Destinasi di Kota Thaif; Dari Coretan Dinding Hingga Napak Tilas Sejarah Islam
THAIF — Nama-nama itu tertulis di berbagai sudut Kota Thaif. Ada yang tergores di dinding toilet, pagar, hingga tembok sekitar makam Abdullah bin Abbas.
Muh Sholeh, Johar, Agus, Nuraini, Cut Marlina, hingga tulisan “Sari & Amir”, menjadi bagian dari jejak yang ditinggalkan para pengunjung.
Nama-nama tersebut tidak ditulis pada waktu yang sama. Sebagian tampak sudah lama memudar, sementara lainnya terlihat masih baru.
Bukan hanya nama jamaah asal Indonesia, tetapi juga dari berbagai negara lain seperti Bangladesh, India, dan Pakistan.
Sulit mengetahui alasan pasti mengapa mereka meninggalkan tulisan itu.
Mungkin sekadar penanda bahwa mereka pernah datang ke tempat tersebut.
Mungkin pula menjadi bentuk doa atau harapan agar jejak perjalanan spiritual mereka tetap dikenang, meski oleh orang yang tak pernah mereka kenal.
Coretan-coretan itu menjadi gambaran sederhana tentang hubungan emosional para jamaah dengan Thaif, sebuah kota pegunungan yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Islam.
Pada musim haji 1447 Hijriyah atau 2026, rombongan jamaah Indonesia dari Jakarta, Solo, dan Lombok tampak mengunjungi kota tersebut pada Rabu (10/6/2026). Bersama mereka hadir pula rombongan dari India, Pakistan, Turki, hingga sejumlah negara Afrika.
Sebagian besar datang untuk berziarah ke makam Abdullah bin Abbas, sahabat sekaligus sepupu Nabi Muhammad SAW yang dimakamkan di kota itu.
Makam tersebut berada di dalam kompleks yang tertutup rapat oleh tembok tinggi sekitar lima meter. Para peziarah hanya dapat berdiri di luar pagar sambil memanjatkan doa dan tawasul.
Fenomena ini bukan hal baru. Dalam laporan media NU Online tahun 2023 disebutkan, sejumlah jamaah bahkan sempat menaiki pundak sesama jamaah agar dapat melihat bagian dalam area makam.
“Posisi kami hanya di luar pagar sambil bertawasul kepada sahabat yang belajar langsung kepada Rasulullah. Untuk melihat secara langsung atau mengintip dari pagar yang berwarna cokelat itu, jamaah bisa memanfaatkan bahu jamaah umrah lainnya untuk dijadikan pijakan,” tulis laporan tersebut.
Thaif Bukan Hanya Tentang Ziarah
Kota yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Makkah itu juga menjadi tujuan wisata favorit jamaah haji dan umrah.
Berada di ketinggian sekitar 1.520 meter di atas permukaan laut, Thaif menawarkan udara yang jauh lebih sejuk dibandingkan Makkah.
Di kawasan Al-Hada, jamaah menikmati pemandangan pegunungan batu yang menjulang tinggi. Kereta gantung membawa pengunjung melintasi lembah dan tebing curam, memperlihatkan jalan berkelok yang dipenuhi kendaraan yang naik turun gunung.
Dari atas kereta gantung, lanskap Thaif tampak berbeda dari kota-kota lain di Arab Saudi.
Pepohonan hijau, taman kota, serta udara yang relatif dingin membuat kawasan tersebut menjadi tempat rekreasi favorit warga setempat.
Sore itu, keluarga-keluarga Arab terlihat bersantai di taman, sementara anak-anak bermain di area yang telah disediakan pemerintah kota.
Menurut sejarawan Philip K. Hitti dalam History of the Arabs, sejak masa lampau Thaif memang dikenal sebagai tempat peristirahatan kaum bangsawan Makkah ketika musim panas tiba.
Iklimnya yang lebih sejuk menjadikannya salah satu kota paling nyaman di wilayah Hijaz.
Namun di balik kesejukannya saat ini, Thaif menyimpan sejarah yang tidak selalu ramah terhadap Islam.
Jauh sebelum Islam datang, Thaif merupakan pusat penyembahan berhala Al-Lat, salah satu berhala terbesar bangsa Arab yang dihormati oleh kabilah Thaqif.
Menurut Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad SAW, ketika pasukan gajah pimpinan Abraha bergerak menuju Makkah untuk menghancurkan Ka’bah, penduduk Thaif justru membantu menunjukkan jalan kepada pasukan tersebut agar kuil Al-Lat mereka tidak diganggu.
Sikap itu menunjukkan betapa kuatnya kedudukan berhala dalam kehidupan masyarakat Thaif saat itu.
Penolakan terhadap Islam mencapai puncaknya pada tahun kesepuluh kenabian atau 619 M, yang dikenal dalam sejarah sebagai Amul Huzn atau Tahun Duka Cita.
Pada tahun itu Nabi Muhammad kehilangan dua sosok terdekat sekaligus pelindung utama beliau, yakni Abu Talib dan Khadijah.
Setelah kehilangan keduanya, tekanan dan intimidasi dari kaum Quraisy semakin meningkat. Dalam kondisi tersebut Nabi Muhammad bersama Zaid bin Haritsah pergi ke Thaif untuk mencari dukungan dari kabilah Thaqif. Harapan itu ternyata berakhir pahit.
Para pemimpin Thaqif menolak dakwah Nabi dan menghasut masyarakat untuk mengusir beliau. Anak-anak dan orang-orang yang mengikuti mereka melempari Nabi dengan batu hingga tubuh beliau terluka dan berdarah.
Peristiwa itu menjadi salah satu episode paling menyedihkan dalam perjalanan dakwah Islam.
Dalam sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah, Nabi kemudian berlindung dan memanjatkan doa yang terkenal dalam sejarah Islam.
Doa itu berisi pengaduan atas kelemahan diri kepada Allah sekaligus keteguhan untuk tetap melanjutkan perjuangan selama Allah tidak murka kepadanya. Meski pernah menjadi kota penolakan, Thaif pada akhirnya menerima Islam.
Setelah ekspedisi Tabuk, posisi Thaif semakin terisolasi karena kabilah-kabilah di sekitarnya telah lebih dahulu memeluk Islam. Delegasi mereka kemudian datang ke Madinah untuk menyatakan kesediaan masuk Islam.
Awalnya mereka mengajukan beberapa syarat, termasuk meminta agar berhala Al-Lat tetap dipertahankan dan dibebaskan dari kewajiban salat. Nabi Muhammad menolak syarat tersebut.
Menurut Haekal, Nabi menegaskan bahwa tidak ada kebaikan dalam agama yang tidak disertai salat.
Akhirnya masyarakat Thaif menerima Islam sepenuhnya. Berhala Al-Lat dihancurkan dan kota yang dahulu menolak dakwah Nabi berubah menjadi salah satu pusat perkembangan Islam di Jazirah Arab.
*Mengenang Sang Penafsir Al-Quran*
Salah satu tujuan utama jamaah Indonesia di Thaif adalah makam Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas.
Ia merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai ulama besar dan ahli tafsir Al-Quran pada masa awal Islam.
Meskipun terpaut usia sekitar 50 tahun dengan Nabi, Ibnu Abbas memiliki kedudukan istimewa. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Nafis, menyebut Ibnu Abbas sebagai sahabat yang secara langsung didoakan Nabi Muhammad.
Ya Allah, jadikan Abdullah bin Abbas orang yang fakih dalam agama dan memahami tafsir Al-Quran,” ujar KH Cholil Nafis di Makkah, Jumat (5/6).
Doa tersebut seolah menjadi kenyataan. Ibnu Abbas kemudian dikenal sebagai salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Namanya diabadikan dalam karya tafsir klasik yang hingga kini masih menjadi rujukan para ulama dan penuntut ilmu.
Ketika Nabi Muhammad wafat, usia Ibnu Abbas baru sekitar 13 tahun. Namun kedekatannya dengan keluarga Rasulullah membuatnya memperoleh banyak pengetahuan langsung dari sumber-sumber utama Islam.
Kini, lebih dari 14 abad setelah wafatnya, makamnya di Thaif masih menjadi tujuan ribuan peziarah dari berbagai penjuru dunia.
Di luar pagar makam itu, nama-nama jamaah terus bertambah dari waktu ke waktu. Sebagian mungkin akan memudar dimakan usia, sebagian lainnya mungkin akan dihapus.
Namun seperti sejarah panjang Thaif sendiri, jejak perjalanan manusia sering kali tidak hanya tersimpan di batu atau tembok, melainkan juga dalam ingatan dan keyakinan mereka yang pernah datang, berdoa, lalu pulang membawa cerita.***

