuk bisa bersama-sama terus,” ujarnya.

Agung mengamini. Ia menyebut tanah suci memaksa dirinya untuk menundukkan ego.

“Sebelum ini ego saya tinggi, istri juga. Di sini nggak bisa. Ini jadi waktu untuk belajar berdamai dengan keadaan,” katanya.

Lulusan Psikologi UGM itu juga melihat haji sebagai ibadah yang efeknya harus berlanjut ke rumah.

“Hikmahnya bukan cuma ritual. Setelah haji, hubungan dengan pasangan harus lebih baik. Kami jadi banyak diskusi soal visi keluarga,” tutur Mutiara.

Diskusi itu bahkan mengubah rencana tahunan mereka. Apabila dahulu setiap tahun targetnya liburan keluarga, sekarang mereka mulai memikirkan untuk ibadah bareng bersama-sama.

“Sekarang mikirnya, bagaimana bisa nabung untuk umrah bareng keluarga,” lanjutnya.

Agung juga melakukan kontemplasi diri. Kebiasaannya memutuskan sesuatu tanpa melibatkan istri mulai ia ubah.

“Dulu penyampaian saya sering kurang pas walau maksudnya baik. Di sini saya jadi sadar itu,” ungkapnya.

Bagi Mutiara, haji menciptakan kesadaran yang memaksa untuk menjaga sikap.

“Supaya hal-hal yang bisa menimbulkan perselisihan bisa kita minimalisir,” pungkasnya.

Kisah Mutiara dan Agung menjadi pengingat bahwa haji tidak hanya mengubah status menjadi haji atau hajjah, tetapi juga bisa menjadi titik balik untuk memperbaiki hubungan paling dasar, yaitu dengan pasangan. (*/Red/MCH-2026)

Hari Narkotika DPRD Banten
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien